
Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu kini Devin baru saja kembali masuk ke kantor, bahkan sapaan dari Sandra sang sekretaris tidak dia pedulikan, Devin terus saja berjalan menuju ke ruangannya. Sebenarnya Devin merasa tidak nyaman dengan Sandra sebagai sekretarisnya namun dia tidak bisa memecat Sandra untuk saat ini karena dia memang sangat membutuhkan sekretaris dan tidak mudah untuk mencari penggantinya. Devin kini duduk di kursi kebesarannya sambil melamun, entah banyak yang dia pikirkan, akan tetapi hanya satu yang dia takutkan bagaimana jika ada yang tahu soal kejadian beberapa hari yang lalu dan melaporkannya pada Alena, pasti saja Alena akan marah besar dan bagaimana jika sampai nanti Alena meninggalkannya.
Brakkk ... “arrggh, sialan,” umpat Devin, bahkan dia juga memukul meja dengan sangat keras, dia benar-benar pusing memikirkan itu. Andai saja jika malam itu dia tidak mengajak Sandra untuk lembur pasti tidak akan pernah ada kejadian semacam itu.
“Brengsek, wanita ****** itu benar-benar membuatku pusing saja,” ucap Devin, yang lagi-lagi ada umpatan.
Devin mengusap wajahnya dengan kasar, bahkan dia juga menghela nafas panjang sambil melihat ke bingkai foto pernikahannya dengan Alena. Jujur saja dia sangat bahagia bisa mendapatkan Alena, wanita yang dia cintai dari awal dan akan selamanya terus begitu.
“Sayang, maafkan aku,” ucap Devin pelan.
Mungkin ini satu kesalahan Devin yang dirinya tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, sebisa mungkin Devin akan tetap merahasiakan kejadian itu dab berharap tidak akan pernah ada yang melaporkannya pada Alena. Devin takut jika Alena akan pergi darinya lagi, sudah cukup beberapa tahun dia menderita akan kepergian Alena dan anaknya, Devin tidak mau jika itu akan terulang kembali.
Di tempat yang sama, dimana Sandra memperhatikan Devin dari ruangannya. Karena pembatas ruangannya kaca bening, jadi Sandra tahu apa yang dilakukan oleh Devin dan dia tersenyum puas. Mungkin ini awal dia mendekati Devin dan selanjutnya dia juga akan terus memikirkan agar tuannya itu jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1
“Jadi? Kita lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya,” ucap Sandra dengan senyum liciknya, baginya sangat mudah untuk melakukan hal licik.
Sandra kembali fokus pada laptop yang ada di depannya, dia juga harus bekerja dengan baik karena bagaimana juga dia juga tidak ingin reputasi kerjanya jelek, sebisa mungkin dia yang akan selalu menjadi terbaik.
Jam makan siang pun telah tiba, Sandra masuk ke dalam ruangan Devin untuk bertanya pada tuannya mau makan siang dimana. “Maaf, tuan. Mengganggu waktunya, siang ini tuan mau makan siang dimana?” tanya Sandra.
“Tolong, kamu belikan saya cake dan kopi saja di restoran seberang,” ucap Devin tanpa menatap Sandra sama sekali.
Setelah kepergian Sandra, Devin menatap pintu ruangannya yang kini sudah tertutup kembali. Devin menghela nafas panjang dan bersender pada tempat duduknya sambil menutup matanya. Sebisa mungkin dia harus memberi jarak pada Sandra atau tidak dia akan terjebak terlalu jauh dan pada akhirnya apa yang dia takutkan akan kembali terjadi dan Devin tidak mau. Devin merogoh saku celananya untuk mengambil hpnya, Devin berniat untuk mengirimkan pesan untuk Alena.
“Sayang, apa yang sedang kamu lakukan? Aku harap kamu juga tidak lupa makan siang. Aku merindukan kamu sayang.”
Devin meletakkan hpnya di meja, dia menunggu balasan dari Alena. Devin tahu jika hari ini Alena sedang berada di butik, Alena bilang bahwa hari ini ada pengiriman barang banyak dan sorenya juga ada bahan yang akan datang. Semua baju yang di jual Alena adalah buatan Alena, dia merancang sendiri dan semuanya dia yang menentukan. Entah dari mana Alena belajar semua itu karena yang Devin tahu Alena dulu bekerja sebagai sekretarisnya namun dia juga tidak menyangka jika Alena bisa segalanya.
__ADS_1
“Aku juga merindukan kamu Dev, ini aku juga sedang makan siang. Bagaimana denganmu apa kamu juga sudah makan siang? Dev, bagaimana jika nanti malam kita makan malam di restoran tapi hanya berdua saja.”
Hp Devin pun berbunyi, Devin tersenyum saat tahu jika itu adalah balasan pesan dari Alena. Devin juga terlihat sangat senang saat membaca pesan itu karena sudah lama juga setelah menikah kita sangat jarang makan malam berdua, dan seperti biasa Kaendra akan mengerti orang tuanya karena anak itu sudah semakin dewasa saja pemikirannya.
“Baiklah, dan aku mau malam ini memakai gaun yang akan aku belikan untukmu nanti.”
Devin pun segera beranjak dari duduknya dan meraih tasnya, dia berjalan ke luar ruangannya. Namun saat di depan dia bertemu dengan Sandra yang membawa paper bag dan aku yakin itu adalah makanan yang aku pesan tadi.
“Hm, San. Saya tidak jadi makan siang di ruanganku dan yang kamu beli untuk kamu saja, karena saya harus pergi sekarang, dan nanti saya juga akan menyuruh Evan untuk datang ke sini,” ucap Devin, lalu setelah itu dia langsung berjalan pergi meninggalkan Sandra tanpa membiarkan Sandra berbicara padanya.
Siang ini Devin memutuskan untuk ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju untuk Alena nanti malam, dia juga akan makan siang sekalian di restoran yang ada di dalam. Devin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tersenyum sepanjang jalan, memikirkan makan malam yang sangat romantis dengan sang istri, menyenangkan bukan? Aahh, sungguh saat ini Devin seperti orang gila karena tersenyum sendiri. Sampai di pusat perbelanjaan, Devin memarkirkan mobilnya di basemant, dia keluar dari dalam mobil lalu berjalan masuk ke dalam. Devin berjalan mengitari beberapa toko, Devin ingin membelikan gaun yang sangat indah untuk Alena.
Setelah setengah jam mengitari beberapa toko, kini Devin masuk ke dalam salah satu toko. Dia melihat salah satu gaun yang sangat indah, dan pastinya sangat cocok untuk Alena kenakan. Selesai membayar baju yang Devin beli tadi, dia langsung keluar dari dalam toko dan menuju salah satu restoran, dia akan mengisi perutnya lebih dulu sebelum menjemput Alena ke butik, Devin memang sengaja tidak memberi tahu Alena jika dia akan menjemputnya ke butik.
__ADS_1