
Sekitat pukul 10.00 pagi Alena terbangun dari tidurnya ia mengerjap-ngerjapkan matanya ia melihat suasana di kamarnya akan tetapi beda ini bukan kamar Apartemennya tapi ini di mana Alena merasa bingung.
Saat Alena menoleh ke samping ada Devin yang masih tertidur dengan telanjang dada dan hanya menggunakan celana boxer.
“Aaaaaaaaaaa,” teriak Alena dengan sangat kencang sehingga membuat Devin terbangun karena suara teriakan Alena yang bisa bikin budeg kuping siapa saja yang mendengarnya.
“Ada apa sih kenapa teriak-teriak pagi-pagi,” ucap Devin sambil menguap.
“Kenapa aku bisa di sini,” ucap Alena dengan sangat panik ia juga mengecek baju di tubuhnya namun sayangnya tubuhnya yang di tutupi selimut telanjang dan tidak memakai apa-apa.
“Devin apa yang kamu lakukan sama aku?” tanya Alena yang sudah mengeluarkan air matanya.
Devin memeluk Alena dan berusaha menenangkan Alena, namun Alena masih menangis dan memukul dada Devin.
“Maafin aku sayang, semalam aku mabuk berat dan saat aku pulang kamu tidur di kamar aku dan aku memaksa kamu untuk berhubungan, maafkan aku sayang,” ucap Devin dengan tulus meminta maaf kepada Alena, Devin semakin erat memeluk Alena yang masih tersedu-sedu.
“Kamu jahat Devin, kenapa sih kamu tega lakuin ini kembali kepadaku,” ucap Alena dengan sesengukan.
“Maafkan aku sayang,” ucap Devin yang masih menyesali perbuatannya semalam. Alena pun langsung pergi ke kamar mandi dengan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai terlebih dahulu.
“Maafkan aku sayang, aku janji bakal tanggung jawab dengan apa yang telah aku perbuat,” lirik Devin
Devin langsung bangun dan pergi dari kamarnya untuk segera membersihkan badannya di kamar sebelah.
Alena sudah selesai dengan acara mandinya ia mengeringkan rambutnya dengan handuk, pintu pun terbuKa dan menampakkan Stevani mama Devin. Stevani terkejut karena Alena masih di kamar Devin padahal Devin kemarin bilang kalau malam akan mengantarkan Alena pulang.
“Alena kamu masih di sini dan Devin mana?” tanya Stevani
__ADS_1
“Al ... Alena nggaj tahu tante tadi Devin di sini tapi saat aku pergi mandi dan saat selesai mandi Devin sudah nggak ada,” ucap Alena dengan sangat gugup.
“Apa kalian tidur satu ranjang?” tanya Stevani dengan penuh selidik.
“Nggak kok ma Devin tadi malam tidur di kamar sebelah, Devin semalam nggak bisa antar Alena pulang karena Devin mabuk berat saat Devin masuk kamar Alena juga sudah tertidur,” ucap Devin yang baru saja masuk ke dalam kamar dan menjelaskannya panjang lebar. Untung saja mamanya percaya saja dan nggak akan banyak tanya lagi.
“Awas saja kamu Dev apa-apain Alena mama nggak akan maafin kamu mama nggak mau Alena tersakiti Cuma gara-gara kamu,” ucap Stevani dengan ketus.
“Maaf tante Alena sudah buat keributan pagi-pagi di rumah tante,” ucap Alena
Stevani pun mendekati Alena dan memeluk Alena dengan erat. “ Nggak kok sayang ini bukan salah kamu ini salah Devin yang kadang nggak tahu aturan,” ucap Stevani lalu Stevani mengajak Alena untuk keluar kamar dan mengajak Alena untuk sarapan.
Dasar mama ini selalu saja menyalahkan Devin sebenarnya anaknya itu siapa sih. Devin pun mengikuti mamanya dan Alena di belakang menuju ruang makan. Di sana sudah ada papa Devin yang sedang minum kopi sambil memegang ipadnya.
“Selamat pagi pa,” ucap Devin sambil menggeserkan kursi untuk Alena.
“Kenalin pa ini Alena pacar Devin,” ucap Devin
“Pagi om,” ucap Alena sambil menyalami papa Devin
“Pagi juga Alena,” ucap Abraham
Alena dan Devin duduk berdampingan mereka menikmati sarapan dengan hening yang terdengar hanya suara alat makan saja.
Setelah selesai makan Alena membantu Stevani untuk beresin semua bekas pirin dan sendok tadi untuk di cuci sedangkan Devin dan Papanya sedang berada di halaman belakang.
Stevani dan Alena menyusul dengan membawa nampan yang berisi air minum dingin serta makanan ringan untuk teman santai mengobrol.
__ADS_1
“Kalian sudah berapa lama berpacaran?” tanya Abraham
“Belum lama kok pa,” ucap Devin
“Kalau bisa sih nggak usah pacaran lama-lama cepet nikah saja, lagian mama udah nggak sabar pengen punya cucu,” sambung Stevani
“Kalau Devin sih maunya juga begitu ma tapi Alena juga belum siap. Devin juga belum bertemu sama orang tua Alena,” ucap Devin
“Ya makanya Devin kamu segera ajak Alena balik ke Korea biar cepat ketemu orang tuanya,” ucap Stevani
“Iya nanti kalau Devin nggak lagi sibuk sama kerjaan ma,” ucap Devin
Mereka berempat asik mengobrol kesana kemari entah apa yang di bahas ada saja. Sampai akhirnya Alena mengajak Devin untuk mengantarkannya pulang.
Devin mengantarkan Alena pulang sampai Apartemennya ia juga membawa banyak belanjaannya kemarin bersama mamanya ternyata mamanya juga membelikan baju dan yan lainnya untuk Alena dan ini sangat banyak banget membuat Devin kesusahan membawanya.
Alena yang tahu Devin kesusahan pun membantunya, Devin istirahat sebentar lalu ia berpamitan kepada Alena dia harus segera pulang karena harus menyelesaikan pekerjaannya.
Alena masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, ia masih teringat jelas pergulatannya semalam dengan Devin dan bahkan mereka melakukannya berkali-kali tanpa memakai pengaman.
Alena sangat takut bagaimana jika dirinya hamil anak Devin, sungguh Alena tak mau itu terjadi bahkan dia saja sangat membenci Devin.
Di sepanjang perjalanan pulang Devin tersenyum sendiri entah apa yang di pikirannya yang pasti ia akan segera mengajak Alena untuk ke Korea dan menemui ke dua orang tua Alena dan segera melamarnya.
Devin tidak mau kecolongan apa lagi Alena menikah dengan laki-laki lain Devin tidak akan sanggup melihatnya. Devin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hari ini benar-benar sangat bahagia bisa menghabiskan waktunya dengan keluarganya dan Alena.
Orang tua Devin juga menerima Alena dengan baik bahkan mamanya juga menyuruh Devin untuk segera menikah cepat.
__ADS_1