
Kini aku bersama dengan Alena kembali ke villa, kami pagi-pagi sudah kembali ke villa yang satunya dimana di sini ada Kaendra, Alice, dan Evan. Aku memang sengaja menyuruh Evan untuk datang ke sini untuk berjaga-jaga jika Kaendra dan Alice kenapa-kenapa, sedangkan Alena langsung menuju kamar Kaendra yang masih tertidur pulas. Ya, aku mengikuti Alena di belakanganya.
“Benar kan kata aku jika Kaendra masih tidur, kamu enggak percaya,” ucapku dari belakang.
“Memangnya kamu menyesal jika kembali ke sini hm?” tanyaku sambil berbalik menatap Devin dan Devin hanya tersenyum saja sambil garuk-garuk kepalanya.
“Setidaknya kita bisa melanjutkan kegiatan kita yang semalam kan masih ada waktu,” ucapku mulai merajuk, semenjak aku bertemu dengan Alena kembali aku ingin selalu ada di dekatnya jika kalau bisa maka Alena akan aku kurung di kamar saja biar enggak keluar kemana-mana.
“Dasar Devin mesum, sudah jadi bapak-bapak juga enggak inget umur hm,” ucapku, akan tetapi hanya tertawa dan berjalan ke kamar.
Sedangkan Devin pergi mandi aku bersama dengan Alice menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Beruntung saja Evan membawa semua yang kita butuhkan jadi kita tinggal memasaknya saja, udara pagi ini sangat dingin karena salju kembali turun walau hanya tipi saja tap terasa sampai menusuk tulang dinginnya. Kali ini aku membuat bubur untuk sarapan kami dan beberapa buah-buahan untuk penutupnya, aku juga tak lupa membuat susu untuk Kaendra dan yang lainnya. Biasanya Devin lebih suka minum kopi pagi hari namun untuk kali ini aku akan membiasakan Devin dengan meminum susu setiap paginya biar bagus untuk kesehatannya.
Mungkin keputusanku untuk menerima Devin dan menikah dengannya adalah keputusan yang tak akan pernah salah walau bagaimana juga Kaendra juga membutuhkan Devin begittu juga dengan diriku yang masih mencintainya, bahkan hatiku masih terpenuhi dengan Devin. Walau bagaimana juga semuanya sudah terjadi dan diriku ini sudah terjerat cinta Devin, aku tak akan pernah menyesalinya mengambil keputusan ini, namun jika Devin menyakitiku mungkin aku akan pertimbangkan lagi untuk kembali ke sisiku.
Aku menyiapkan semuanya di meja makan dan kini tingga memanggil Devin dan juga Kaedra karena Alice dan Evan sudah berada di meja makan. Aku berjalan ke kamar Kaendra yang ternyata sedang bermain dengan Devin, terlihat begitu bahagia dan ini sangat membuatku haru, bahkan aku juga enggak berani memisahkan mereka kembali.
“Anak mama sudah mandi belum?’ tanyaku sambil berjalan mendekati mereka, sedangkan Kaendra tersenyum saat melihatku masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Sudah ma, tadi papa yang mandiin Kaendra,” ucapnya sedangkan aku hanya mengangguk dan menatap ke Devin yang juga tersenyum padaku.
“Kalau begitu ayo kita sarapan dulu baru nanti di lanjutkan mainnya dengan papa,” ucapku.
Kaendra mengangguk lalu beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya sedangkan aku dan Devin masih di dalam kamar. Masih sama Devin tersenyum penuh arti, apa lagi kalau bukan senyum mesumnya yang sudah mendarah daging di kepalanya itu. Aku melototinya dan enggak peduli jika dia akan marah padaku, setelah itu aku menyeret tangan Devin untuk segera keluar kamar dan menuju ruang makan.
Kami menikmati sarapan pagi kami dengan diselingi obrolan, aku juga melihat Devin menyuapi Kaendra dengan sabar bahkan mereka sangat terlihat dekat dan tak ingin di pisahkan. Bahkan aku juga sangat bahagia melihat mereka, sehingga membuatku semakin yakin untuk menikah bersama dengan Devin, sebenarnya selama ini aku juga salut dengan Devin yang masih setia menungguku dan bahkan dia juga berusaha untuk mencariku dan sebenarnya itu sudah jadi poin plus untuk Devin.
