
Pagi ini Jenny dan juga Nathan membantu Alena untuk beres – beres karena sesuai apa yang di katakan dokter jika hari ini Alena sudah bisa pulang. Dengan di bantu Nathan dan Jenny semuanya jadi cepat, Nathan tak bolehkan Alena untuk jalan makan dari Itu Nathan mencari kursi roda dan menyuruh Alena untuk duduk di kursi sambil mengendong Kaendra.
Sedangkan Jenny yang membawa tas Alena yang berisi keperluan Alena dan anaknya saat di rumah sakit, Nathan men dorong kursi roda ke parkiran mobilnya, lalu membantu Alena untuk masuk kedalam mobil, Alena duduk di kursi belakang sedangkan Jenny di samping Nathan.
“Terima kasih ya Jen, Nathan kalian berdua sudah baik banget ke aku dan sudah membantunku jadi nggak enak sama kalian berdua dan juga Lionel kemarin yang juga ikut bantu aku,” ucap Alena sambil melihat ke depan.
“Iya sama – sama Alena lagian kita juga teman kan.” Nathan menyahutinya.
“Sejak kapan kamu jadi temannya Alena?” Jenny menoleh ke arah Nathan.
“Sejak dululah,” ucap Nathan.
Alena melihat anaknya yang sedang tertidur pulas dan terlihat sangat tampat dan semuanya sangat mirip Devin, Alena jadi teringat kembali tentang Devin, Alena melahir tanpa adanya Devin.
“Maafkan aku Dev,” batin Alena.
__ADS_1
Alena mengelus pipi anaknya dengan sayang, dan tersenyum tipis.
**
Alena dan yang lainnya sudah sampai di apartemen, Alena membawa anaknya masuk ke dalam kamar untuk di tidurkan di ranjang, lalu setelah itu Alena keluar untuk bergabung dengan Nathan dan Jenny.
“Jadi, kamu nggak kerja Nathan?” Alena sambil duduk di samping Jenny, ya, mereka sedang duduk di sofa.
“Aku kan pemiliknya jadi bebas dong mau masuk apa nggak.” Nathan berbicara dengan entengnya tanpa beban.
“Sebaiknya kamu istirahat aja Alena biar aku sama Jenny saja yang memasak.” Nathan melarang Alena karena dirinya habis melahirkan seharusnya istirahat.
“Memanngnya kamu bisa?” Alena meragukan Nathan tidak bisa memasak.
“Tentu bisa Alena, aku pernah tinggal sendiri New Zealand dan aku tentunya melakukan apa – apa sendiri,” ucapnya, dan Jenny hanya pendengar yang baik karena dirinya memang sudah mengenal lama Nathan jadi tahu apa saja yang di lakukan Nathan selama ini.
__ADS_1
Jenny juga sebelumnya pernah tinggal bersama di New Zealand karena waktu itu Jenny ada urusan beberapa hari di sana, saat itu Jenny tak tahu harus apa dan teringat akan Nathan jika temannya itu juga tinggal di New Zealand.
Alena hanya mengangguk dan kembali duduk di sofa sendirian sedangkan Jenny dan Nathan ke dapur. Alena menyalakan televisi dan menyiarkan acara berita tentang pengusaha dan sukses membuat Alena terkejut saat wajah Devin muncul.
Alena menbungkam mulutnya karena ingin berteriak saat Devin muncul, terlihat jelas wajah Devin yang tidak bersemangat dan raut wajah yang menampilkan kurang tidur, Alena meneteskan air matanya entah kenapa air mata itu keluar begitu saja.
“Devin, apa kamu baik – baik saja?” batin Alena.
Alena terus menatap layar kaca televisi yang masih memperihatkan Devin sedang di wawancarai.
“Aku yakin Dev, jika memang kita berjodoh suatu hari akan di pertemukan kembali, maafkan aku Dev,” batin Alena.
Lalu Alena mematikan layar televisinya dirinya tak bisa melihat lama – lama wajah Devin, itu akan membuatnya terasa tersiksa entah karena rindu atau yang lainnya, Alena melangkahkan kakinya untuk melihat putranya itu yang tertidur di ranjang.
“Hai Kaendra sayang, maafkan mama ya sayang,” ucapnya dengan air matanya jatuh ke pipi Kaendra dan Alena langsung mengusapnya.
__ADS_1