
Tak terasa waktu berjalan sudah melebihi dari empat jam, ke tiga pria yang sedang berada di luar ruangan sangat khawatir dan cemas. Belum ada satupun dokter ataupun perawat yang keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba seorang perawat keluar dengan sangat tergesa-gesa dan masuk kembali membawa beberapa kantong darah.
" Suster, bagaimana keadaannya?." Kesabaran Akhtar sudah tidak dibendung lagi.
" Maaf tuan, saat ini pasien kritis." Suster tersebut segera masuk kembali kedalam ruangan.
Akhtar bersandar pada dinding dengan sangat lemas, lalu tubuhnya merosot kelantai.
" Aqilla." Kedua tangannya menutupi muka dan menggusapnya dengan kasar.
" Tuan, minumlah!." Jason memberikan sebotol air mineral.
Tangannya menerima air dari Jason dan meneguknya, rasanya air itu tidak bisa ia telan.
" Leo! Kembalilah ke markas." Ujar Akhtar tanpa melihat kearah orangnya.
Leo menoleh ke arah Jason, dan anggukkan dari Jason membuatnya mengerti. Baru kali ini Leo melihat sisi lain dari bosnya, kejam, angkuh, arogan. Semuanya telah sirna saat ini, adanya hanyalah seorang pria dengan tampang menggenaskan.
Tuan, entah sejauh mana nona ini bisa membuatmu seperti orang gila. Sebelumnya, hal ini tidak pernah kulihat di dirimu. Semoga saja, ini semua tidak berlalu dengan cepat. Batin Leo
Setelah kepergian Leo, Jason maupun Akhtar hanya bisa menunggu dan duduk dengan tak beraturan.
__ADS_1
Kkreekk!...
Pintu ruangan Operasi terbuka, Evan berjalan dengan langkah yang sangat lunglai.
" Van! Bagaimana keadaan Aqilla? Van, jawab!!!." Akhtar mengguncang pundak Evan dengan sangat kuat.
" Tuan, tenang!." Jason menarik tubuh Akhtar untuk sedikit menjauh dari Evan.
" VAN!!!." Teriak Akhtar.
" Kita sudah terlambat." Perkataan tersebut keluar dari mulut Evan, ia menghempaskan tubuhnya untuk duduk.
" Apa maksudmu Van?." Akhtar mendekati Evan.
" Jangan bertele-tele Van, jelaskan!."
" Aku tidak memantau keadaan Aqilla pasca operasi, ternyata tubuhnya menolak ginjal yang baru. Terjadi pembusukan pada ginjalnya dan itu menginfeksi ginjal yang satunya, maafkan aku.!" Air mata Evan menggalir disudut matanya.
( Author mohon maaf ya semuanya, ini penyakitnya versi Author saja 😊)
Mendengar penjelasan yang Evan ucapkan, tubuh Akhtar langsung ambruk ke lantai. Bagaimana bisa mereka lalai dan ceroboh dalam hal ini, menyebabkan nyawa Aqilla dalam bahaya.
__ADS_1
" Tidak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin Van. Ka kau!!! Kenapa bisa seceroboh ini!!!." Akhtar membentak Evan yang masih menunduk.
Jason juga merasa terkejut, pasca operasi. Aqilla memang tidak mereka observasi lagi, apalagi Aqilla memaksa untuk pulang tanpa mereka ketahui. Melihat ia bisa beraktivitas seperti biasanya tanpa ada keluhan, membuat mereka merasa aman dan tidak apa-apa. Namun ternyata, Aqilla menyimpan rasa sakit itu sendiri tanpa ada yang mengetahui apa yang ia rasakan.
" Van, apa tidak ada cara untuk mengatasinya?." Jason mencari solusinya.
Evan hanya menggelengkan kepalanya perlahan, hal itu membuat Akhtar menggepalkan tangannya dengan sangat kuat.
" Bre***ek kau!!! Akan kubunuh juga kau saat ini." Akhtar langsung memukuli Evan secara bertubi-tubi, ia tidak bisa menahan emosinya saat itu.
Jason mencoba melerainya, namun kekuatan Akhtar menjadi dua kali tenaganya disaat marah. Jason terhempas saat Akhtar mencoba melepaskan diri darinya.
Evan tidak bisa menggelak dari amarah Akhtar, ia juga merasa bersalah atas kejadian ini. Ia melupakan keadaan Aqilla, hingga menyebabkan hal ini terjadi. Padahal ia adalah dokter yang bertanggung jawab dengan keadaan Aqilla, tapi itu tidak ia lakukan.
Melihat ada keributan di luar ruangan operasi, Jason meminta bantuan dari dokter lainnya untuk memberikan suntikan obat bius pada Akhtar. Jason tidak ingin, bosnya itu semakin tidak terkendali. Ketika Dokter sudah siap, Jason dengan sekuat tenaga mendekap tubuh Akhtar dengan kuat.
" Apa-apaan ini Jason!!! Lepaskan, kubilang kelepaska !!! Nada suar Akhtar sudah sangat tinggi.
Tidak ingin membuat kegaduhan disana, Jason segera memberikan Aba-aba, Dokter langsung menyuntikan ketubuh Akhtar dengan menggunakan bius , dan perlahan Akhtar pun tumbang.
" Ka ka kau." ucapan Akhtar sebelum tertidur.
__ADS_1