Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 89


__ADS_3

Kediaman Wijaya...


Sepulang dari rumah sakit, Wijaya langsung menggurung diri di ruang kerjanya. Amirah dibuat pusing dengan sikap dari suaminya, dengan perlahan ia memasuki ruang kerja Wijaya.


" Pa." Sapa Amirah.


" Biarkan papa sendiri dulu ma, papa mohon." Wijaya masih merasa ketakutan.


" Sebenarnya ada apa pa? Kenapa sikap papa berubah seperti ini, cerita sama mama, pa. Jangan menyimpan semua permasalahan sendiri!." Amirah berbicara dengan perlahan dan mendekati Wijaya.


Wijaya akhirnya duduk bersandar pada meja kerjanya, matanya tertutup. Air menggalir dari sudut matanya, kepala menunduk dan ditumpu oleh kedua lututnya. Tubuhnya bergetar, menanggis sesegukkan.


Amirah meraih tubuh suaminya yang sudah sangat bergetar, perlahan menggusap kepalanya dengan lembut. Membiarkan beberapa saat, agar suaminya bisa merasa sedikit lega. Disaat ia merasakan tubuh suaminya tidak bergetar lagi, Amirah menatap wajah suaminya.


" Katakan, jangan disimpan sendiri pa."


" Pa papa tidak mau, mereka menggambil Akhtar ma. Papa tidak mau, mereka, mereka ada disana." Wijaya semakin merasa ketakutan.


" Siapa?." Amirah bingung akan perkataan suaminya.


" Difa Difander Alfansa, Pria tua itu. Itu dia ma, ka kakek Aqilla itu ma. Tidak!!!." Wijaya berteriak dengan sangt keras.


Amirah yang mendengar perkataan sang suami, jadi ikut kaget. Hal yang ia takutkan, kini datang menghampiri.

__ADS_1


(Penjelasannya ada di bab sebelumnya ya, yaitu bab 55).


......................


Beni yang baru tiba dirumah, terkagetkan dengan suara teriakan dari ruang kerja papanya. Dengan cepat ia berlari menaiki anak tangga, membuka dengan kuat pintu ruang kerja papanya.


Bbbrraakk!!!


Hah


Hah


Hah


Melihat kedua orangtuanya sedang terduduk dan menanggis, membuat Beni semakin heran. Berjalan mendekati orangtuanya, lalu berjongkok menatap mereka dengan tatapan heran.


Wijaya masih tetap dengan kepala menunduk, Amirah menatap Beni dengan tatapan sayu. Air mata sudah membasahi wajahnya.


" Nak, jangan biarkan mereka menggambil adikmu. Jangan biarkan nak, Mama mohon padamu, mama mohon." Tanggis Amirah semakin kencang dan terisak, hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.


" Ma, Mama. Bangun ma, Pa mama pingsan. Pa!!!." Beni memanggil Wijaya, namun Wijaya tetap tidak bergeming.


Beni menggambil ponselnya dan segera menghubungi Evan, bagaimana pun juga. Evan sudah menjadi dokter pribadi keluarganya.

__ADS_1


" Hallo Van, mama pingsan. Ke rumah sekarang!!!." klik.


......................


Kevin...


Seorang penembak jitu yang bergabung dengan kelompok Kevin, dia adalah Kenzi Alberto. Adik kandung dari seorang Kevin Alberto, dengan paras yang jauh lebih rupawan dari sang kakak.


" Berhentilah untuk mencari masalah, tidak bosankah kau bermain-main dengan dewa maut? Heh!!!." Kenzi tertawa meremehkan sang kakak.


" Diamlah, kau tidak akan tau permasalahannya." Kevin menyeringai.


" Kau kira, bisa berbohong dariku? Walau kau adalah kakakku, tapi otakmu itu, sangat jauh dan berbeda. Selalu saja menyusahkan!." Kenzi sangat malas jika sudah berhubungan dengan sang kakak.


Kenzi memang memiliki kemahiran dalam menembak dan berbisnis, jiwa mafia tidak bisa disingkirkan dari dirinya. Ayah mereka merupakan seorang pimpinan sebuah kelompok mafia, tapi mereka tidak berhubungan dengan darah. Mereka hanya melalukan bisnis legal maupun ilegal, Ayahnya kini sudah tiada. Kevin melanjutkan kelompok tersebut, namun di pertengahan jalan. Pola pikiran mereka berubah dan selalu saja terlibat dengan aparat negara.


Kenzi tidak tertarik dengan dunia bawah, yang menurutnya akan berdampak panjang pada kehidupannya kedepan. Tapi tidak bagi Kevin, yang selalu terobsesi dengan statusnya sebagai pimpinan.


" Kau terlalu banyak bicara Kenzi, enyahlah dari sini!!!." Kevin berteriak menggusir sang adik.


" Heh, jadilah seperti yang Ayah inginkan. Obsesimu pada perempuan itu, akan membawamu pada kematian. Lepaskan dia, jodohnya sudah ada di depan mata , dan pastinya itu bukan kau. Dan satu lagi, buang wanita parasitmu itu. Jika tidak, kau akan terbawa ke dalam permainannya bahkan kematian juga akan menghampirimu. Aku tidak akan menolongmu lagi kak, gunakan otakmu dengan cermat, bye!!!." Kenzi meninggalkan Kevin yang masih tersulut emosi.


Rasa ingin balas dendam masih menyelimutinya.

__ADS_1


" Aku tidak akan kalah kali ini, akan kupastikan kau mati di tanganku. Hahaha."


......................


__ADS_2