Selesai sarapan aku langsung membereskan semuanya bersama dengan Alice sedangkan Kaendra, Devin, dan Evan mereka pergi keluar untuk jalan-jalan dan aku juga enggak mempermasalakahkan itu.
“Nona bagaiman hubungan anda dengan tuan?” tanya Alice tiba-tiba.
Alice mengangguk sambil tersenyum, “Aku doakan jika apa yang barusan tadi nona katakana menjadi kenyataan dan tak akan pernah ada orang ketiga masuk kehidupan keluarga nona nantinya dan kalian bertiga akan hidup bahagia hingga maut memisahkan kalian,” ucap Alice.
“Terima kasih Alice, aku juga berharap seperti itu. Aku yakin jika tuhan enggak akan pernah tidur dan aku juga yakin jika selama ini tuhan menjawab doa-doaku,” ucapku kembali, setelah itu kami kembali fokus dengan pekerjaan kami masing-masing. Setelah selesai semuanya aku membuat susu coklat panas dan aku bawa kedepan dan aku lihat jika Kaendra dan yang lainnya juga belum kembali.
Aku membuka hpku dan beberpa email masuk, email dari klien seperti biasa. Aku membalas email mereka seperti biasa dan aku juga terlalu fokus dengan hp dan email dari mereka sehingga aku tak menyadari kedatangan Devin yang sudah duduk di sampingku, bahkan dia juga memeluk pinggangku dengan posesif.
__ADS_1
“Devin, bisa enggak kamu enggak bikin aku kaget, ini aku lagi fokus membalas email dari klien Devin,” ucapku namun tanpa menoleh kea rah Devin.
“Liburan begini kamu masih fokus dengan pekerjaan kamu sayang, bahkan aku saja sangat cuek dan lebih meninggalkan pekerjaanku,” ucap Devin, namun aku sama sekali tak mengubrisnya dan lebih fokus dengan apa yang ada di hadapanku sekarang.
Aku kembali menaruh hpku ke meja dan mengambil susu coklat panas tadi yang aku buat dan meminumkan sedangkan Devin hanya memanyunkan bibirnya dengan kedua tangannya di taruh depan. “Kamu kenapa Dev?” tanyaku, namun Devin masih diam dan tak menjawab pertanyaanku.
“Kamu kenapa diam? Kamu marah sama aku Dev?” tanyalu sambil mengoyang-goyangkan lengannya. Akan tetapi masih sama Devin diam dan tak menjawab pertanyaan dariku.
Aku pun beranjak dari dudukku dan berniat meninggalkan Devin namun Devin lebih dulu mencekal tanganku dan menyeretnya hingga aku jatuh kepangkuannya dan saat itu juga Devin tersenyum dan dia juga mencium bibirku dengan tiba-tiba sedangkan aku hanya diam karena perlakuan Devin yang tiba-tiba.
Aku mendorong tubuh Devin dan saat itu juga ciuman kami tak berlanjut, “Devin bagaimana jika nanti ada yang tahu malu tahu enggak,” omelku pada Devin.
Akan tetapi sepertinya itu tak berlaku untuk Devin karena dia hanya tersenyum saja dan setelah itu berbisik padaku. “Bagaimana kalau kita melanjutkannya lagi sayang, saat ini kan Kaendra sedang bersama Alice dan Evan. Ayo kita lanjutkan waktu berduan kita,” bisiknya.
“Devin apa kamu berniat untuk membuatku tak bisa berjalan bahkan saja tadi malam kamu sangat kasar saat bermain dan aku masih bisa merasakan rasa perih Devin, kenapa sih kepala kamu sangat mesum dan sepertinya kepala kamu harus dibersihkan lebih dalu,” ucapku.
Akan tetapi Devin hanya tertawa dan membawa tubuhku ke dalam pelukannya, “Karena aku begitu merindukan kamu sayang, bahkan aku enggak mau kamu jauh-jauh dariku,” ucap Devin.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang dan menatap Devin sejenak, “Kini aku berada di dekat kamu Devin dan kamu enggak usah khawatir jika aku akan meninggalkan kamu lagi,” Ucapku, lalu kembali mencium bibir Devin dengan lembut namun itu hanya sebentar saja karena aku takut jika ada yang lain yang melihatnya dan itu membuat Devin mendesah kasar.