
Masih menunggu diluar ruangan operasi, Akhtar berharap yang terbaik untuk keselamatan istri dan anak-anaknya. Tak berselang lama, Jason hadir bersama Amirah dan Meyra.
" Akhtar!!!." teriak Amirah memanggil nama anaknya.
" Mama! Mama nggak apa-apa?". Akhtar melihat mamanya yang hadir disana.
" Bagaimana keadaan Aqilla?". Amirah menatap wajah Akhtar yang sudah seperti baju kotor yang lecek.
Akhtar hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia duduk disalah satu kursi yang ada. Menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan wajah yang tampak lelah itu menghadap ke atas. Meyra melihat kondisi Akhtar seperti itu, sungguh sangat memprihatinkan. Dia orangnya yang tegas dan dingin, tapi kali ini seperti manusia yang hanya ada raganya saja.
" Apa yang terjadi dengan Aqilla Jas?". Meyra bertanya kepada Jason dengan air mata yang sudah menetes, karena setelah sadar dari pengaruh obat yang telah diberikan oleh penyusup itu. Meyra selalu memikirkan keadaan Aqilla.
" Jangan menanggis, kita tunggu dokternya, duduklah!." Jason memapah Meyra menuju tempat duduk yang ada.
Lampu merah itu masih menyala dengan sangat terang, menandakan tindakan operasi itu masih berlangsung. Kini Alfa pun telah tiba disana, bersama Robert dan lainnya. Lengkap sudah kehadiran dari trio somplak dan konyol disana, menantikan hasil dari operasi nona mereka.
" Dam, kenapa lama sekali mereka mengoperasi nona? Apa mereka itu tidak profesional?". Leo memulai aksinya dengan berceloteh.
" Diam!! Tidak lihat apa, situasi sedang tegang.". Adam melirik Leo dengan sinis.
" Aish, tidak bisa diajak bergosip kau ini. Payah sekali!." Lalu Leo beranjak mendekati Jason.
" Jas, jas. Kenapa lama sekali operasinya? Nggak kelar-kelar dari tadi."
" Uuhmm, ummm..." Mulut Leo dibekap oleh tangan Jason yang besar.
" Diam lebih baik daripada bicara!!!." Jason menekankan perkataannya.
__ADS_1
" Hosh, hosh. Tangan kau bau Jas, parah lu." Loe mulai berkilah untuk membela diri.
Mendengar perkataan Leo, karena tangannya bau. Dengan mudah percayanya Jason menciumi tangannya berulang kali, memastikan kebenaran dari perkataan Leo. Dan ternyata, Leo telah membohongi Kason. Muka Jason langsung memerah dan matanya menatap tajam kepada Leo, tatapan yang seakan menyerangnya.
" Kau!!!."
" Hahaha, peace Jas. Gitu aja marah, nggak boleh marah-marah. Nanti si bos marah noh, apalagi cewek lu takut ntar!." Leo langsung berpindah tempat, untuk menghindari amarah dari Jason yang wajahnya sudah sangat memerah menahan marah.
Suasana kembali tegang, lampu berwarna merah itu kini sudah padam. Tak lama kemudian, dokter Fera membuka pintu dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Dan di susul oleh Evan yang juga ikut berjalan mengikuti Fera.
Melihat kedua dokter itu keluar dari ruangan, semua yang telah menunggu diluar. Mereka segera menghampiri kedua dokter tersebut, dengan perasaan yang amat teramat cemas.
" Woit, woit... Jangan mendekat, kalian bisa membunuh kami jika semuanya kemari. Stop saja disana, kami akan menjelaskannya dari sini, oke!." Evan melihat begitu banyak yang menunggu di luar ruangan, bisa mampus kehabisan nafas jika semuanya mendekat.
" Jelaskan!!." Akhtar dengan suara beratnya menatap Evan dan Fera dengan sangat tajam.
" Saya sebelumnya memohon maaf kepada kalian semua atas tingkah konyol patner saya ini, dan untuk anda tuan selaku suami dan ayah dari bayi-bayi tersebut. Untuk ibu dari sang bayi, keadaannya sudah kembali normal dari sebelumnya dan saat ini perlu istirahat total agar segera kembali pulih, membutuhkan waktu untuk menetralisir zat toxic dari cairan tersebut. Sedangkan untuk keadaan janin saat ini, masih tergolong sangat rentan dan sangat lemah. Harus ekstra penjagaan dan membatasi ruang gerak sang ibu." Fera menjelaskan dan mendapatkan tatapan jengkel dari Evan.
Seluruh orang yang berada disana saat itu, merasa sangat bingung dengan penjelasan dari dokter Fera.
" Apa maksud anda dok?." tanya Akhtar dengan tatapan yang tajam.
" Dasar kelewat pintar kau Akhtar!!! Itu tandanya, istri dan anak-anak lu selamat lah! Makanya, terima kasih nggak lu ama gue? Jangan bisanya ngedeplak kepala gue doang. Wah tante, bakalan rame ni nantinya!." Evan dengan santainya berbicara.
" Ja jadi, anak-anakku selamat semuanya?" Akhtar merasa sangat kaget dan bahagia.
" Benar tuan, awalnya kami mengira bayi tersebut sudah berhenti bernafas. Namun semuanya itu sungguh keajaiban, ia mampu bertahan bersama saudaranya yang lain." Fera tersenyum menjelaskan keajaiban itu.
__ADS_1
Akhtar akhirnya luruh jatuh kebawah, ia bersujud syukur atas kebahagian ini. Airmata bahagia itu mengalir dengan sangat deras. Amirah memeluk tubuh anaknya yang sangat bergetar, mereka ikut merasakan kebahagian itu. Begitu juga dengan yang lainnya, sedangkan Alfa. Ia sudah sangat bahagia mendengar berita tersebut, dengan duduk bersandar. Menanggis dan tertawa bersamaan, sungguh kegembiraan yang teramat sangat untuknya.
" Cicitku selamat, mereka selamat! Cucuku adalah wanita yang sangat kuat, dia begitu kuat! Aqilla!!." Alfa menanggis.
Steiven dan robert termenung, baru kali ini mereka melihat sang leader itu menanggis. Steiven dan Haykal memeluk sang kakek, mereka ikut merasakan kebahagian yang sama untuk saat ini.
" Akhirnya, sahabatku dan juga keponakanku selamat. Terima kasih Ya Allah!." Tanpa disadari, Meyra memeluk Jason dengan sangat erat.
" Ehm, ehm... Ingat, ingat, ingat, ting!!! Masih banyak yang jomblo woi, pamer aja lu pada." Leo membeo dengan santai.
Ppllaaakkk
Ppllaaakkk
" Uhmmmmm."
Kepala Leo mendapatkan pukulan ringan dari Adam, dan bekapan pada mulutnya.
" Nggak ada tobat-tobatnya mulut lu, lemes bener jadi orang. Diam nggak? Gue ngibeng juga lu disini!." Adam menajamkan amtanya pada Leo.
" Aakkhh! Ka***et lu, sakit tangan gue. Main gigit aja, lu kira pisang apa tangan gue." Adam menjerit, setelah Leo menggigit telapak tangannya yang membekap mulutnya.
" Monyet dong gue!!! Rasain lu!." Leo masih membela diri.
Akhirnya mereka semua merasakan kebahagian atas selamatnya, Ibu dan tiga bayi itu.
......................
__ADS_1