Perjalanan Cinta Alena

Perjalanan Cinta Alena
Alice dan Evan


__ADS_3

Evan mengajak Alice untuk jalan-jalan mencari udara malam hari di Busan, bagi keduanya hari ini hari yang paling sangat indah dimana mereka bisa menghabiskan waktu bersama selama satu minggu, karena pada hari biasanya waktu mereka terhalang karena pekerjaan. Mereka masih ingin berpacaran dan belum memikirkan untuk ke jenjang pernikahan. Evan menggandeng tangan Alice dengan erat, udara malam ini kebetulan dingin dan beruntung saja mereka memakai baju tebal.


“Baby,” panggil Evan.


Saat itu juga Alice menoleh ke arah Evan, tentu saja dengan senyum Alice yang membuatnya semakin jatuh cinta dengan Alice. Ya, senyum Alice yang begitu membuatnya semakin cantik dan menggemaskan bagi Evan.


“Ya, kenapa?” tanya Alice.


“Aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersama denganmu, apa lagi satu minggu,” ucap Evan.


Begitu juga dengan Alice yang menganggukan kepalanya dan berkata, “Ya, dan aku sangat berterima kasih pada oppa karena mengajak kami liburan.”


“Aku rasa oppa kamu sedang kemasukan hantu sehingga dia berpikiran untuk mengajak kita liburan,” ucap Evan.


Saat itu juga Alice langsung melotot padanya, dan Evan hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Hingga akhirnya Alice menepuk lengan Evan dan saat itu juga Evan berhenti tertawa.


“Sttts, jangan begitu. Dia itu tuan kamu, selain itu dia juga oppa aku walau bukan saudara kandung tapi aku sudah menganggap mereka sebagai keluargaku,” ucap Alice.


“Hm, bagaimana juga aku juga sangat berterima kasih pada Devin, karena dia juga banyak membantuku sehingga aku bisa menjadi seperti ini,” ucap Evan.


Evan mengajak Alice berjalan di pinggiran pantai, dengan sesekali hembusan angin malam menerpa mereka. Karena hari belum terlalu larut malam maka masih ada banyak orang di tepi pantai entah sedang bersama dengan pacar atau pun keluarga dan sahabat, mereka sangat terlihat bahagia. Bahkan sesekali mereka juga melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman.


“Baby, ayo kita menikah,” ajak Evan dengan tiba-tiba.


“Why? Bukankah kita sudah sepakat untuk menundanya beberapa tahun,” ucap Alice yang sedikit terkejut, sebenarnya dia juga tidak masalah menikah dengan Evan cepat tapi dia hanya ingin memastikan jika apa yang Evan bicarakan barusan dari hati bukan karena paksaan atau melihat orang lain.

__ADS_1


“Apa kamu keberatan?” tanya balik Evan.


Alice menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan berkata, “T-tentu s-saja tidak, bukan maksud aku begitu Van, tapi aku hanya ingin memastikan saja,” ucap Alice.


Evan langsung menarik tubuh Alice untuk di peluknya dengan erat. “Tentu saja aku sangat serius baby, dan lupakan saja kesepakatan itu. Aku hanya ingin segera menikah denganmu dan memiliki anak-anak yang lucu,” ucap Evan.


“Benarkah? Kamu sangat tidak romantis Evan,” ledek Alice, namun Evan hanya tertawa lalu melepaskan pelukannya dan menatap Alice sejenak dan mereka pun berciuman di tempat umun namun itu sudah menjadi hal wajar.


Karena hari sudah semakin larut malam Evan mengajak Alice untuk segera kembali ke hotel, dirinya tidak mau melihat Alice kedinginan karena semakin malam udaranya semakin bertambah dingin saja.


Sampai di lobby mereka bertemu dengan Devin yang baru saja masuk ke dalam lift dan berkata, “Kalian dari mana?” tanya Devin.


“Habis jalan-jalan oppa, oppa sendiri dari mana?” tanya Alice.


“Kenapa tidak mengajakku,” ucap Evan.


