
Setelah beberapa hari kepergian Wijaya, Akhtar semakin disibukkan oleh pekerjaan. Untuk perusahaan miliknya, ia percayakan kepada Jason. Sedangkan dirinya, mengatasi perusahaan Wijaya dan juga Beni. Sungguh membuat kepalanya berdenyut pusing.
Dddrrtrr...
Dddrrtrr...
Ponsel Akhtar bergetar, sebuah panggilan masuk.
" Hallo."
" Hallo bos, kita mendapat serangan. Beberapa tim kita tewas, kami belum bisa mengidentifikasi siapa pelakunya." Leo memberikan kabar kepada Akhtar.
" Ya ampun!!! Leo... Siapa lagi ini. Nggak kelar-kelar." Akhtar semakin dibuat pusing.
" Sorry bos, kayaknya ni orang sniper ulung. Kita semua kewalahan dibuatnya." Leo mengadu karena tidak bisa menembus jaringannya, untuk mencari informasi penyerang tersebut.
" Kepalaku semakin sakit dengan kebolotanmu itu, LEO!!! Gunakan kode rahasia milik kita, bodoh!!! Harus berapa kali aku mengingatkanmu!!!." Akhtar menjadi geram dengan kecerobohan Leo yang selalu terjadi.
" Ah iya, maaf bos. Lupa! Hihihi..." Leo menggarut kepalanya yang tak gatal.
Tut tut tut...
Akhtar memutuskan pembicaraannya tanpa mendengarkan ucapan Leo lagi.
" Aaiihh!!! Dasar bos tidak berakhlak dan beradab, tapi kok gue mau ya jadi bawahannya?"
Dor
__ADS_1
Dor
" Busseett!!! Baru dibilangin, ni orang nyerang lagi." Leo segera mengambil langkah untuk berlindung dan mencari titik kelemahan dari penyerang.
Dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, Leo berusaha membalas serangan yang ada. Namun, penyerang tersebut tiba-tiba menghilang. Hal ini membuat Leo sangat geram dan merutuki kejadian tersebut.
" Sial, sial, sial. Cepet banget tu orang kabur, makan apa bisa kayak gitu. Aahhh!!!."
Tap
Tap
Tap
Seperti ada yang datang, mungkin saja mereka masih ada disini. Leo.
Leo melihat bayangan pergerakan seseorang, langsung saja ia dapat menangkapnya dan ia berikan pukulan telak di kepalanya.
Kenapa suaranya seperti aku kenal. Leo.
" Woi leo, kenapa kau malah memukul Jason? Gila' lu, !." Suara itu ternyata milik Adam.
Leo langsung melepaskan tangannya dari Jason, dan langsung dapat bonus balasan darinya.
" Aduh, sakit, sakit Jas. Sorry, gue nggak sengaja, sakit woi." leo mengaduh kesakitan karena Jason membalas perbuatannya.
" Makanya jadi orang jangan seroboh o'on, waspada si waspada. Mata dipakek juga kali!." Adam memprovokasi mereka berdua.
__ADS_1
" Lagian, lu pada muncul tiba-tiba. Ya gue mana tau, kirain gue lu itu musuh. Aah, gila' sakit bener pukulan lu Jas." Leo meringgis akibat balasan dari Jason.
" Rasain!!! Siapa yang melakukan hal ini? Sepertinya mereka ahli dalam menembak. " Jason melihat beberapa korban.
" Bener, bersih banget ni orang ngelakuinnya. Wah, alamat ini." Adam menggelengkan kepalanya.
" Alamat apa? " tanya Leo.
" Alamat bos turun ranjang, ya alamat bos turun tangan o'on. Leo.... lu bego', bodoh, o'on apa dungu sih! Empet banget gue jadi liat lu, wajar aja bos suka nahan ati ama lu." Adam menjadi emosi dengan lemotnyo Leo.
Ketiga orang tersebut, masih memikirkan pelaku penyerangan. Membereskan yang sudah terjadi, membuat mereka memutar otak dengam sangat keras untuk menemukan siapa pelakunya.
......................
Mansion Alfa....
Semenjak kejadian penolakan Aqilla terhadap dirinya, membuat Alfa sedikit menjauh. Ia selalu mengajaknya untuk sarapan berasma, namun selalu ditolak. Ia tidak memberikan izinnya untuk Aqilla pulang kerumah lamanya, Alfa tidak ingin nyawa cucunya itu dalam bahaya.
" Tuan, sepertinya ada yang ingin balas dendam pada kita. " Robert memberikan beberapa bukti.
Alfa menaikan satu alisnya, dan tersenyum meremehkan.
" Ternyata, adiknya ingin bermain denganku, Heh! Rasanya ingin langsung kuhabisi orang ini, aku tidak ingin membuat kebencian cucuku semakin besar. Tapi, jika tidak kuhabisi. Nyawa semua keluargaku akan ada dalam bahaya, apalagi mereka sangat berharga dari apapun yang ada di dunian ini untukku." Alfa kini sangat dilema.
Aqilla masih tidak ingin melihatnya, bahkan untuk aktivitas lainnya. Aqilla lebih memilih untuk melakukkannya didalam kamar, hanya Steiven dan Haykal yang bisa menemuinya. Bahkan untuk maid yang berada di mansion tersebut, juga tidak ia izinkan masuk kedalam kamarnya.
" Lakukan saja, keselamatan mereka adalah yang utama."
__ADS_1
" Baik tuan." Robert segera berlalu dan menjalankan perintah dari tuannya.
......................