
Aqilla menarik tangan Akhtar menuju sebuah taman kecil yang berada di belakang lestoran tersebut, lalu mereka berhenti.
" Kenapa kau membelanya sayang, dia itu harus diberi pelajaran." Akhtar sudah sangat emosi.
" Sssttt, duduk dulu ya." Aqilla menarik Akhtar untuk duduk di sebuah kursi taman yang cukup nyaman.
Melihat sikap Akhtar yang sudah seperti induk ayam kehilangan anaknya, Aqilla menggenggam tangannya dan menepuknya dengan pelan.
" Tidak baik tersulut emosi yang berlebihan, coba senyum dulu, Hayo!!!." Aqilla memaksa Akhtar untuk senyum, dan akhirnya berhasil walaupun hanya sudut bibirnya yang bergerak.
" Aakhh!! Hayolah sayang, jelaskan." Mata Akhtar sudah memerah.
" Hem, baiklah! Jangan menyela apalagi berkomentar sebelum ceritanya selesai, awas aja." Ancaman Aqilla, karena Akhtar sering memotong pembicaraan.
" Hem!!!."
" Kami sekarang sudah tidak tinggal dirumah yang lama, ternyata. Ayah masih mempunyai orangtua, yang selama ini juga mencari keberadaan kami. Awalnya kami ragu untuk menerimanya, namun beberapa bukti dan faktanya memang menyatakan dia adalah orangtua dari Ayah. Dia seorang kakek yang berwajah seram, dingin dan menakutkan. Tapi tidak untuk hatinya, ia sangat menyayangi kami, tentunya dengan caranya sendiri."
" Hufh! Kami pun dibawanya untuk tinggal bersama, ia merasa bersalah kepada Ayah dan tidak ingin kehilangan lagi. Setelah sampai dirumah mewah kakek, kami di berikan beberapa fasilitas yang terbilang cukup mewah. Tapi, karena saya tidak terlalu membutuhkannya, jadinya masih tersimpan dengan sangat rapi. Untuk Haykal, memang dia sangat memerlukannya. kakek juga bilang, kalau kami mempunyak kakak sepupu dari pihak Ayah. Dia adalah anak dari saudara perempuan Ayah yang tertua. Baik saya maupun Haykal, kita sama-sama kaget. Ternyata, sepupu kita itu adalah Steiven. Lalu, Kakek mengetahui kasus penculikan itu, ia sangat marah pada kak Steiv. Ia mendapatkan hukuman dari kakek. Kakek menembak tangan kak Steiv, melihat kak Steiv masih berdiri dengan tegap. Kakek akan menembaknya untuk kedua kalinya, namun tidak jadi."
" Jangan bilang, kalau kamu yang menggagalkannya sayang!." Akhtar menyela pembicaraan Aqilla.
" Iya, benar. Eehh..."
__ADS_1
Paakk
" Dasar tidak menepati janji, masih aja menyela. Sudah dibilangin dengerin sampe habis, baru komentar. Dasar!!!." Aqilla kembali mencubit punggung tangan Akhtar.
Aakhhh!!!
Akhtar hanya bisa meringgis.
Kami pun saling memaafkan satu sama lainnya, Haykal juga sudah bisa menerima kehadiran kak Steiven. Sampai akhirnya, kejadian yang kurang menggenakkan terjadi kembali. Bos di tempat kerja, tiba-tiba mencekik leher saya. Tidak tau, kakek mendapatkan informasi itu darimana, hingga terdengarlah oleh Kak Steiv. Dia marah besar dan menyuruh saya untuk segera risign, awalnya si bingung. Lalu Kak Steiv menjelaskan secara rinci dan jelas, dan akhirnya saya pun risign. Kakek juga mendukung, untuk selanjutnya. Mungkin saya akan bekerja di perusahaannya milik kak Steiven ataupun kakek. Selesai."
" Siapa nama bos, ditempat kamu bekerja?." Akhtar memperlihatkan wajah yang penuh dengan amarah.
