
Dengan berjalan ala model papan atas, Joana berjalan memasuki perusahaan dengan sangat angkuh.
" Hei, coba kalian lihat. Sekretaris bos Akhtar sangat sombong dan merasa dirinya cantik sendiri. Aku tidak suka sama sikap ya itu."
" Benar, menurut gosipnya. Joana itu pacarnya si bos, kalian jangan cari perkara sama dia."
" Mata bos sedang sakit kali ya, dapat pacar kayak gitu. Amit-amit."
Karyawan wanita pada sibuk bergosip, mereka tidak menyadari kehadiran biangnya gosip disana.
" Apa yang sedang kalian bicarakan! Kerja!!!Bergosip saja." Jason memasang muka garang.
" Ba ba baik tu tuan Jason." Lalu meraka lari kocar kacir dengan penekanan dari Jason.
" Bergosip saja kerjanya, wanita itu benar-benar membuatku muak. Ternyata berita tentang tuan dan wanita itu memang benar, aih. Tambah sakit saja kepalaku, apa lagi yang akan ia perbuat." Jason memijit keningnya, sembari berjalan menuju lift.
Sedangkan Joana, ia sedang berada didalam ruangan Akhtar. Ia tau, Akhtar masih belum kembali. Terus mencari apa yang hendak ia dapatkan, saat berada di sudut ruangan pribadi milik Akhtar. Ia melihat ada sebuah berankas kecil yang berada disana, mendekatinya dan melihat terkunci.
Ia berusaha memecahkan sandi kunci brankas tersebut, cukup lama ia berjuang. Mencoba membuka dengan berbagai data Akhtar yang ia ingat, nama, tanggal lahir, maupun yang lainnya. Namun tidak berhasil, dan cara terakhir adalah menggunakan tanggal dimana mereka memulai pacaran dahulu.
Klik!!!
Terbuka...
" Heh, ternyata kau masih menginggatnya pria bodoh. Percuma saja kau bersikap dingin padaku, tapi ternyata masih menyimpan kenangan kita." Joana segera melihat isinya.
Berbagai berkas dan surat perusahaan berharga, itulah yang Joana inginkan. Segera ia menggambilnya dan menutup kembali, duduk dengan santai di atas tempat tidur. Merasa sangat senang, mendapatkan semuanya.
Namun sebelumnya..
Saat Jason akan memasuki ruanagannya, Tika segera memberikan laporan tentang perusahaan. Betapa kagetnya Jason melihat penggeluaran perusahaan sangat besar, dan yang melakukan hal itu adalah Joana.
__ADS_1
Tika sangat takut, melihat wajah Jason yang berubah menjadi sangat menyeramkan.
Jason menghempaskan berkas laporan itu diatan mejanya. Sudah tidak bisa dibayangkan betapa emosinya dia saat itu.
Brak!!!
Pintu ruangan Jason terbuka, bagaikan mendapatkan hadiah yang sangat berharga. Leo dan Akhtar masuk kedalam ruangannya, langsung saja Jason memeluk Leo dan Akhtar dengan erat.
" Hei Jas, lepasin. Gue masih normal woi, Gila lu!." Leo merasa tidak suka.
" Akhirnya, kalian pulang juga." Jason merasa lega.
Akhtar langsung saja menyentil kening Jason dengan sangat keras, hingga akhirnya Jason melepaskan pelukannya.
" Sakit bos, iiss! Bos, mohon liat rekaman ini." Jason memperlihatkan CCTV di ruangan Akhtar.
Seketika Akhtar menggepalkan tangannya, giginya menggeretak.
Mereka berdua, mengekor saja di belakang Akhtar menuju ruangannya. Pintu itu terbuka...
Mata Akhtar melotot menahan marah, melihat siapa yang berada di ruangannya tersebut. Seketika itu juga Jason dan Leo ikut melotot, merasa tak percaya.
" Mampus tu orang!!!." Leo membeo melihat siapa yang berada di dalam sana.
Akhtar berjalan perlahan mendekati Joana, langkahnya terdengar sangat jelas. Terasa aura yang sangat mencekam, bahkan mematikan.
" Hallo Joana! Apa ruanganku ini bebas untuk kau masuki?." Akhtar menatap tajam pada Joana.
Joana sangat terkejut dengan kedatangan Akhtar, yang ia tau. Akhtar masih di negara C, menggurus permasalahn yang ada. Disaat ia sudah mendapatkan apa yang ia cari, dengan sangat apes harus berhadapan dengan yang punya.
Tubuh Joana perlahan melangkah mundur, semakin Akhtar mendekatinya maka Joana sangat tersudutkan. Berkas yang berada di tangannya, ia sembunyikan dibalik tubuhnya.
__ADS_1
" Sa sayang, kau sudah kembali." Perkataan Joana yang dengan nada bergetar.
" Kenapa? Seharusnya kau senang kan, aku cepat kembali. Atau... Kau ingin bermain-main denganku, hah!!!." Akhtar mencengkram rahang Joana dengan sangat keras.
" Le lepaskan, sakit." Joana berusaha melepaskan tangan Akhtar dari wajahnya, hingga berkas-berkas yang berada di tangannya terlepas.
Leo dan Jason segera menggambil berkas tersebut, mereka melebarkan matanya melihat kecerobohan Joana.
" Wanita breng***ek!!! Kau kira, aku tidak tau permainanmu, hah!!! Aku muak dengan wajahmu ini, sayang!!! Sudah saatnya kau menerima pembalasannku." tanggan akhtar beralih ke leher Joana, menekannya hingga Joana merasa susah untuk bernafas.
" Tuan!!" Jason langsung menarik bosnya, kalau sampai Joana mati. Maka, kantornya akan ramai pemberitaan.
" Hah, hah, hah, Kau akan kubuat hancur Joana!!!. Teriak Akhtar.
Rasa sakit di lehernya, membuat Joana meringgis. Melihat ada celah untuk kabur, itu tidak di sia-siakan olehnya.
" Kau akan menerima pembalasanku Akhtar, akan kubuat siapapun yang menjadi wanitamu itu tersiksa dan mati di tangganku. Takkan kubiarkan kau hidup tenang!." Joana langsung kabur.
Leo yang akan menggejarnya, dicegah oleh Akhtar.
" Biarkan saja, berani dia menyentuh Aqilla. Aku pastikan, dia akan mati ditangganku!!!." Akhtar menyeringai.
Akhtar masuk ke dalam kamar pribadinya, berkas yang di ambil oleh Joana itu adalah palsu. Tidak mungkin Akhtar seceroboh itu dalam menyimpan asetnya, ia hanya ingin membuka kedok Joana yang sesungguhnya.
Leo melihat berkas itu kembali...
" Bussset! Kirain apa, dasar wanita bodoh. Dia kira tuan akan menyimpan yang asli disini, gila ini." Leo menggelengkan kepalanya.
" Ya benar, sama seperti lu yang gila. Sudah tau tu wanita mau lari, eh malah melonggok." Jason mendaratkan satu pukulan di kepala Leo.
" Aakkhh!!! Kau!!!." Teriak Leo, namun Jason sudah berjalan meninggalkan ruangan.
__ADS_1