Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Austin


__ADS_3

Paginya Austin baru saja kembali pulang, dia tidur di samping Sandra setelah membersihkan dirinya, dirinya memeluk Sandra dari belakang, bahkan Austin juga mencium tengkuk Sandra namun hanya berlangsung sebentar dan Austin langsung memejamkan matanya.


“Good nigth baby,” ucapnya dengan mata yang sudah terpejam.


Ya, Austin kembali pukul 03.00kst dan itu sebentar lagi pagi, dia terlalu larut dengan permainannya bersama dengan wanita itu, bahkan dia juga harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar wanita itu. Seharusnya Austin tidak melakukan itu karena itu hanya akan melukai perasaan Sandra nantinya akan tetapi semuanya sudah terlambat dan pertengkaran semalam yang memulai adalah Sandra.


Pukul 12.30kst Austin baru saja terbangun dan saat melihat ke samping dirinya tidak melihat Sandra dan bisa di pastikan memang Sandra tidak ada di kamarnya. Austin meregangkan tubuhnya dan berdiam sejenak agar nyawanya kembali, setelah itu Austin beranjak dari ranjang langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Austin turun ke bawah untuk mencari Sandra, dia tidak ingin jika nantinya Sandra sampai kabur darinya karena bagaimana juga Sandra akan tetap bersamanya. “ajumma, apa kamu melihat Sandra?” tanyaku pada salah satu pelayan.


“Ya, tuan. Saya melihat nona, dia sedang berada di halaman belakanh, nona sedang menanam bunga kesukaannya,” ucap ajumma.


Aku hanya bisa mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, aku segera menuju halaman belakang, aku berjalan ke arah taman dan ya, aku bisa melihat Sandra, dia baru saja selesai menanam bunga dan dia juga menyiram bunga yang baru saja dia tanam.

__ADS_1


“Apakah ini hobimu? Apa ini bunga kesukaan kamu?” tanyaku.


Sandra menoleh ke arahku dan tersenyum, “Ya, dulu saat aku masih tinggal bersama orang tuaku dan sebelum mereka meninggal aku sering melakukannya.”


“Baiklah, besok saat aku pulang dari kantor aku akan membelikan kamu banyak bunga dan bunga seperti yang saat ini kamu tanam,” ucapku tersenyum.


“Aniyo, aku tidak suka merepotkan orang lain,” ucap Sandra.


“Ck! Aku ini suami kamu San, dan tolong kamu jangan buat masalah lagi,” ucapku, bahkan aku juga memegang lengan Sandra agar dia tidak pergi begitu saja sebelum menyelesaikan masalahnya.


Aku langsung berlari dan berjalan di belakang Sandra, jujur saja aku tidak ingin marah dengan Sandra setelah pertengkaranku dengan Sandra semalam, bahkan aku ingin memperbaiki hubungan ini agar lebih baik.


“Apa kamu suka jjanjangmyeong dan jjampong atau mungkin aku bisa menambahkan masakan yang lainnya,” ucap Sandra yang sudah berada di depan kulkas.

__ADS_1


“Apa pun yang kamu masak maka aku menyukainya baby,” ucap Austin.


Austin saat ini sedang duduk sambil memperhatikan Sandra memasak, dimana ini pertama kalinya Austin melihat Sandra memasak di dapur. Karena biasanya dia melihat Sandra sebagai wanita karir, bahkan dia juga sering melihat Sandra yang makan di restoran mau pun delivery. Namun dia juga tidak pernah menyangka jika sebenarnya Sandra juga sangat jago memasak.


Setelah selesai Sandra, kami menikmati makan siang bersama walau sebenarnya ini tidak bisa di sebut makan siang karena hari sudah semakin sore saja, aku juga sangat kaget dengan masakan Sandra, dimana ini pertama kalinya dia merasakan masakan yang sangat pas di lidahnya dan mungkin seterusnya Austin akan meminta Sandra untuk membuatkannya bekal saat pergi ke kantor. Bahkan aku sampai menghabiskan semua masakan yang di masak oleh Sandra, dan Sandra yanh sedari tadi hanya terbengong dan sesekali tersenyum namun aku dapat melihat itu tanpa sepengetahuan Sandra.


Selesai makan aku membantu Sandra untuk membereskan semuanya, ini adalah pertama kali aku mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan menata di tempatnya karena sebelumnya ini adalah tugas pelayan di rumah ini. Namun tetap saja aku harus berhati-hati menjaga Sandra, dimana dia sedang mengandung anakku, aku tidak ingin jika nantinya terjadi apa-apa bahkan aku juga sudah membuat jadwal dengan dokter kandungan nantinya untuk memeriksa pertumbuhan janin yang ada di perut Sandra.


“Terima kasih untuk masakannya dan makannya, aku sangat menyukainya,” ucapku, kami sedang duduk di ruang keluarga saat inj.


“Ya, sama-sama. Bahkan aku juga senang karena semua masakan yang aku buat habis,” ucap Sandra tanpa menoleh ke arahku.


“Baby, apa kamu mau membuatkan aku bekal untuk aku bawa ke kantor?” tanyaku pelan.

__ADS_1


Saat itu juga Sandra langsung menoleh ke arahku, dia merasa tidak percaya dengan barusan apa yang aku katakan. “Apa aku tidak salah mendengarkannya?” tanyanya.


Aku hanya menganggukan kepalaku dan tersenyum, “Tentu, aku sangat ingin.”


__ADS_2