
Aakkhhh!!!
Terdengar suara teriakan dari seorang pria, kondisinya saat itu sangat memprihatinkan. Leo dengan tenang menggerakkan pisau lipat miliknya di atas punggung pria tersebut.
" Aaakkhh, berhenti!!! Kalian sungguh biadab, hentikan benda sialan itu. " Pria tersebut terus berteriak ketika Leo masih mengenggerakkan benda itu.
" Heh, kau kira aku akan iba dengan teriakanmu itu! Sorry bro, tangan gue masih asik menggukir." Leo lebih menekan benda tajam itu untuk memberikam ukiran yang indah menurutnya.
" Aaakkhhh, hentikan. Hentikan!!! Tidak!!!."
Pria tersebut adalah Sofiyan, salah satu orang kepercayaan Akhtar untuk memimpin anak cabang dari perusahaannya. Memiliki sifat tamak dan tidak pernah merasa puas dengan kedudukannya, hingga ia ingin memiliki semuanya. Dengan cara kotor ia ingin melenyapkan istri dari bosnya, yang dianggapnya sebagai titik lemah Akhtar.
Cairan berwarna merah menggalir dengan cukup banyak ke lantai, lukisan abstrak yang dibuat oleh Leo menyebabkan orang itu pingsan.
" Payah, belum apa-apa ini. Sudah pingsan saja, cemen lu. Sok gaya-gayaan mau ngeleyapin nyawa orang, tapi diginiin dikit doang udah nyerah. Terima tuh hadiah dari gue, dan bersiaplah menerima hadiah yang lebih besar lagi dari bos!" Leo menepuk pipi Sofiyan dan menginggalkannya begitu saja.
Membiarkan tubuh Sofiyan yang pingsan begitu saja tanpa bertindak apapun, jika dia masih hidup. Maka akan ada hadiah lagi yang menantinya, jika end. Maka mempersingkat kerja mereka.
......................
Ketika Aqilla sedang menikmati indahnya suasana dihalaman belakang rumahnya, bersama kedua asisten rumah tangganya. Dengan membawa sedikit kudapan untuk menemani mereka bersantai, Aqilla bersenda gurau tanpa batasan apapun dengan mereka dan tidak memandang status diantaranya.
__ADS_1
Dengan setengah berlari, pak Joko selaku keamanan dirumahnya mendekati mereka.
" Maaf non, ada paket buat non. Ini!." Joko menyerahkan sebuah bingkisan kecil ditangannya kepada Aqilla.
" Paket?? Dari siapa pak?". Aqilla merasa sedikit bingung.
" Nggak ada nama pengirimnya non, apa kita buang saja?" Joko takut jika paket tersebut dari orang yang berniat jahat pada keluarga bosnya.
" Hem, benar juga ya. Gimana kalau benar kiriman? Tapi Kalau bukan, pak Joko berani nggak bukainnya? Kalau berani, bisa tolong bukain. Tapi, kalau tidak ya dibuang saja nggak apa-apa pak. " Aqilla berharap paket tersebut bukan hal yang aneh-aneh.
Joko sebenarnya takut, tapi ia pikir kalau paket beneran gimna. kemudian perlahan membuka paket tersebut dengan sangat hati-hati, dengan memberikan sedikit jarak dan saat paket itu terbuka.
Dduuaarr!!!
" Bik!." suara Aqilla terdengar berat, hingga penglihatannya menjadi gelap dan ia langsung ambruk pingsan.
" Nona!!!." teriak Siti dan Ayu melihat Aqilla yang jatuh pingsan.
" Aduh, non. Non Aqilla, Bangun non. Aduh, gimana ini. Joko, cepetan telfon tuan! dan panggilkan Adam, cepat." teriak Siti.
Ayu mengangkat kepala Aqilla dan membaringkankan diatas pangkuannya, memberikan aroma dari minyak angin yang diambil oleh siti.
__ADS_1
" Non, bangun non." Ayu semakin ketakutan.
Tak lama kemudian, Adam datang dengan berlarian. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Aqilla dan membawanya masuk kedalam mobil. Siti sudah berada didalam mobil, kepala Aqilla berada di pangkuannya. Kaki Aqilla di pangkuan Ayu, sembari ia berikan pijatan agar nonanya segera sadar.
Adam dengan sangat cepat mengemudikan mobilnya, ketika sampai dirumah sakit. Para perawat segera menghampiri dan membaringkan Aqilla pada brankar dan mendorongnya untuk masuk kedalam ruang tindakan. Mereka menunggu dengan sangat khawatir, hingga terdengar suara yang sangat mereka kenal.
" Tuan!!." Adam menyambutnya.
" Bagaimana keadaan Aqilla? Apa yang terjadi?." Raut wajah Akhtar sangat terlihat jelas sedang panik.
" Masih menunggu tuan, ada paket tanpa nama penggirim yang ditujukan untuk nona. Joko yang saat itu membukanya, terjadi ledakan ketika paket tersebut terbuka tuan." Adam merasa merinding melihat ekpresi dari bosnya itu.
Akhtar menggambil ponsel dari saku jasnya, dan menghubungi seseorang.
" Temukan pelakunya dalam satu hari!!." lalu ia memutuskan sambungan telfonnya.
Orang yang dihubungi oleh Akhtar adalah Leo, ia tahu apa yang dimaksud oleh bosnya itu. Karena Adam sudah memberitahunya peristiwa yang terjadi.
" Cari mati tu orang, yang atu ini belum kelar. Aiihh, nambahin kerjaan saja. Gaji nggak naik-naik, ups! Sorry bos, nggak sengaja. Jason, oh Jason. Cepatlah kembali, aku membutuhkan bantuanmu. " Leo segera melaksanakan perintah dari bosnya, ia takut jika keluhannya tadi ketahuan. Kalau nggak, habislah dia.
Sedangkan Jason, saat itu ia sedang menikmati secangkir kopi hangat di ruang kerjanya di anak perusahaan yang dibawahi oleh Sofiyan. Menanggani kekacauan yang terjadi, membuatnya sedikit lelah.
__ADS_1
" Haaattcchii, haaattcchii! Panas, panas, panas. Yah, tumpah! Sialan, siapa yang sedang menggosipkanku? Dasar kurang kerjaan." Jason menggibas-ngibaskan baju kemeja dan jasnya yang terkena tumpahan kopi.