
Seperti biasa Devin selalu meluangkan waktunya untuk bersama dengan istrinya, dimana sedang hamil besar. Perut Alena yang sudah membesar dan sudah menginjak 5 bulan membuatnya selalu waspada karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak yang berada di dalam kandungan Alena. Malam ini Devin membuatkan makanan kesukaan Alena, karena dia meminta untuk di buatkan, lelah? Iya memang, namun Devin tidak mau menunjukkan rasa lelahnya karena dia yakin jika Alena juga sangat lelah apa lagi membawa badanya bersama dengan anak yang berada di dalam perutnya.
“Honey, mau aku buatkan susunya sekalian?” tanya Devin.
Alena hanya mengangguk dan segera memakan masakan Devin, kehamilannya membuatnya makan banyak, padahal kalau di rasa dia juga sudah ikut malam tadi namun kini dia cepat merasa lapar. Dengan di temani Devin di sampingnya, Alena sesekali juga menyuapinya suaminya yang sangat dia cintai.
“Habis ini kita langsung istirahat ya,” ajak Devin, dan lagi-lagi Alena hanya mengangguk.
Kehidupan yang mereka jalani mungkin tidak semudah yang banyak orang lihat, dimana Devin harus berjuang demi mendapatkan Alena dan itu sangatlah lama dan bertahun-tahun. Sehingga Devin juga sangat membatasi hubungan dengan wanita, entah kenapa dia merasa tidak nyaman sama sekali. Maka saat itu, dimana Sandra berusaha menggodanya dia langsung bertindak, kalau tidak mungkin hubungannya dengan Alena akan kembali retak.
“Sayang,” panggil Alena, saat ini mereka sudah berbaring di atas ranjang. Dimana Devin memeluk erat Alena, sambil mengusap-usap lembut perut Alena.
“Hm, kenapa honey?” tanya Devin.
“Kamu sudah mendapatkan pengganti Sandra?” tanya Alena balik.
__ADS_1
“Belum honey, sudahlah kamu tidak usah memikirkan tentang itu, lagi pula aku masih bisa menghandlenya. Lagi pula Evan juga selalu membantuku,” ucap Devin.
Alena pun membalikkan badanya, dia menatap wajah tampan Devin yang masih sama seperti dulu saat Alena menjadi sekretarisnya dulu. Wajah tampan yang tidak pernah pudar, bahkan kini otot-otot Devin yang semakin terlihat, karena belakangan ini Devin juga menyempatkan diri untuk olahraga walau Alena tahu jika Devin adalah orang yang sibuk.
“Sayang, bagaimana kalau aku masukkan Katty saja sebagai sekretaris kamu dan aku yakin dia juga bisa,” ucap Alena.
“Boleh sayang, biar nanti Evan yang akan mengajarkan semuanya, aku rasa dia juga sangat cekatan dalam bekerja walau aku tahu Katty belum pernah bekerja sebagai sekretaris,” ucap Devin, dan Alena mengangguk setuju. Karena Alena tahu jika Katty tidak akan kembali ke negara asalnya, dia ingin menetap di Seoul, akan tetapi Jenny dan Lionel mereka kembali ke negara asal Lionel karena memang ke sini hanya untuk liburan saja dan di sana Jenny juga harus bekerja, dan bisa di pastikan jika sang kekasih tidak ingin kembali tanpa Jenny.
Hingga akhirnya Alena tertidur lebih dulu, berbeda dengan Devin yang saat ini matanya belum terpejam sama sekali, dia melepaskan pelukannya dengan sangat hati-hati agar Alena tidak terbangun karenanya, Devin beranjak dari ranjang dan berjalan menuju balkon, Devin juga membawa rokok beserta alkohol dimana Devin selalu memakainya saat dia sedang merasa tidak baik-baik saja. Asap rokok mengepul di udara, dimana malam ini yang begitu dingin, mungkin karena sebentar lagi salju juga akan turun.
Pagi harinya Alena bangun lebih dulu, dia segera beranjak dari ranjanya dan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan gosok gigi. Alena juga akan menyiapkan sarapan pagi untuk Devin, walau sebenarnya Devin melarang Alena untuk tidak pergi ke dapur. Akan tetapi Alena tidak mengubrisnya, lagi pula dia juga akan hati-hati, dia hanya ingin menyiapkan sarapan pagi saja untuk mereka sarapa bersama. Saat sampai di dapur Alena melihat Alice yang sudah berada di dapur, dimana Alice menyiapkan semua bahan untuk dimasak untuk sarapan pagi.
“Pagi Alice,” ucap Alena.
“Pagi juga eonie, kenapa eonie ke dapur? Bagaimana nanti jika oppa marah,” ucap Alice, akan tetapi Alena hanya tersenyum.
__ADS_1
Alena segera membantu Alice apa yang akan dimasak pagi ini, dia juga berkata, “Sudahlah tidak apa, kamu tidak perlu khawatir Alice karena eonie bisa mengatasi semuanya.”
Selesai menyiapkan semuanya, Alena langsung bergegas untuk naik ke atas dan membangunkan Devin, dia tidak mau jika Devin selalu datang ke kantor telat karena bagaimana juga Devin adalah seorang pimpinan dan harus menunjukkan sikap kedisplinannya. Alena dengan suara pelannya membangunkan Devin, Alena juga mengusap lengan Devin pelan agar dia segera bangun.
“Sayang, ayo cepat bangun, ini sudah pagi,” ucap Alena.
Akan tetapi yang Alena dengar hanya deheman saja yang keluar dari mulut Devin, bahkan mata Devin juga masih terpejam dan belum terbuka. Alena dengan sabar masih membangunkan Devin dengan segala cara sampai Alena mencium bibir Devin dan mengigitnya dengan pelan dan saat itu juga Devin terbangun.
“Arrghh! Sakit honey!” teriak Devin.
Alena hanya tersenyum, lalu menarik lengan Devin agar segera terbangun. “Habisnya kamu enggak bangun, sudah cepetan mandi, aku juga sudah siapin sarapa pagi untukmu,” ucap Alena.
“Jangan bilang ka_____.”
Belum selesai Devin bicara Alena sudah kembali mencium bibir Devin, bahkan dia juga mengalungkan tangannya ke leher Devin, begitu juga dengan Devin yang kini sudah memeluk erat tubuh Alena sehingga tidak ada jarak di antara mereka, dimana ciuman mereka yang saat ini semakin panas dan penuh gairah.
__ADS_1