
Ke esokan harinya...
Aqilla kini telah bangun dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak, perkataan dari Steiven selalu memenuhi isi kepalanya. Dengan bermunajat kepada Sang Pemilik seluruh isi dunia, ia merasakan kedamaian.
Ya Tuhan, aku tau. Masih banyak rahasia yang Engkau persiapkan untukku, rangkul aku untuk selalu senantiasa ingat padaMu. Semoga, keputusanku untuk resign. Engkau ridho'i ya Rabb. Aqilla.
Ponsel Aqilla kini bergetar, ia segera melihatnya.
Pria aneh calling...
" Assalamu'alaikum, tuan."
" Wa'alaikumussalam, selamat pagi sayang! Apa hari ini, kau punya waktu untukku? " Tanya Akhtar.
" Sepertinya ia, saya hanya sebentar kekantor. Hanya memberikan surat untuk resign, setelah itu free." jelas Qilla.
" Resign??? Wah, rupanya cintaku ini banyak sekali berhutang penjelasan." Suara Akhtar terdengar seperti marah.
" Hem, iya. Saya akan menjelaskannya pada tuan. Jangan marah ya, sampai bertemu nanti. Assalamu'alaikum." Aqilla langsung memutuskan pembicaraannya tanpa harus menunggu jawaban dari Akhtar, bisa panjang si pria aneh itu jika bertanya.
Aqilla segera beranjak dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju meja makan, terlihat sang kakek dan adiknya sedang menikmati sarapan pagi.
" Selamat pagi, kek!." Sapa Aqilla.
" Selamat pagi sayang, sarapanlah." Alfa melipat kembali koran yang ia baca sebelumnya.
" Heh, kakek saja yang disapa. Kau membuatku cemburu kak, biasanya setiap pagi kau meramaikan kamarku. Tapi sekarang, aihh kau ini." Haykal memprotes Aqilla.
" Hehehe, udah jangan cemburu. Udah gede' juga, lagian kalau kakak meramaikan kamar kamu itu juga percuma. Lah kamar kamu itu kedap suara, bisa lecet pita suara kakak." Aqilla tersenyum.
" Iiss kau ini, dasar perhitungan." Balas Haykal.
" Sudah-sudah, tidak baik berselisih di hadapan makanan. Haykal, bagaimana sekolahmu? " tanya Alfa.
__ADS_1
" Lancar kek, hanya saja. Sekarang banyak sekali para wanita mencari perhatian, buat kepala Haykal sakit." Sambil menggigit roti di tangannya, Haykal memasang wajah kesal.
" Wah, kenapa dengan cucu kakek ini."
" Nggak taulah kek, kayaknya semua wanita itu matre." Jawab Haykal.
" Eh, enak saja bilang matre. Nggak semuanya juga kali, dasar mulut ember." Aqilla juga memprotes.
" Hei sudah, kenapa jadinya kalian yang bertengkar. Hayo, lanjutkan sarapannya." Alfa sangat bahagia, bisa merasakan ketentraman dalam hatinya. Berkumpul bersama cucunya yang meramaikan mansion yang sudah lama sepi.
Tak
Tak
Suara sepatu menuruni tangga, terlihat Steiven berjalan menuju meja makan.
" Selamat pagi kek, pagi semua." ujarnya.
" Pagi ." Jawab mereka bertiga.
" Aaisss, selalu saja bilang bodoh. Iya, iya. Sudah siap semuanya."Rutukan Aqilla menatap Steiven.
" Apa yang di siapkan kak?" Tanya Haykal.
" Diam !!!". Jawab Aqilla dan Steiven.
" Iiiss kalian ini, kek. Haykal berangkat saja, lama-lama melihat mereka berdua, membuat otakku jadi gede'." Haykal menciumi punggung tangan sang kakek.
" Hei, kakak nggak ni!" Aqilla protes kepada Haykal.
" Ogah, tangan kak Steiven aja tu. Bila perlu, kakak gigit sampe tulang-tulangnya." Haykal melihat tatapan Steiven yang menyeramkan, ia memilih langkah seribu untuk kabur.
" Haykal !!!" Teriak Aqilla.
__ADS_1
" Hei, berhenti berteriak. Ini bukan di hutan, kau ini makan apa. Sungguh aneh!." Seringai Steiv.
Aqilla menatap Steiven dengan menaikkan sudut bibirnya, Melihat kegaduhan di pagi hari. Membuat suasana mansion menjadi cerah, para mermaid pun tersenyum bahagia.
Selasai sarapan, Aqilla dan Steiven segera berangkat menuju kantornya sendiri-sendiri. Karena mereka berangkatnya bersamaan, akhirnya Steiven mengajak Aqilla untuk satu mobil dengannya.
Didalam perjalanan, Steiven kembali menginggatkan Aqilla untuk segera memberikan surat penggunduran dirinya. Dan mobil itu berhenti di depan pintu gerbang kantor Tempat Aqilla bekerja.
" Ingat, hubungi jika terjadi sesuatu."
" Iya kak, bawel." Aqilla menutup pintu mobil dengan keras.
Bbrraakkk!!!
" Hei, kau kira ini mobil angkot apa. Sembarangan saja!!!." Teriak Steiven dari dalam mobil, Lalu ia menjalankan mobilnya.
......................
Saat sudah memasuki kantor, Aqilla berjalan menuju ruangannya. Menatap sendu setiap wajah teman-teman dan juga pastinya akan rindu dengan kerjaan yang menumpuk, ketika ia baru saja duduk.
" Qilla ". Suara teriak yang sudah sangat Qilla kenal, siapa lagi kalau bukan Lastri.
" Hei, bisa tidak kalem sedikit! Selalu saja." Protes Aqilla.
" Eleh, biasanya juga nanyain gue nggak teriak-teriak." Cibir Lastri.
" Ah kau ini, sini peluk dulu. Aku akan bakalan sangat merindukanmu!." Bisik Aqilla.
Lastri bingung dengan ucapan Aqilla, lalu ia melepaskan pelukkan itu, menatap Aqilla dengan sangat tajam.
" Apa maksudnya Qilla?."
" Aku akan risign, Las. "
__ADS_1
"Apa!!! Serius lu Qill? Yah, sepi deh." Lastri dengan muka manyun dan sedihnya.
Aqilla hanya tersenyum, ia lalu beranjak menuju ruanh HRD dan menyerahkan berkas risignnya. Awalanya, kepala HRD tidak menyangka bahwa Aqilla akan mundur. Dalam kontrak kerja tidak ada masalah dan mau tidak mau akhirnya berkasnya diterima.