
Saat ini Alena sedang berada halaman belakang sambil menatap laptopnya, dan sesekali dia juga sibuk mengetikan sesuatu. Seperti ini kegiatan Alena jika berada di rumah dan sesekali dia juga akan pergi ke butik dan juga kantornya, walau pun saat ini yang menghandel Alice tapi tetap dia ikut campur tangan. Sambil menunggu kedatangan Devin pulang dari kantor, Alena memang selalu bersantai di halaman belakang yang di sulap menjadi sebuah pavilion agar lebih nyaman. Sesekali Alena meregangkan badannya, dan matanya sesekali menoleh ke arah pintu masuk. Sepulang dari menjemput Kaendra, Alena memang langsung ke sini sambil mengerjakan pekerjaan hingga saat ini.
“Bi, Kaendra sedang apa di dalam?” tanya Alena ke salah satu pelayan rumahnya.
“Tadi tuan muda sedang di ruang perpustakaan nyonya seperti biasa membaca buku,” ucap pelayan paruh baya yang kebetulan lewat jadi Alena memanggilnya. Alena hanya mengangguk saat pelayan itu menjelaskan apa yang dilakukan Kaendra.
“Ahh, dasar anak itu rajin banget, padahal sekarang papanya saja agak malas,” ucap Alena sendiri, sebenarnya Alena sangat tahu betul jika memang suami tampannya itu sangat sibuk dan selalu di sibukkan dengan tumpukan kerta sehingga dia juga terkadang juga ikut terjun membantu Devin, karena Alena tahu dia tidak ingin melihat nanti Devin sakit karena terlalu banyak begadang mengerjakan pekerjaannya.
“Eonnie,” panggil Alice yang baru saja keluar dan berjalan mendekatinya, sedang Alena hanya menatap Alice dengan satu alisnya naik ke atas.
“Kamu kenapa Alice? Apa terjadi sesuatu?” tanya Alena menatap Alice saat ini yang sudah duduk di depannya yang mana kini Alice juga senyum-senyum tidak jelas.
“Ya, dan eonnie tahu.”
Tentu saja menggelengkan kepalanya, dia masih menunggu apa yang akan dia katakan padanya, dan itu sangat membuat penasaran Alena.
__ADS_1
“Eonni tahu Evan, beberapa hari ini dia sangat dekat dengan aku,” ucap Alice dengan semangat.
“Kamu suka? Bukankah Evan sudah memiliki kekasih,” ucap Alena, dan seketika wajah Alice berubah.
“Benarkah? Aku kira belum,” ucap Alice dengan cemberut, bagaimana juga selama ini dia diam-diam menyukai Evan namun dia hanya bisa memendamnya dan tidak berani mengungkapkannya. Karena Alice juga tahu diri jika dirinya juga sangat takut di tolak oleh Evan.
“Tapi aku juga kurang tahu soal kekasih Evan siapa? Kamu jangan sedih begitu dong,” ucap Alena membujuk Alice agar tidak mudah putus asa dan siapa tahu jika Evan sudah putus dari kekasihnya.
“Gimana enggak sedih eonni, jika lelaki yang aku cintai sudah ada pacar,” ucap Alice, akan tetapi Alena hanya bisa menghibur Alice, bahkan dia juga akan memperkenalkan Alice dengan sahabat lelakinya namun tetap saja Alice menolaknya karena yang Alice inginkan adalah Evan dan bukan lelaki lain. Setelah itu dengan lesu Alice berjalan masuk ke dalam rumah dengan lesu dan Alena hanya bisa menatap punggung Alice sampai tidak terlihat lagi, dan tanpa sadar Devin sudah datang dan kini memeluknya dari belakang.
“Dev, kamu sudah kembali? Kenapa aku tidak tahu,” ucap Alena.
Devin menghela nafasnya dan menatap Alena balik. “Kamu kenapa melamun sayang? Sampai kamu tidak tahu aku sudah kembali, apa ada yang sedang kamu pikirkan?” tanya Devin.
“Aaa, maaf. Itu tadi Alice bicara padaku jika dia suka sama Evan,” ucap Alena.
__ADS_1
“What! Apa aku enggak salah dengar sayang?” tanya Devin, sedangkan Alena hanya menggelengkan kepalanya.
“Hah, dasar Evan. Pelet apa yang dia gunakan? Baru saja dia putus dari kekasihnya,” ucap Devin yang sedikit tidak percaya, dengan masih menatap Alena sang istri.
Alena dan Devin yang saat ini berada di dalam kamar, mereka berdua sedang merebahkan tubuh mereka di atas ranjang. Dimana Devin yang memeluk tubuh Alena dengan sangat posesif, sedangkan Alena hanya diam saja sambil memainkan hpnya dan sesekali dia menoleh menatap wajah Devin yang saat ini tertidur. Padahal tadi Alena sudah menyuruh Devin untuk mandi lebih dulu baru nanti bisa tidur dan Alena juga akan membangunkan Devin saat makan malam nanti.
Alena tersenyum, lalu meletakkan hpnya di nakas dan beralih menatap lekat wajah suaminya dan satu tangannya mengelus wajah Devin dengan pelan, dimana rahang kokoh Devin yang kini tumbuh bulu-bulu halus, dan itu membuat Alena sangat suka mengelus wajah Devin.
“Apa kamu sangat menginginkannya honey,” ucap Devin tiba-tiba dan saat itu juga membuat Alena kaget, bagaimana bisa? Padahal tadi Devin benar-benar tertidur.
“Dasar suami mesum,” ucap Alena, dan dia juga mencubit dada bidang Devin pelan, namun tetap saja sakit, sehingga Devin membuka matanya dan mengelus dadanya bekas cubitan Alena.
“Sakit honey, lagi pula aku juga mesum hanya sama istriku bukan wanita lain,” ucap Devin.
“Awas saja jika kamu melakukannya, maka aku akan membunuhmu Dev,” ucap Alena dengan tatapan tajam, akan tetapi Devin malah terkekeh sambil kembali membawa tubuh Alena ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Iih, serem banget istriku ini,” ucap Devin, lalu Devin mendaratkan ciumannya di tengkuk Alena dan membuat geleyeran aneh di tubuh Alena. Dimana Alena yang diam dan tidak menolak perlakuan Devin, lalu Devin melanjutkannya hingga mereka melakukan pergulatan panas di sore hari.