
Setelah hari itu, Akhtar akhirnya tidak memperdulikan lagi ancaman yang papanya berikan. Untuk mamanya, Beni sudah menyakinkan Akhtar bahwa ia yang akan menjaga dan menjamin keselamatan mamanya.
Kini Akhtar memperketat penjagaan untuk Aqilla, informasi dari sang kakak menjadi acuannya. Mereka akan tetap terlihat seperti biasanya di hadapan papanya, saling membenci dan suka bertengkar. Namun, untuk selanjutnya mereka akan bekerjasama satu sama lain.
" Hem, mau ngapain ya? Haykal sudah berangkat, pesanan juga belum ada. Kerjaan rumah juga sudah selesai, kerja sampingan nggak ada. Mau nyari kerja, nggak boleh oleh si pria aneh itu. Sungguh mirisnya hidupku ini." Aqilla melamunkan dirinya dari jendela kamar, menatap tmbeberapa tanaman yang berada di sekitar rumahnya.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
Ya ampun, udah kayak nggak ada kerjaan lain aja ni orang.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam, jangan keluar rumah dan jangan cari kerja lagi. Menurutlah." Akhtar dalam mode yang cerewet.
" Kalau nggak keluar, gimana mau belanja untuk dapur tuan?."
" Biar nanti Jason yang akan menggantarkannya, jangan bandel. Kirimkan saja daftar bahan-bahan yang diperlukan ".
Percuma saja berdebat dengan pria aneh ini, sampe kapanpun nggak bakalan memang gue. Batin Aqilla.
" Baiklah." Akhirnya Aqilla menyerah.
" Kenapa wajahmu terlihat pucat sekali sayang? Kamu sedang sakit? Apa Kita kedokter saja sekarang." Cemas Akhtar melihat wajah Aqilla yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
" Nggak lagi sakit tuan, memang wajah saya kenapa? udah kayak gini dari dulu. Mungkin hanya perasaan tuan saja, ya sudah. Nanti saya kirimkan list untuk bahan-bahan yang mau dibeli, terima kasih tuan. Assalamu'alaikum." Aqilla dengan cepat memutuskan sambungan VC.
Tidak bisa dimungkiri, Aqilla memang terus merasakan sakit dibagian perutnya. Hal itu yang menyebabkan wajahnya terlihat pucat, menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Aqilla perlahan untuk membukanya, setelah pintu terbuka.
" Tuan Jason."
" Ini semua yang anda butuhkan nona." Jason menunjukkan barang bawaannya.
" Cepat sekali! Terima kasih tuan, bisakah itu semua diletakkan didapur?." Pinta Aqilla.
" Baiklah." Jason bersama bawahannya, meletakkan pesanan Aqilla di dapur.
Bagaimana tidak cepat nona, tuan akan menghukum saya bila tidak segera. Dasar kalian berdua ini, membuatku sangat pusing dan seperti wedua conggek. Aaiisshhh... Batin Jason.
" Aaaaaa... Ppppphh!!!."
Jason mendengar suara teriakan dan ia langsung begerak menuju sumber suara, terlihat Aqilla yang berada dalam genggaman seseorang dalam keadaan mulut di bungkam dan memberontak.
" Lepaskan!!!." Teriak Jason.
" Jangan ikut campur, sampaikan pada tuanmu yang angkuh itu. Wanitanya ini aku sandera, jika ingin melepaskannya. Suruh tuanmu untuk datang sendiri menemuiku, aku tidak suka melibatkan aparat. Camkan itu. " Ujar pria yang berdiri di samping Aqilla.
" Apa mau anda?". Rahang Jason menggeras.
__ADS_1
" Kematian Tuanmu!." Teriak pria itu, yang tak lain adalah Steiven.
" Jika kalian tidak menuruti apa yang aku perintahkan, maka bersiaplah untuk menyediakan pemakaman wanita ini." Steiven berlalu membawa Aqilla.
Jason tidak bisa berbuat banyak, jika ia memaksa untuk menyerang Steiven. Maka itu sangat membahayakan nyawa Aqilla, lalu ia segera memberitahukan bosnya tentang penculikan ini melalui ponselnya.
" Tuan, nona Aqilla dibawa Steiven." Jason dengan nafasnya yang memburu.
" APA!!! Kenapa bisa terjadi, Jason!!! Kenapa bisa..." Akhtar menjadi sangat marah.
" Kau begitu teledor, cepat kerahkan semuanya. Temukan titik dimana Aqilla berada, SECEPATNYA!!!." Tariak Akhtar.
" Baik tuan."
Akhtar segera beranjak dari ruangannya dan segera menuju markasnya, meminta Leo dengan segera melacak keberadaan kekasihnya.
" Sayang! Mau kemana?" Suara wanita yang sangat ia benci terdengar, Joana.
Tanpa memperdulikan Joana, Akhtar berlalu meninggalkan kantornya.
" Heh, dasar manusia batu. Ada apa dengannya, kenapa terlihat sangat terburu-buru?" Merasa sangat penasaran, Joana mencoba untuk mengikuti kemana Akhtar pergi.
Kecepatan mobil Akhtar tidak bis ditandingi, namun Joana masih tetap mengikutinya. Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya mereka berhenti di salah satu bangunan tua yang terletak diperbatasan antar negara. Joana sangat takjub dengan bangunan itu, namun berhenti dengan jarak yang sangat jauh dari Akhtar, agar ia tidak ketahuan.
" Bangunan apa ini? Apa benar dia seorang pemimpin mafia? ." Pikiran Joana sangat ingin tau.
__ADS_1