Devin menghembuskan nafas panjangnya, “karena tidak terlalu penting Evan, dia hanya alasan saja hanya ingin bertemu denganku. Oh, iya. Nanti setelah liburan selesai kamu batalkan kontrak kerja kita dengan PT. Allona,” ucap Devin.


Saat itu juga Evan langsung mengiyakan, memang sejak beberapa waktu yang lalu saat Devin menyetujui kerjasama dengan PT itu, sang pemiliknya wanita cantik dan Evan rasa jika wanita itu sangat tertarik dengan Devin sehingga malam-malam begini mengajak bertemu.


Sampai di atas mereka pun berpisah dan masuk ke dalam kamar masing-masing, dan Evan langsung menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil lebih dulu. Alice merebahkan badannya di atas ranjang, dia memejamkan matanya hingga akhirnya tertidur, saat Evan keluar dari kamar mandi melihat Alice yang sudah tertidur pulas pun menyelimuti Alice, tidak lupa mengecup kening Alice dan mengucapkan selamat malam. Evan juga ikut tidur di samping Alice, lalu dia juga memejamkan matanya, namun tiba-tiba saja hpnya berbunyi sehingga mengurungkan niatnya untuk tidur, dia langsung meraih hpnya dan melihat Katty yang meneleponnya.


“Ya, hallo,” ucap Evan, sambil beranjak dari ranjang, dia tidak mau mengganggu tidur Alice dan lebih baik dia sedikit menjauh.


“Van, maaf malam-malam mengganggu tidur kamu, aku ingin meminta bantuan kamu,” ucap Katty dari seberang telepon.

__ADS_1


“Bantuan apa Katty?” tanya balik Evan.


Di sebrang sana Evan dapat mendengar Katty menghela nafas panjang dan berkata, “Aku tidak ingin kembali ke asalku, aku ingin tinggal di Seoul, apa kamu bisa mencarikan aku pekerjaan karena aku sangat membutuhkannya,” ucap Katty.


“Aku kira kenapa, baiklah aku akan mengatur semuanya, jika sudah tidak ada yang penting maka aku akan menutup teleponnya,” ucap Evan, dan hanya deheman yang di dengar oleh Evan, maka saat itu juga Evan langsung menutup telepon dari Katty, dia kembali meletakkan hpnya dan tidur kembali di samping Alice.


Pagi harinya Alice bangun lebih dulu, dia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi, namun baru saja masuk sudah ada Evan di belakangnya, dimana Evan memeluknya dari belakang.


“Good morning baby,” ucap Evan, dia mengecup pipi Alice.


“Morning too sayang,” ucapnya tersenyum.


“Baby, aku ingin kamu dan aku harap kamu tidak menolaknya,” ucap Evan, dan saat itu juga Evan langsung bertindak tanpa menunggu persetujuan dari Alice. Permainan panas di antara mereka pun terjadi di dalam kamar mandi, ******* yang memenuhi ruangan kamar mandi membuat kedua insan yang saling mengejar kenikmatan.


“Hm, ssttsh.”


“Kenapa kamu begitu seksi baby,” ucap Evan, sesekali mencium wajah Alice.


Namun Alice tidak menjawab perkataan Evan, dia sudah terbuai dengan sentuhan Evan dan mungkin sebentar lagi dia akan keluar, dan tiba-tiba tubuhnya bergetar begitu hebat dan dia juga menjerit dengan keras, saat itu juga Evan langsung mempercepat permainannya dan tidak memberikan Alice bertambah mendesah kencang, sampai akhirnya Evan mengeluarkan cairan hangat itu di dalam rahim Alice.


Setelah itu mereka membersihkan badan mereka, dan mereka segera turun ke bawah untuk menikmati sarapan bersama dengan yang lainnya.


“Eonnie, kenapa lama banget turunnya?” tanya Kaendra yang penasaran.


“Iya, tadi Eonnie sama oppa kesiangan bangunnya,” ucap Alice bohong, dan tentu saja baik Alena dan Devin tidak percaya dengan perkataan Alice mereka tahu dan beruntung saja Kaendra tidak banyak tanya dan segera menikmati sarapan paginya.

__ADS_1


__ADS_2