
Kediaman Wijaya...
Amirah maupun Wijaya, kini hidupnya dipenuhi dengan kecemasan. Apalagi, mereka kini sudah bertemu dengan sang musuh dari keluarga Saputra.
Dentingan peralatan makan terdengar, penghuni mansion Wijaya sedang berada di ruang makan. Makanan dihadapan mereka, terasa hambar dan tidak bersemangat untuk menelannya. Amirah! tentunya dia sudah sangat stress dengan penjelasan dari sang suami, menggenai rival dari mertuanya. Apalagi, dia menginginkan puteranya.
" Ma, makanlah dulu. Jaga kesehatanmu, papa akan menjelaskan semuanya kepada anak kita. Papa juga tidak ingin, rahasia ini kita simpan terlalu lama." Wijaya juga sudah sangat pusing dengan keadaannya saat ini.
" Mama takut pa, mama tidak ingin Akhtar menjadi bahan untuk balas dendam mereka pa! Mama tidak mau." Amirah pun sudah tidak dapat menahan air matanya, dengan terisak ia beranjak dari meja makan menuju ruanh keluarga.
Wijaya ikut menyusul keberadaan istrinya, dengan merangkul pundak sang istri.
" Ma, kuatlah! Bantu papa untuk menjelaskan semuanya kepada anak-anak kita, papa butuh mama." Wijaya juga sudah tidak dapat menahan tangisnya.
Tap
Tap
Tap
Derap langkah terdengar sangat jelas dan semakin mendekat. Amirah dan Wijaya sontak terkejut, melihat siapa pemilik dari suara langkah tersebut.
" Akhtar !!! " ucap Amirah dan Wijaya secara bersamaan.
__ADS_1
Tatapan dari wajah Akhtar, menyiratkan kesedihan dan kelelahan yang teramat sangat. Amirah segera beranjak dari duduknya, berjalan mendekati sang putera yang terlihat seperti patung berjalan dan ditemani oleh Evan.
" Van, ada apa ini?." Tanya Wijaya.
Evan dan Amirah mendudukkan tubuh Akhtar di sofa.
" Evan juga tidak tau om, sepertinya ada sesuatu yang sedang Akhtar alami." jawab Evan.
" Ma, pa! Akhtar kenapa?". Beni yang saat itu baru tiba dari perusahaannya, melihat semua anggota keluarganya sedang berada di ruang keluarga.
" Van, ada apa ini? Kenapa Akhtar seperti itu?" Beni melihat kondisi adiknya saat itu, mengkerutkan dahinya.
" Biar om dan tante saja kak yang menjelaskan, kalau begitu Evan mau pamit dulu." Evan tidak ingin ikut campur dalam permasalahan yang sedang dihadapi oleh keluarga itu, namun nian Evan yang ingin pergi itu ditahan oleh Beni.
" Baiklah kak." Evan duduk sedikit menjauh dari keluarga itu, memberika ruang untuk mereka berbicara.
Beni kemudian duduk disamping Akhtar, menatap wajah kedua orangtuanya dengan dahi yang berkerut.
Ada apa dengan mama dan papa? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, kenapa perasaanku semakin tidak enak. Beni.
Amirah dan wijaya menatap wajah kedua anaknya, ada perasaan bersalah yang sangat besar terhadap keduanya.
" Beni, Akhtar. Ma maaf maafkan papa nak, papa sudah berbohong kepada kalian." Lalu Wijaya menceritakan semua kebohongan yang ia lakukan terhadap kedua anaknya.
__ADS_1
💐 Pemasalah tentang kebohongan Wijaya, ada pada bab lima puluh dan bab lima puluh lima ya 💐
Mendengar semua cerita yang di ucapkan oleh Wijaya, membuat Beni dan Akhtar menjadi sangat geram kepadanya. Dengan sangat emosi, Akhtar mencengkram kerah baju Wijaya.
" Papa pikir, apa yang papa lakukan itu bisa Akhtar terima, pa! Tidak!!! Kau sudah membahayakan nyawaku, nyawa mama dan nyawa orang yang aku cintai pa!!." Lalu Akhtar melepaskan tangannya dan ia melampiaskannya dengan menghantamkan kepalan tangannya pada tembok yang berada disampingnya, dan itu membuat Amirah menjerit histeris.
" Jangan nak, maafkan kami. Kami sudah membohongi kalian, tapi itu semua demi kebaikan kita nak. "
" Kebaikan apa ma, kebaikan yang mana? Jangan mama bela terus orang ini." Dengan menatap tajam kepada Wijaya.
Semenjak mendengar perkataan dari Wijaya, sontak membuat Beni bungkam dan seperti tidak ada jiwanya. Ia sangat terkejut dengan penjelasan yang Wijaya sampaikan, jika dia bukanlah anak kandung dari orang yang telah membesarkannya selama ini. Cerita yang ia sampaikan kepada sang adik, ternyata adalah kisah dirinya.
" Kak, kak! Sadarlah, jangan kau pikirkan perkataan mereka. Kau, kau tetap kakakku. Kak Beni, kak!!!." Akhtar mengguncnag bahunya dan tidak melihat respon dari Beni.
"Evan !!!." Teriak Akhtar.
Dengan sangat cepat bahkan berlari, Evan menghampiri Akhtar.
" Ada apa Tar?." Wajah Evan sedikit cemas.
" Van, kak Beni Van. Ini, ada apa dengannya?." Akhtar sangat takut terjadi apa-apa pada kakaknya.
Evan segera melihat kondisi Beni saat itu, dengan berbagai prediksi. Evan dengan cepat mengatakan harus membawa Beni kerumah sakit. Amirah semakin histeris melihat keadaan Beni, tanggisannya semakin pecah.
__ADS_1
Sedangkan Wijaya, ia sudah ambruk tak sadarkan diri. Membuat Akhtar semakin bingung dan cemas melihat situasi ini.