
" Aqilla Nadifa." Ucap Kevin.
Aqilla merasa aneh dengan sikap bosnya itu, tapi ia berusaha tetap tenang.
" Iya tuan, saya." aqilla menjawab.
" Bagaimana pendapat anda, setelah bekerja disini?." Kevin mencondongkan tubuhnya sedikit menggarah kehadapan Aqilla.
" Eh, sa saya cukup nyaman tuan." Dengan sedikit bergetar, Aqilla menjawabnya.
" Baguslah, kinerja kamu cukup bagus samlai saat ini. Semoga kamu betah dan nyaman bekerja disini, selamat bergabung!." Kevin memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Aqilla.
Aqilla menerima jabat tangan si bos, lalu ia undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
Cantik juga, wanita sang anak pungut! Sepertinya, aku tertarik untuk memilikinya. Batin Kevin.
......................
Suasana ruangan itu sangat mencekam, bagaimana tidak. Akhtar terlihat seperti bukan manusia, menghempaskan beberapa benda yang berada di sekitarnya.
" Bagaimana bisa kau belum menemukannya, Jason!!! Apa kau sudah sangat bodoh sekarang, hah!!!" Akhtar berteriak.
" Maaf bos, semua akses yang kita punya. Terkena virus, saya belum bisa memperbaikinya." Jason menunduk.
Bug...
Bug...
" Aku tidak mau tau, Jason!!!." Akhtar memukuli Leo dengan brutal.
" Tuan! Saya mendapatkan informasi tentang nona." Leo menahan Akhtar untuk tidak memukuli Jason.
" Hah, hah. Katakan!!!." Muka Akhtar sudah sangat merah.
" Nona sekarang bekerja di perusahaan rival anda tuan, Kevin Alberto. Ini informasinya, tuan!." Leo memberikan beberapa bukti bahwa Aqilla bekerja disana.
Akhtar meremas semua informasi yang Leo berikan, emosinya sudah sangat tidak terbendung.
__ADS_1
Ia melangkah keluar dari ruangannya, Jason dan Leo ikut menggekor dari belakang.
" Hei, kau bisa dapatkan darimana itu info nona? Kenapa aku susah sekali menembus jaringan mereka." Jason masih tampak bingung.
Pplaaakk!!!
Pukulan mendarat tepat di kepala Jason, ia pun hanya mampu meringgis dan melotot.
" Kau ini, selalu saja kepalaku yang jadi sasaran!!." Geram Jason.
" Dasat lemot, makanya tu otak jangan dipakai kerja terus. Pakai ID rahasia untuk membukanya, kau tau kan!!!." Leo berjalan dengan sombongnya.
" Aih!!! Kenapa aku bisa lupa hal itu, aakhh." Jason merutuki kebodohan dirinya sendiri.
......................
Disaat jam kerja sudah selesai, Aqilla masih berkutik dengan tumpukkan kertas dan layar datar di hadapannya.
" Qilla, yuk pulang!!!" Lastri sudah berada di depan meja Aqilla.
" Huft! Kayaknya lembur deh Las, kamu pulang duluan saja. " Qilla masih memandangi pekerjaannya.
" Maunya si kayak gitu, tapi... Tuu!!!." Aqilla menggarahkan bibirnya.
Lastri pun menggikuti arahan dari bibir Aqilla, sontak saja Lastri langsung membuang muka.
" Woow, kalau itu. Aku nggak ikut-ikut deh Qill, tu orang nyeremin. Kayak mafia girl, ups!". Ucapan Lastri membuat Veny sang sekretaris bos mereka menoleh dengan tatapan tajam.
" Elu si, ember!!!. Udah sana pulang, gih. " Aqilla merutuki kecerobohan Lastri.
" Iya, iya. Selamat berjuang ya, semangat!!!." Lastri langsung kabur.
Huh, ayolah Qilla. Kamu pasti bisa.! Batin Aqilla.
Baru saja mengerjakan satu berkas, ponsel Aqilla sudah bergetar.
Dddrrtttt...
__ADS_1
Dddrrtttt...
Kakek!!!
" Assalamu'alaikum kek.!."
" Wa wa Wasalam, kamu kenapa belum pulang, hah! Sudah jam berapa ini Qilla!!!." Alfa meninggikan suaranya.
" Huft! Qilla lembur kek, maaf lupa ngabarin kakek."
" Tidak ada alasan, pulang!!! Robert sudah menunggu.!."
Tut
Tut
Tut
Astaghfirullah!!!
Mau tidak mau, akhirnya Aqilla membereskan mejanya dan beranjak untuk pulang. Percuma saja berdebat dengan sang kakek, ancaman untuk meratakan bangunan tempat ia bekerja selalu saja jadi andalannya.
Aqilla melihat kiri dan kanan, berharap tidak bertemu dengan sekretaris algojo itu. Terlihat sepi, ia langsung mempercepat langkahnya untuk segera tiba di lobby. Paman Robert, orang kepercayaan sang kakek sudah menunggunya.
Saat lift terbuka, Aqilla sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Tubuhnya langsung terdiam kaku tak bergerak, ingin ia berteriak. Tapi percuma saja, lidahnya terasa kelu.
Ia bingung dengan perasaannya saat itu, bahagia atau sebaliknya! Aqilla segera menyadari akan suasana yang ia rasakan, dengan cepat ia menundukkan kepala dan bermaksud untuk pergi dari sana.
Namun percuma saja, ketika kakinya melangkah. Sebuah tangan yang kekar menariknya untuk berjalan mengikuti orang tersebut, Aqilla mencoba memberontak. Tapi tenaganya kalah jauh dengan orang tersebut.
" Lepaskan!!! Lepaskan!!!." Teriak Aqilla.
Orang itu hanya diam, dan masih menarik Aqilla menuju sebuah mobil.
" Masuk!!!." Teriak orang tersebut dengan tatapan sangat membunuh.
Nyali Aqilla langsung menciut, tubuh kecilnya terhempas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
" Jalan!!." Titahnya
Mobil itu berjalan melewati sebuah monil yang berada di depan gedung perkantoran, yang tak lain adalah mobil Robert.