Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 94


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, ponsel Haykal berdering. Ia meraih ponselnya yang berada di saku jaketnya, melihat nama sang penelfon. Haykal menarik nafas panjang, dengan engan Haykal membiarkan ponselnya.


Melihat sikap Haykal, Steiven dengan kebiasaannya yang suka mencampuri urusan orang lain.


" Heh, bocah ingusan! Angkat saja." Dengan tatapan sinisnya, Steiven menyindir Haykal.


" Kalau nggak tau, lebih baik diam saja kak. Jangan sampai, wajah kakak itu semakin Haykal buat hancur." Mata Haykal tetap fokus memandang kedepan.


Lalu ponsel Haykal berdering lagi, bagaimana pun akhirnya Haykal menerima panggiln telfon tersebut.


" Assalamu'alaikum kak."


" Wa'alaikumussalam, Kal. Qilla mana sih, kenapa sulit banget dihubungi?." Tanya sang penelfon, yang ternyata adalah Meyra.


" Huhf! Kakak datang aja kerumah sakit ****, nanti disana Haykal jelasin, Oke. Assalamu'alaikum." Haykal langsung memutuskan pembicaraannya, bakalan panjang jika meladeni si bibik gosip itu bicara.


Steiven hanya melirik sinis pada Haykal.


" Apa kakak lihat-lihat, Hah!!! Jika kau dengan mudah menilai aku tidak meladeni yang nelfon tadi, bersiaplah nanti dirumah sakit. Akan aku buat kau juga tidak mau bicara padanya." Haykal melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, bagi Steiven itu sudah biasa.


Perkataan Haykal mengenai orang yang menelfon tadi, membuat Steiven menaikkan satu alis matanya ke atas. Namun ia dengan malas, membuang muka dari Haykal.


......................


Rumah sakit...


" Hayolah... Saya ini ingin melihat kondisi Qilla saja, bukannya untuk membunuhnya. Kalian ini, minggir!!!." Akhtar berusaha menerobos penjagaan dari penggawal yang ada.


Para penggawal itu tidak menjawab perkataan Akhtar, mereka masih tetap melarangnya untuk masuk ke dalam ruang perawatan Aqilla.


" Kalian ini benar-benar membuatku marah!!!." Akhtar yang sudah menahan amarahnya, dengan satu kali hempassan.


Tubuh salah satu penggawal itu jatuh di lantai, Akhtar menyerang kedua penggawal itu dengan kekuatannya. Yang kemudian pada akhirnya, senjata yang selama ini yang berada di dalam jasnya itu ia gunakan dan meletakkanya dikepala penggawal tersebut.

__ADS_1


" Jangan pikir, saya akan mengikuti peraturan kalian, Hah!!! Jika masih melarangku untuk masuk, maka peluru ini akan bersarang di kepala kalian berdua!!!." Lalu Akhtar mendorong tubuh kedua penggawal itu menjauh dari sana.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosaan, ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan perawatan orang yang sangat ia cintai. Matanya seketika membeku, melihat tubuh belahan jiwanya terpasang berbagai peralatan medis dan masih tidak sadarkan diri.


Berjalan perlahan mendekati, berlutut disampingnya dan menggenggam tangannya.


" Sayang! Bangunlah, jangan tidur terlalu lama. Apa kau tega membiarkanku selalu begini, bangunlah sayang." Akhtar meneteskan air mata.


Kepalanya terasa berat, hanya bisa menunduk dengan air mata yang sudah tak terbendung. Menyesali kejadian yang menjadikan Aqilla seperti ini, dadanya terasa sesak.


Tiba-tiba!!!


Ada sebuah tangan yang menyentuh wajahnya, Akhtar sangat terkejut. Ia dengan perlahan mengangkat kepalanya dan melihat tangan siapa itu.


Saat matanya menatap siapa pemilik tangan tersebut, membuatnya tubuhnya seketika menjadi kaku.



Aqilla tersenyum dan membalas tatapan dari Akhtar, Aqilla belum bisa menggerakkan mulutnya untuk berbicara. Tenggorokkannya terasa sangat kering dan perih, Akhtar lalu menekan tombol disamping Aqilla.


Hingga beberapa saat, Evan dan para perawat datang.


" Wow!!! Kakak ipar, kau sudah sadar!." Evan sangat kaget melihat Aqilla sudah membuka matanya.


Tak!!!


Satu pukulan mendarat di kepala Evan.


"Aaakhhh!! Sakit gila', kau ini." Protes Evan.


" Cepat periksa, simpan saja keterkejutanmu itu." Akhtar menyeringai kepada Evan.


" Huh, kau tau kakak ipar. Pria ini sudah menjadi gembel dan orang gila, semenjak kau tak sadarkan diri." Tangan Evan mulai melakukan pemeriksaan pada Aqilla, namun lagi-lagi.

__ADS_1


Pak!!!


Geplakkan lima jari mendarat kembali di kepala Evan.


" Aakhh!! Kau selalu saja memukulku, akan kubalas kau nanti. Dasar tidak tau malu, akan kuhasut kakak ipar biar tidak suka padamu." Evan melanjutkan kegiatannya.


Aqilla dan kedua orang perawat yang berada di ruangan itu, hanya bisa tertawa melihat kekonyolan dari Akhtar dan Evan.


Beberapa saat, pemeriksaan pun selesai.


" Untuk sementara, kakak ipar jangan terlalu banyak pikiran dan bergerak. Banyakin istirahatnya, dan kau! Jangan membuat kakak ipar melalaikan perintahku ini, jika tidak. Akan aku adukan kau pada kakek tua itu."


Akhtar melotot mendengar perkataan Evan rasanya ia ingin mengcengkram mulut lemesnya Evan.


" Oke kakak ipar, adikkmu ini harus melanjutkan tugasnya kembali." Evan dengan gaya tengilnya.


Bbraakk!!!


Pintu ruang perawatan terbuka dengan kasar.


" Kakak!!!"


" Aqilla!!!."


" Qilla!!!."


......................


💐💐💐


Siapakah pemilik dari suara tersebut???


Tungguin bab selanjutnya dengan penuh kesabaran ya...

__ADS_1


__ADS_2