
Beberapa hari kemudian, penawar racun itu bekerja dengan sangat baik. Perlahan-lahan juga kondisi Aqilla mulai membaik, hanya saja ia belum sadarkan diri.
Dengan sangat setia, Akhtar terus mendampingi Aqilla. Mengajaknya bicara, walaupun tidak ada jawaban. Untuk pekerjaan di kantornya, ia limpahkan semuanya kepada Jason.
" Cepatlah bangun sayang, kamu adalah wanita kuat yang pernah aku temui." Akhtar menggenggam tangan Aqilla dan menggusap kepalanya dengan perlahan.
Kerena terlalu lelah, Akhtar membaringkan tubuhnya untuk sekedar melepas lelah di sofa yang berada disana. Hingga tak terasa, ia pun terlelap dalam tidurnya.
Disaat yang bersamaan, Aqilla mulai menampakkan tanda-tanda bahwa ia telah sadar. Menggerakkan kelopak mata dan jari-jari tangannya, perlahan ia membuka mata.
Ini dimana? Aku ada dimana? Aqilla.
Mata Aqilla menyusuri tiap sudut ruangan tersebut, terasa sunyi hanya terdengar suara mesin monitor jantung dan gelembung oksigen. Disaat matanya menatap tubuh seseorang yang sedang tertidur, kemudian ia mengenali sang pemilik wajah itu.
" Mas ." Suara Aqilla dengan sangat pelan, bahkan nyaris tak terdengar.
Aqilla berusaha menggumpulkan kekuatan dan tenaganya, lalu ia kembali mencoba untuk memanggil Akhtar.
" Mas, Mas Akhtar." Suara Aqilla terdengar sedikit besar dari sebelumnya.
__ADS_1
Dalam tidurnya, Akhtar mendengar dengan sayup-sayup ada yang memanggil namanya. Suara itu sangat ia kenali, dengan perlahan ia memicingkan matanya dan melihat sekitar. Tidak ada seorang pun yang berada disana, lalu ia memutarkan bola matanya ke arah Aqilla.
" Sayang!!!." Akhtar melihat Aqilla sudah membuka matanya dan menatap kepadanya dengan senyuman.
Dengan sigap, Akhtar segera beranjak dari sofanya dan berlari kecil menuju Aqilla.
" Sayang! kamu benar sudah sadarkan? " Akhtar seakan tak percaya atas apa yang ia lihat saat ini.
Aqilla tersenyum menatap wajah Akhtar yang seperti orang terkejut, ia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Akhtar.
" Mas." Aqilla menyebutkan panggilan nama Akhtar kembali.
" Iya sayang, mas ada disini." Lalu Akhtar menekan tombol disamping Aqilla.
Tak lama kemudian, Evan datang beserta dua orang perawat.
" Syukurlah, akhirnya kakak ipar sudah sadar! Baiklah, saya periksa dulu ya." Evan menggambil peralatannya untuk memeriksa keadaan Aqilla. Baru aja ingin menempelkan steteskop, terdengar suara sumbang yang berasal dari seseorang.
" Periksa ya periksa, apa gunanya kau membawa dua perawat wanita kemari, jika mereka tidak kau gunakan. Mundur!!." Suara sumbang itu berasal dari Akhtar yang memiliki tingkat kecemburuan yang sangat tinggi dan juga tatapan yang sangat mematikan.
__ADS_1
" Ais!!! Disini, aku yang dokternya atau kau, hah? Selalu saja, lihat kakak ipar! Calon suamimu ini sangat pencemburu, jika bukan karena dia adalah saudaraku. Maka sudah aku tendang dia dari sini, menyebalkan saja!!!." Evan mulai dengan tingkah tengilnya yang suka mengadu.
" Kau !!!." Akhtar menyeringai kepada Evan.
Melihat tingkah konyol dua orang pria dihadapannya saat ini, membuat Aqilla dan kedua perawat disana menahan tawa.
" Mas, sudah! Dokter Evan hanya ingin melihat kondisi saja, kalau dokternya nggak kerja. Makan ngaji buta dong namanya!" Aqillah mencoba mengalihkan perhatian Akhtar yang mulai cemburu.
" Tuh denger! Kakak ipar saja mengerti tugasku, dasar kau saja yang aneh! Minggir!!!." Evan menepis bahu Akhtar.
" Mas, sini! Biar nggak cemburuan lagi." Aqilla mulai memahami karakter dari pria anehnya itu, ia meminta Akhtar untuk berada disisinya dan menggenggam tangannya.
Akhtar hanya menahan tawanya, ada rasa senang dan bahagia dalam dirinya. Dengan perlakuan Aqilla yang sudah menunjukkan perhatian pada dirinya, maka dari itu ia semakin memperlihatkan bahwa Aqilla adalah miliknya.
......................
Di lain ruangan, Alfa masih terbaring lemah diatas tempat tidur. Berbagai macam alat rumah sakit berada pada tubuhnya, guna untuk menunjang kehidupannya.
" Qilla, Qilla jangan tinggalkan kakek nak. Qilla!!!."
__ADS_1
Suara tersebut berasal dari mulut Alfa, ia menggigau. Dalam keadaan yang masih tidak sadarkan diri, ia menyebut nama Aqilla.