
Berada dalam suatu ruangan yang tidak ada cahaya sinar matahari, udaranya terasa sangat penggap dan lembab. Aqilla dan Haykal membuka matanya perlahan, menatap ruangan itu dengan sangat asing.
" Dimana ini?". Aqilla berbicara.
Haykal memeriksa setiap sudut ruangan dengan matanya, namun tidak dapat ia temukan apapun disana.
" Nggak tau kak!."
Mereka berdua hanya bisa berpasrah diri, menunggu siapa saja yang akan datang.
Tap
Tap
Tap
Kkrreekk
Pintu ruangan dimana Haykal dan Aqilla berada terbuka, masuklah beberapa orang disana.
" Aqilla Nadifa... Namamu cukup cantik, secantik orangnya." Suara tersebut bergema di dalam ruangan tersebut.
Haykal dan Aqilla melirik ke arah orang yang berkaya itu, terasa asing bagi Aqilla dengan wajah orang tersebut begitupun Haykal.
" Ternyata, ini dia wanita yang sudah membuat seorang Akhtar Wijaya dan Kevin Alberto jatuh hati!! Sungguh sangat disayangkan, mereka dengan rela menukar nyawanya untuk menyelamatkan seorang wanita seperti ini. Gara-gara wanita, kakakku harus mati sia-sia di tangan pria tua itu! ". Kenzi menampakkan wajah yang sangat marah dihadapan Aqilla.
" Hei, jangan ganggu kakakku. " Haykal mencoba melindungi sang kakak.
Aqilla sangat terkejut mendengar perkataan Kenzi, apalagi disaat ia menyebutnya dengan sebutan 'kakak'.
" Kenapa? Kau pasti bertanya siapa? Hahaha. Kenzi, Kenzi Alberto. Adik dari Kevin Alberto, kau paham!!!." Kenzi menyeringai pada Aqilla.
Haykal terus menggumpat Kenzi, ia tidak suka jika pria itu berteriak pada kakaknya.
" Hei, bisa sopan sedikit tidak pada wanita. Sungguh tidak tau sopan santun kau!!." Haykal berteriak kepada Kenzi.
__ADS_1
" Jauhkan dia!!!." Titah Kenzi kepada suruhannya.
Orang suruhan Kenzi membawa Haykal yang terus memberontak dan menggumpat Kenzi, untuk menjauh dan memindahkannya pada ruangan yang lain.
" Kenapa? Takut nona!!." Kenzi mendekatkan wajahnya dihadapan Aqilla.
" Kau tau, walaupun kau adalah cucu dari seorang mafia. Itu takkan membuatku takut!" Kenzi duduk berhadapan dengan Aqilla.
" Apa kau bilang? Mafia???." mulut Aqilla membeo mendengar perkataan Kenzi.
" Woooww... Jadi kamu belum tau ya, Hebat, hebat!!! Difander Alfansa si pria tua itu, adalah seorang memimpin mafia yang ditakuti di Asia, tapi itu dulu. Kini dia hanya seorang pria tua, dari tampangnya saja sudah terlihat. Dan kekasihmu itu, Akhtar Wijaya. Dia juga seorang pemimpin dari kelompok mafia besar di negara ini, heh. Dasar kau memang bodoh, sok polos!!!." Kenzi memandang sinis pada Aqilla.
Tidak!!! Apa yang dia katakan itu, tidak benar. Mafia??? Tidak, tidak mungkin! Aqilla.
Tak
Tak
Tak
" Heh, dasar wanita!!! Kuserahkan padamu, kalian memang menyusahkan saja, dasar wanita!!!." Kenzi beranjak meninggalkan keberadaan Aqilla dan wanita yang baru tiba.
Dengan menggunakan penutup muka serta selendang, wanita yang baru saja tiba itu adalah Joana. Lalu ia membuka penutup muka dan selendangnya, membuat Aqilla sangat terkejut melihatnya.
" Kenapa? Takut? Jijik? Kau tau siapa aku bukan? ".
" Joana ." Ucap Aqilla.
" Ternyata kau sangat pintar, benar sekali. Kau tau, Aku ingin sekali membalas perlakuan kakekmu itu. Dia yang sudah melakukkannya ini kepadaku, jadi! Tidak ada salahnya bukan, kalau aku akan membalasnya kepadamu? Iya kan?." Joana sangat mengintimidasi Aqilla.
Joana berjalan mendekati Aqilla, ditangannya kini ada sebuah pisau kecil yang sangat tajam.
" Ma mau mau apa kau?!!." Aqilla melihat Joana semakin mendekat, dan pisau kecil ditangannya itu tampak menyilaukan.
" Mau apa kau bilang, hah? Kau bisa lihat bukan!" Joana semakin senang, melihat Aqilla yang ketakutan.
__ADS_1
" Jangan Joana, Jangan." Aqilla terus berteriak, berharap Joana tidak melakukkan hal tersebut kepadanya.
Ssrrett!!!
Ssrrett!!!
Pisau kecil itu memberikan dua goresan diwajah cantik Aqilla, goresan itu mengeluarkan cairan merah yang cukup banyak. Aqilla merasakan perih diwajahnya, namun ia hanya bisa menanggis. Berteriak pun tidak akan ada gunanya, takkan ada yang datang untuk menolongnya.
Hhiiikksss!!!
Hhiiikksss!!!
" Cukup sakit kan! Pria tua itu tidak ada rasa belas kasihan padaku, tidak ada gunanya kau menanggis. Karena aku tidak akan merasa kasihan juga terhadapmu, dan sepertinya. Dengan wajahmu ini, akan kubuat menjadi lebih cantik dari wajahku. Biar Akhtar pun merasa jijik melihatmu, bersiaplah wahai wanita breng***ek!!!."
Lalu Joana menggambil sesuatu dari tas yang ia bawa, sebuah suntikan kecil dengan cairan berwarna merah. Ia kembali mendekati Aqilla dengan senyuman yang meremehkan, hal itu membuat Aqilla sangat ketakutan dan berteriak.
" Tidak Joana, tidak. Jangan, jangan lakukan itu. Tolong..!!! Tolong..!!!." Aqilla terus berteriak.
" Heh, bodoh. Berteriaklah sepuasnya, cairan ini akan membuatmu mati dengan perlahan. Kau ingat!!! Perlahan..." Joana menyeringai penuh dengan kemenangan.
" Jangan, Jangan Joana. " teriak Aqilla.
" Bersiaplah!!! Jika aku tidak bisa memiliki seorang Akhtar Wijaya, maka siapapun juga tidak akan bisa mendapatkannya. Hahaha."
Dengan perlahan, Joana menyuntikan cairan tersebut kedalam tubuh Aqilla.
Aaakkhh!!!
" Selamat menanti datangnya sang penjemput mautmu Aqilla, hahaha!!!." Joana tertawa dengan penuh kemenangan. Lalu ia beranjak pergi, meninggalkan Aqilla.
Aqilla hanya bisa terdiam, meneteskan air matanya.
Jika memang ini yang terbaik untuk kalian, akan aku terima. Dunia kalian sangatlah keji, tapi aku tidak bisa menghakiminya. Mungkin kalian mempunyai alasan yang tepat untuk berada dalam dunia hitam itu,Jika waktu masih ada untukku. Aku akan menerimanya dengan berlapang dada atas masa lalu kalian. Kakek! Pria aneh! Kak Steiv. Kalian dimana? Tolong!!! Aqilla.
Dengan perlahan, Aqilla merasakan matanya sangat berat dan tak tertahankan. Hingga akhirnya, mata itupun tertutup dengan sempurna.
__ADS_1