Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 39


__ADS_3

" Huhft... Untung saja tidak begitu parah, kenapa lagi tu bos lu Jas? Kesambet apa tu orang." Evan bertanya pada Jason.


" Huh, kau ini. Lu tau nggak status bos gue, di keluarga Wijaya?" Tanya Jason.


" Dia kan anaknya, kok lu jadi o'on. Aneh lu!!."


" Tuan Akhtar bukan anak mereka, itu yang membuat si bos jadi kayak gini. Tuan besar membuka semuanya di hadapan para tamu yang datang, lu bisa kan ngerasain apa yang si bos rasakan? Kalau lu nggak bisa, sunat aja tu otong. " Jason melempar Evan dengan bantal sofa.


" Busset Jas, pendek masa depan gue kalau sunat lagi, gila lu! Masa iya, om Wijaya kayak gitu sama Akhtar! Pantesan aja, selama ini sikapnya selalu keras sama bos lu. Gue aja, sampe geleng-geleng liatnya. Ternyata, OMG." Evan menepak jidatnya yang lebar.


" Makanya, jangan asal nyeblak aja tu mulut kalau ngomong. Apalagi, tadi lu bentak bos dengan keras. Gue jamin hidup lu bakalan berurusan terus sama bos, tanpa penggecualian. Mampus-mampus lu!!!" Jason melirik dan merutuki Evan.



" Dasar sialan lu, gue sumpahin juga lu sama kayak gue. Hem, ape lu?." Evan tak mau kalah.


" Aaiiss, sial bener hidup gue ketemu sama elu. Udahlah, gue mau liat keadaan bos dulu." Jason beranjak meninggalkan Evan.


Jason perlahan-lahan membuka pintu kamar si bos, terlihat bosnya itu sedang menanggis.



Jason menutup pintu kembali, lalu ia menggetuk dan membukanya.


Tok

__ADS_1


tok


tok


" Tuan." Sapa Jason.


Akhtar segera menghapus air matanya, setelah mendengar suara Jason memasuki kamarnya.


" Tuan, nona Aqilla sudah selesai. Apakah anda ingin menemaninya? " Jason menegur si bos.


" Bagaimana keadaannya Jas? " Akhtar masih dalam keadaan menunduk.


" Anda bisa melihat sendiri keadaan nona Aqilla, tuan."


" Nona Aqilla sangat mencemaskan keadaan tuan, ia juga sama terlukanya. Bahkan ia rela menggorbankan dirinya sendiri untuk menghentikan anda dari luapan emosi yang anda lakukan tadi, jangan menyakiti diri anda sendiri. Masih ada nona Aqilla yang menyayangi anda tuan." Jason menepuk pundak Akhtar.


Perlahan kesadaran Akhtar kembali, merenungkan setiap perkataan yang Jason ucapkan. Ia berjalan perlahan menuju dimana Aqilla berada, tidak menghiraukan apa-apa lagi yang berada disana.


" Heh, dasar manusia batu. Gue disini dianggapnya patung apa, sial!." Evan merutuki sikap Akhtar.


Perlahan Akhtar menggenggam tangan Aqilla, ia menciumi pundak dari tangan tersebut. Air matanya kembali menetes, merutuki kebodohan yang telah ia lakukan tadi.


" Maafkan saya! Saya sudah menyakiti dirimu lagi, Aqilla. Apa pantas, saya untuk memilikimu?." Akhtar kembali beruraian air mata.


Suara Akhtar semakin terisak, Jason maupun Evan yang mendengarnya. Mereka juga ikut merasakan kepedihan yang Akhtar alami, bagaimana tidak sedih. Orangtua yang selama ini ia anggap sebagai orangtua kandungnya, ternyata hanya sebatas orangtua angkat. Papa yang sangat tidak menyukainya, masih ia anggap wajar. Namun setelah kebenaran itu terungkap, Akhtar seperti mati rasa.

__ADS_1


" Tu tuan, jangam menanggis." Suara yang lemah itu terdengar.


" Sayang! Kamu sudah sadar, maafkan saya, maafkan saya." Akhtar sangat merasa bersalah.


" Tuan, tidak apa-apa. Jangan bersedih, janjinya mana?." Aqilla berusaha untuk tersenyum.


" Janji ???." Mulut ketiga pria yang berada disana, membeo.


" Hem, apa tuan sudah lupa janji yang kita sepakati dirumah saya waktu itu? Kita akan menghadapi bersama, apapun yang akan terjadi. Bukankah begitu?." Kini tangan Aqilla membalas genggaman tangan Akhtar.


" Jangan merasa sendiri, ada kami disini yang akan selalu bersama anda. " Senyum Aqilla.


" Aduh, meleleh gue Jas. Disenyumin wanita cantik kayak gini setiap hari, kenyang banget." Evan dengan kegombalannya.


Pppllaakk...


Tangan Akhtar sudah mendarat cantik di jidat Evan.


" Aaww... Kejam banget lu sama saudara sendiri, sakit gila." Evan menggelus jidatnya.


" Lama-lama tu mulut, gue jahit Van." Mata Akhtar sudah melotot.


" Aw, aw, aw... Orang gila sudah kembali, Jas. Temenin gue makan, laper gue. Daripada jadi santapan orang gila, cus kita makan. " Evan sudah beranjak dari ruangan itu, dan di ikuti oleh Jason.


Sama-sama gila aja saling berantem, gimana kalau tidak gila, saling bertarung mungkin ya. Aiss, Mang-gos lagi. Huft... Batin Jason.

__ADS_1


__ADS_2