
Beberapa hari setelah kejadian di hari yang lalu, Akhtar juga tidak menghubungi Aqilla.
" Kemana tuan aneh itu? Apa terjadi sesuatu padanya? Huft!." Aqilla menatap peralatannya untuk merangkai.
" Kenapa kak? ngelamun aja dari tadi." Goda Haykal.
" Eh, nggak papa kok Kal."
" Kak, Haykal boleh minta uang?"
" Hem, ya pakai saja dek. Memangnya buat apa?" tanya Aqilla.
" Buat pelunasan biaya sekolah semuanya kak, sama buat ujian. Tapi..." Haykal ragu untuk menggatakannya.
" Tapi kenapa?" Alis Aqilla menyatu.
" Biayanya cukup banyak kak, apa tabungan kita cukup?" Ucap Haykal dengan ragu.
Aqilla melihat rincian biaya dari kertas yang Haykal berikan padanya, merasa sangat terkejut melihat angka yang tertera di kertas itu. Namun Aqilla berusaha menutupi semuanya, memang kedua orangtuanya dulu menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang cukup ternama dan termasuk kedalam golongan elit. Aqilla tidak bisa untuk menghentikan adiknya untuk bersekolah, karena Haykal sudah di tahun terakhir dan akan ikut ujian.
" Insyaa Allah cukup kok dek tabungannya, kamu nggak usah pusing gitu. Tambah jelek tu muka, jadi jangan dijelek-jelekin lagi." Aqilla berusaha menutupi semua perasaannya saat itu.
" Bener kak? untuk usaha bunganya gimana?".
__ADS_1
" Tenang aja dek, Insyaa Allah masih ada kok. Jangan khawatir." Senyuman Aqilla membuat sang adik percaya.
" Terima kasih ya kak, Haykal berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Haykal.
" Wa'alaikumussalam."
Setelah Haykal berangkat ke sekolah, Aqilla menjadi termenung duduk di sofa ruang tamunya.
Alhamdulillah tabungan itu cukup untuk biaya sekolah Haykal, tapi. Untuk yang lainnya, tidak akan cukup. Apa cari kerja sampingan saja ya, kan lumayan bisa tambah-tambah. Batin Aqilla.
Hari berlalu sangat cepat, tak terasa sudah dua bulan lamanya Akhtar belum juga menghubungi Aqilla. Tiba-tiba saja, pesanan bunga kini menurun drastis. Kebutuhan sehari-hari mulai menipis, begitu juga dengan keuangan, hingga membuat kepala Aqilla pusing.
Aqilla mulai mencari berbagai informasi dari media sosial, untuk mencari pekerjaan. Beragam pekerjaan yang ditawarkan, Aqilla tertarik untuk menjadi pekerja restoran. Waktunya juga bisa menggunakan shift, jadi bisa menerima pesanan lagi.
' JOHAN CAFE '
Itulah yang sepintas Aqilla baca, sempat terdiam sejenak. Tapi, Aqilla kembali fokus pada tujuan.
" Maaf, permisi. Saya ingin memberikan lamaran kerja, kalau boleh tau. Saya harus menyerahkan pada siapa ya?." Tanya Aqilla kepada salah tau pegawai disana.
" Oh, mbak mau melamar kerja ya? Mbak bisa serahin langsung kepada pemiliknya, pak Johan ada diruangannya. Nanti, mbak naik aja kelantai atas. Pintu ruangannya itu warna biru mbak. " Jelas pegawai tersebut.
" Hem, terima kasih ya atas informasinya." Aqilla tersenyum.
__ADS_1
" Sama-sama mbak, semoga diterima ya mbak." Balas sang pegawai.
Melangkahkan kaki menuju lantai atas, Aqilla berharap bisa mendapatkan pekerjaan ini.
Tok
Tok
Tok
" Masuk " Terdengar suara dari dalam.
Aqilla perlahan memasuki ruangan itu, dengan modal nekat yang ia lakukan. Melihat seorang pria, yang dalam posisi menunduk memeriksa kertas dihadapannya.
" Permisi tuan, saya mau menyerahkan berkas lamaran kerja." Ucap Aqilla.
" Bisa kamu letakkan diatas meja saya ya, nanti untuk selanjutkan, akan dihubungi oleh karyawan saya." Jawab pria itu tanpa melihat Aqilla.
" Eh, baik pak. Kalau begitu saya pamit, permisi!." Setelah Aqilla meletakkan berkasnya di atas meja, ia segera meninggalkan ruangan tersebut. Namun, belum beberapa langkah.
" Tunggu sebentar, saya sepertinya."
Lalu Aqilla membalikkan badannya, hingga pandangan pria tersebut beradu dengan Aqilla.
__ADS_1
" Ka kamu..." Pria tersebut menunjuk Aqilla.