
Mereka sudah sampai di villa yang baru dan lebih luas dari sebelumnya, Devin membukakan pintu untuk Alena dan Alena pun keluar dan matanya melihat – lihat sekitaran villa yang jauh beda dengan yang ia sewa dan villa yang Devin sewa sebelumnya.
“Ini villa siapa?” tanya Alena menoleh ke Devin.
“Villa milik kita, aku baru saja membelinya tadi dengan menyuruh Evan,” ucapnya dengan santai.
“Hah! Memang dasar hobi benget habis – habisin uang,” ucap Alena dengan sebal.
“Kamu nggak perlu takut sayang aku bakal jatuh miskin, bahkan kekayaanku juga nggak akan habis tujuh turunan,” ucap Devin dengan sumbang.
Alena hanya melirik Devin tak suka jika terlalu memarmekan kekayaannya,” ya, ya ,ya aku tahu itu, terus kenapa kamu mengajakku ke sini, gimana kalau Kaendra dan Alice cariin aku karena nggak balik – balik,” ucap Alena menatap Devin.
“Tenang sayang kamu tak perlu khawatir, aku juga sudah menyuruh Evan untuk membawa mereka ke sini,” ucap Devin sambil memasukkan ke dua tangannya.
“M-maksud kamu?” tanya Alena bingung.
“Ya, kita akan menginap di villa ini bersama,” ucap Devin.
“Devinnnnn … kamu nggak tahu ya, aku sudah menyewa itu dengan mahal – mahal dan kamu seenaknya aja menyuruh kita tinggal di sini?” tanya Alena dengan menatap Devin tajam.
__ADS_1
“Iya, dan kamu sama Kaendra nggak boleh balik ke villa itu,” ucap Devin dengan tenang.
“Nggak, pokoknya aku nggak mau,” ucap Alena yang ingin berjalan meninggalkan Devin, namun saat Alena mau melangkah kan kakinya tangannya lebih dulu di pegang oleh Devin.
“Pokoknya kamu nggak boleh pergi atau nggak kamu akan tahu akibatnya, dan aku yang bakal ganti uang kamu,” ucap Devin dengan menatap tajam Alena.
Alena hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, percuma saja melawan Devin dirinya sudah tak bisa berbuat apa – apa mau lari pun pasti Kaendra akan di ambil darinya dan Alena tak akan mampu bila jauh dari Kaendra.
“Sudahlah ayo kita masuk,” ajak Devin yang masih memegang tangan Alena.
Alena hanya pasrah dan ikut masuk ke dalam villa, ternyata selera Devin sangatlah bagus, villa dengan di dalamnya tertata rapi dan bersih. Tak hanya itu, banyak lukisan yang sangat indah yang bisa di katakan sangat mahal harganya.
Devin mengajak Alena masuk ke dalam kamar untuk istirahat sebentar sambil menunggu halaman belakang villa siap untuk di pakai mereka makan malam romantis.
Alena mendudukkan badannya di tepi ranjang sambil maenatap Devin horor yang juga ikutan masuk ke dalam kamar.
“Sayang maaf aku tinggal kamu sendirian nggak apa – apa kan di sini, aku akan keluar sebentar karena urusan, dan jangan mencoba untuk kabur dariku,” ucap Devin memeperingati Alena yang sedari tadi menatapnya.
Devin pun mendekati Alena lalu mencium keningnya dengan sayang, Alena kaget dengan perlakuan Devin yang tiba – tiba menciumnya.
__ADS_1
Devin meninggalkan Alena sendirian di kamar dengan menatap Devin yang sudah tak terlihat lagi, Alena menyadarkan dirinya dengan memukul kepalanya.
“Dasar Alena bodoh bisa – bisanya kamu hanya diam,” ucapnya dengan masih memukul kepalanya dengan pelan.
Sedangkan Devin berada di ruangan laun dan menelpon seseorang,” baiklah terima kasih karena bapak sudah mau bekerjasama dengan saya,” ucap Devin.
Tak lama setelqh itu Devin menyudahi teleponnya dan memasukkan hpnya kembali ke dalam kantong sakunya. Devin duduk di sofa mengambil ipadnya dan mengecek pekerjaannya yang sudah ada di dalamnya.
Alena yang berada di dalam kamar bingung mau ngapain karena Devin menyuruhnya untuk menunggu dan sudah ada setengah jam Alena hanya duduk menunggu kedatangan Devin kembali.
“Hah! Devin sebenarnya kamu kemana,” ucapnya dengan kesal, lalu Alena berdiri untuk segera keluar dari kamar.
Saat mau membuka pintunya tak bisa dan Alena sadar jika Devin menguncinya dari luar dan itu artinya Alena tak bisa keluar.
“Dasar sialan kamu Devin,” ucapnya dengan sedikit keras, Alena sangat marah kepada Devin karena telah mengurungnya di dalam kamar.
Alena duduk di sofa dengan ke dua tangannya di taru di depan dada,” awas saja kamu Dev berani macam – macam denganku,” ucapnya dalam hati.
Alena mengambil hpnya di dalam tasnya lalu mencari nomor hp Devin untuk menelponnya, namun sayangnya tak ada jawaban sama sekali dari Devin.
__ADS_1
“Dasar Devin brengsek, bisa – bisanya dia tak menjawab teleponku,” umpat Alena, lalu membanting hpnya di sofa, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Devin belum juga kembali membuat Alena marah karena Devin tak kunjung datang dan berkali – kali menelponnya tak juga di jawab.