Dengan cepat, Aqilla meredamnya dengan cara memeluk tubuh samping Akhtar.
" Sudah manja-manjanya? Heh, memalukan!!!." Ujar Steiven.
" Kak, sudah. Nggak perlu diperpanjang, sekarang. Saatnya kalian berdua berdamai, jangan saling mendendam." Aqilla menatap wajah sang kakak yang masih memerah.
" Heh, berdamai? Bilang dengan pria anehmu ini, kembalikan dulu wanita yang kakak sukai. Baru kakak akan berdamai dengannya." Steiven engan melihat wajah Akhtar.
" Kau selama ini salah paham Steiv, saya tidak merebut ataupun juga menggambil dia dari kamu. Kita sama-sama sudah dibohongin. Dia hanya menginginkan harta dan harta. Semua hartaku, hampir saja habis kerenanya. Depresi bahkan hampir gila Steiv, dia kabur entah kemana. Sekarang dia tiba-tiba muncul dan ingin memperdayaku lagi, heh. Kau sungguh bodoh." Ucap Akhtar meremehkan.
" Kau kira, aku akan percaya dengan ceritamu itu, heh. Qilla, lebih baik kau jauhi pria breng**ek ini. Kakak tidak ingin, kau menjadi korbannya untuk kesekian kali. Pulang!!!. Titah Steiven.
__ADS_1
Terjadilah perdebatan diantara Akhtar dan Steiven, Aqilla semakin tidak menggerti permasalahan yang terjadi di antara mereka berdua. Hingga akhirnya, Aqilla sudan sangat kesal.
" Bisa diam nggak sih! Seperti apa wanita yang kalian rebutkan, masalah wanita saja membuat permusuhan. Dasar kalian". Protes Aqilla.
" Dia sangat jauh sekali denganmu sayang, coba nasehati kakakmu ini. Jangan sampai dia menjadi kismin bila tau wanitanya itu seorang penipu ulung." Akhtar tak mau kalah berdebat.
" Kau!!!."Steiven melotot kepada Akhtar.
" Sudah-sudah, penasaran deh gimana wujudnya tu manusia? Bisa diperebutkan oleh dua pria aneh. Kak, kau punya fotonya? Aku mau lihat, seperti apa wanita yang disukai oleh kakakku yang kaku ini."
" Kau ini, dia itu cantik. Manis, lembut dan penyayang. Tapi semuanya berubah, setelah DIA!!! memasuki kehidupan kami, dan hingga kini nggak tau keberadaannya." Steiven menunjukkan foto wanitanya dari ponsel miliknhya kepada Aqilla.
Aqilla menyambutnya dengan perlahan, karena takut ponsel kakaknya itu rusak. Bisa kena omel panjang dia, saaf melihat foto tersebut. Aqilla langsung terdiam dan memandangi satu persatu pria yang berada di dekatnya.
" Kalian sudah tidak waras, Bodoh, bodoh dan bodoh. Kakak juga, memang bodoh dan super bodoh." Aqilla dengan sengaja menghempaskan ponsel Steiven di atas meja.
" Qilla, ponsel kakak."
" Biar rusak sekalian, kalian ini benar-benar oon. Dan kau kak, mulai detik ini. Lupakan wanita nenek gayung itu, jika kau masih memikirkannya. Qilla akan meminta kakek untuk menembakmu lagi. Pulang.!!!". Teriak Aqilla.
" Sayang, tunggu. Saya antar ya." Akhtar baru kali ini melihat wajah Aqilla sedang marah.
" Dan kau juga, dasar pria aneh. Pulang sana, saya masih mau membuat perhitungan dengan pria bodoh di depan ini." Aqilla menarik tangan Steiven dan berjalan meninggalkan Akhtar sendiri.
__ADS_1
Memangnya, Aqilla tau apa siala wanita yang kami ributkan ini? Wah, semakin membuatku terpana dan jatuh cinta dengan sikapmu , sayang. Akhtar.