
Jason menghembuskan nafasnya dengan kuat.
Hah..
Menepuk pundak Evan perlahan, membawanya untuk duduk bersama.
" Kau tau kan kesalahan yang kau lakukan ini sangatlah fatal Van, apa yang membuatmu menjadi seceroboh ini." Jason tidak habis pikir dengan hal ini.
" Aku yang salah." Evan masih dengan pilunya menggatakan hal itu.
" Apa dengan mengakui kesalahan, masalah ini akan selesai? Sungguh anehnya dirimu." Jason mendengus kesal pada Evan.
" Katakan, walaupun itu sangat kecil ada harapan. Setidaknya, kau bisa membalas keteledoranmu."
" Aku tidak yakin Jas, Ginjal Aqilla harus segera di angkat dan dilakukan recovery yang cukup lama dan beresiko. Aku juga tidak yakin, ada ginjal yang cocok dengan tubuhnya." Evan merutuki kebodohannya.
" Lakukan! Apa yang tidak mungkin untuk bos gila itu, hanya di hadapan wanitanya saja dia terlihat bodoh dan culun. Terlepas dari itu semua, kembali ke habitatnya yang lama menjadi raja hutan." Jason mulai dengan mang-gos nya.
" Heh, benar juga. Eh, kau berani merutuki kegilaannya itu. Kenapa aku baru tau kau bisa bergosip, Jas. Jangan-jangan kau sudab tertular dengan Adam." Evan kembali dengan jiwa keponya.
" Aish! Diam kau, cepat lakukan kerjamu. Mau kau jadi samsaknya terus? Kali ini aku tidak akan menolongmu lagi, mampus-mampus lu." Jason menyentil telingga Evan dan beranjak menuju ruangan Bosnya dirawat.
" Kau!!! Awas saja!." Evan melotot.
Benar juga kata Jason, lebih baik mencoba dulu. Kalau tidak, bisa seumur hidup aku menjadi bahan pelampiasannya. Oh ya, Leo. Dia bisa diandalkan! Batin Evan.
" LEO!!! Secepatnya lu cari di pasar gelap, apapun resikonya. Ini menyangkut nyawa kita semua, oke." Evan berbicara melalui ponselnya.
__ADS_1
" Busset, pelan sedikit bisa nggak si lo ngomongnya. Heh, nyawa kita semua. Sorri sorri tu se ye, nyawa lu aja kali. Lu kira mudah mendapatkan ginjal dalam waktu sekejap!." Leo tak mau kalah garang.
" Hayolah bro, Aqilla sudah sangat kritis ini. Lu tega apa lihat bos kayak patung hidup?" Evan sedikit memelas.
" Lah, itu juga karena kelalaian elu kali. Dokter apaan, masa sama pasien sendiri lupa. Kalau bukan untuk bos dan nona Aqilla, gue ogah nolongin lu Van. Ni juga gue lagi nyari, makanya lu bantu doa biar cepet dapet. Jangan bisanya cuma ngomel aja lu, kalah mak gue dengan omelan lu." Leo langsung memutuskan pembicaraannya.
" Kam**ret ni anak, main matiin aja. Ah, semoga ada jalannya ya Allah. Gue masih mau hidup!". Evan kembali masuk ke dalam ruangan Aqilla.
Melihat kondisi Aqilla yang saat ini sangat kritis, tubuhnya hampir dipenuhi oleh bernagai alat medis. Evan merasa merinding, bagaimana kalau Aqilla tidak bisa diselamatkan. Dia tidak tau bagaimana reaksi Akhtar, mungkin hanya tingal nama saja dia.
......................
Sehabis dari les tambahan, Haykal segera pulanh kerumah. Selama dalam perjalan pulang, perasaannya sangat tidak enak. Pikirannya terus teringat dengan sang kakak, berharap tidak terjadi apa-apa dengannya.
" Kak Qilla kemana sih, kebiasaan suka nggak angkat telfon. " Gerutu Haykal.
" Ada apa ini! Berantakan banget, kak Qilla kemana? Kak, kakak!!." Teriak Haykal.
Suara ponsel Haykal berbunyi.
" Hallo. "
" Ini Jason. Nona Aqilla berada dirumah sakit ****."
" Ya ampun, apa lagi ini!." Setelah pembicaraannya mereka terputus, Haykal langsung menuju rumah sakit.
......................
__ADS_1
Dengan duduk di kursi kebesarannya, Wijaya sedang menikmati secangkir kopi buatan sang istri.
" Ma, senyum dong."
" Senyumanku sudah kau ambil semuanya, pa." Amirah menatap kosong ke arah depan.
" Kau masih memikirkan anak pungutmu itu?." Wijaya tersenyum mengejek.
" Sampai kapanpun, Akhtar adalah anak kita pa. Kenapa papa selalu saja mengganggap Akhtar pembawa sial dalam keluarga kita? Kenapa kau begitu kejam kepadanya?" Kini Amirah sudah tidak dapat membendung air matanya.
" Heh, sama saja. Hanya melihat dengan bola mata kalian, bukan dengan hati. "
" Maksud papa apa?" Amirah menjadi bingung dengan perkataan suaminya.
" Aku tau, Akhtar adalah anak kandungku ma. Biarkanlah cerita yang kubuat ini terus berjalan, aku hanya ingin melindunginya. " Wijaya meneteskan air mata.
" Apa maksud papa? melindungi apa, dari siapa?" Emosi Amirah semakin tinggi.
" Akh Akhtar, menjadi incaran musuh lama papa. Mereka tau, Beni tidak memiliki jiwa mafia dan ia hanya bisa di dunia bisnis. " Wijaya semakin menunduk.
" Tuan Difander Alfansa, seorang pemimpin dunia bawah yang sangat di takuti di selruh dunia. Dia menginginkan Akhtar sebagai penerusnya di dunia bawah, karena tuan Difander mempunyai dendam pada Ayahku. Ia ingin membuat keturunan Ayah menjadi bagian darinya. Maka dari itu, papa mengatakan Akhtar bukan bagian dari kita agar mereka tidak menggambilnya. Maaf kan papa ma, maafkan papa." Tangis Wijaya pun pecah.
Amirah mendekati suaminya, meraih wajahnya yang sudah dibasahi oleh airmata.
" Kenapa rahasia sebesar ini, papa menanggungnya sendiri." Amirah menatap wajah suaminya.
" Jangan sampai yang lainnya tau ma, papa tidak ingin Akhtar pergi meninggalkan keluarga ini dan menjadi bagian dari mereka. Jangan sampai ma." Wijaya menanggis dalam pelukan Amirah.
__ADS_1
" Tidak akan pa, tidak akan. Akhtar anak kita, sampai kapanpun akan tetap menjadi anak kita."