Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 92


__ADS_3

Sudah beberapa hari, Haykal tidak bertemu dengan sang kakak. Jika bertanya dengan Steiven, maka jawabannya akan tetap sama.


" Kak Steiv, kemana kak Qilla? Masa nggak ada kabarnya, mau nanya sama kakek. Tapi kakeknya aja nggak tau ada dimana, hayolah kak. Kasih tau Haykal!." Kalian tega bener, menyembunyikan kak Qilla!." Haykal mulai terpancing emosinya, berjalan mendekati Steiven.


" Katakan padaku, dimana kak Qilla???!!!" Haykal sudah mencengkram kerah baju Steiv.


" Heh, kau mau mengancamku anak ingusan. Berani sekali kau!!!. Steiven tidak kalah dengan kemarahannya.


" Apapun yang bersangkutan dengan keselamatan kakakku, akan aku buat perhitungan pada mereka. Termasuk kau, bedebah! Aku hanya diam, karena kak Qilla melarangku untuk membalas perbuatanmu. Menculik kakakku dan membuatnya hampir meregang nyawa, kalau bukan bang Evan yang melihatnya sendiri. Mungkin kakakku sudah tinggal nama, dan kau juga akan kubuat menderita. Katakan, dimana kakakku!!!." Haykal sudah sangat tersulut emosinya.


Bagaikan sebuah layangan putus, Steiven menjadi sangat terpukul. Menganggap bahwa tidak ada yang mengetahui perbuatannya, tapi ternyata semua menahan diri untuk tidak mehakimi dirinya.


" Katakan, cepat!!! Dimana kak Qilla? Jangan bilang kalau kau menyelakainya lagi, cepat bilang!!!." Haykal langsung melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah dan tubuh Steiven.


Mendapat pukulun dari Haykal, Steiven dengan sangat pasrah menerimanya. Tidak ada perlawanan yang ia berikan, semakin merasa bersalah atas perbuatannya.


Tap


Tap


Tap


" Habisi saja dia jika kau mau, Haykal." Suara Alfa bergema diruang tersebut.


" Kakek!!!." Mulut Haykal membeo.



" Ya, kakek dengan senang hati membiarkannya. Jika kau membunuhnya, kakek tidak akan menghukummu. Sudah pantas anak bandel dan bodoh ini menerimanya, jika tidak. Kakek sendiri yang memberikannya hukuman!." Tatapan tajam Alfa, tertuju kepada Steiven yang kondisinya sudah hampir babak belur oleh Haykal.


" Kek, dimana kak Qilla? Kenapa tidak ada yang memberitahukan pada Haykal, apa yang sebenarnya terjadi kek?." Haykal sudah sangat geram, menekankan perkataannya kepada Alfa.

__ADS_1


" Coba kau tanyakan pada anak bodoh itu? Apa dia mau menjawabnya?". Mata Alfa melirik Steiven dengan penuh amarah.


" Ya ampun!!! Yang mana yang bener kek! Kata kak Steiv tanya sama kakek, ini. Kakek lempar lagi nanyain sama kak Steiv. Ayolah kek, Haykal itu nyariin kak Qilla. Jawab aja kenapa sih, ribet bener lama-lama." Haykal menghempaskan tubuhnya pada sofa diruangan tersebut.


Alfa mendekati Haykal dan ikut bersamanya untuk duduk, tanpa melihat Haykal. Alfa membuka suara.


" Aqilla sedang dalam keadaan tidak baik, jangan menyalahkan siapapun. Ini hanya keteledoran kakek dalam menjaga kalian, jika kau ingin menemui ya. Ajak anak bodoh dan keras kepala ini kerumah sakit, biar dia bisa mencuci otaknya yang tidak beres itu."


" Rumah sakit? Memangnya kak Qilla kenapa kek?" Haykal merasa sangat terkejut mendengar perkataan kakeknya.


" Tidak usah banyak bertanya, kakek pusing dengan mulutmu yang cerewet itu. Kakakmu yang perempuan saja tidak cerewet, tapi malah kau!!!. Pergilah, dan kau Steiv! mulailah untuk berubah." Alfa meninggalkan mereka berdua.


Haykal yang sudah sangat penasaran dari perkataan Kakeknya, secepat mungkin ia menarik Steiven.


" Haykal tidak mau semakin membenci kakak, cepetan kerumah sakit. Kalau nggak, Haykal akan membuat perhitungan sama kakak lagi."


" Hei tunggu dulu, kau tidak lihat wajahku yang sudah begini?" . Steiven merasa tidak PD pergi dengan kondisi wajah yang babak belur.


" Ahh!! Iya, kau sama saja seperti kakek."


Lalu mereka berdua berjalan menuju mobil milik Haykal, Steiven sudah tidak bisa membantah lagi. Tubuhnya sudah lemah, habis mendapat perlawanan dari Haykal.


......................


Dalam persembunyiannya, Kevin sedang merancang suatu strategi untuk melakukan perlawanan.


" Apa kau sudah menyusunnya, Nick?" Kevin melihat asistennya itu sedang fokus.


" Siap tuan! Semuanya sudah siap, kita hanya menunggu perintah tuan saja untuk melaksanakannya." Nicky dengan tenang menjawab bosnya.


" Baiklah, hubungi Andre untuk meraih akses kesana. Aku ingin kali ini, kita tidak akan gagal." Kevin tersenyum dengan sudut bibirnya yang naik.

__ADS_1


" Baik bos." Jawab Kevin.


Disaat Kevin sudah merasa senang dengan strategi yang dibuat oleb Nicky, terdengar suara kegaduhan dari luar tempat mereka.


Bbraakk


Bbruukk


" Ada apa itu Nick? Coba kau lihat." Nicky hanya menjawab dengan anggukan kepala dan segera melihat kegaduhan tersebut.


Kevin menunggu hingga beberapa saat, namun tidak ada tanda-tanda Nicky kembali. Dengan penuh amarah, Kevin berjalan menuju luar rumah.


Kkrrraaakkk!!!


Aakkhhh!!!


Saat Kevin berada di pertengahan pintu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengguncinya dan sebuah senapan menempel di keningnya.


" Ka kalian siapa?". Orang tersebut berpakain serba hitam dan wajah yang tertutupi dengan penutup.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Kevin, orang itu dengan mudahnya menakhlukkan Kevin dengan sekali pukul di tengguknya hingga Kevin tidak sadarkan diri.


" Lapor tuan, target sudah kita dapatkan." pria itu berbicara melalui ponsel.


" Bagus, bawa ketempat biasa." jawab orang tersebut.


" Baik tuan."


Lalu mereka segera membawa kevin, menuju tempat yang sudah mereka siapkan.


......................

__ADS_1


__ADS_2