
Hari demi hari berlalu dari hari dimana Aqilla menolak Akhtar, hingga saat ini sudah memasuki bulan kedua mereka tidak bertemu. Baik komunikasi apapun tidak ada, Aqilla selalu mencoba menghubungi Akhtar dan hasilnya Akhtar memblok kontaknya.
Maaf atas sikapku selama ini, tuan. Aku memang egois, tidak memikirkan perasaanmu. Mungkin ini adalah jawabannya, kita memang tidak pantas untuk bersatu. Jarak diantara kita amat sangat terlihat jelas, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu tuan. Terima kasih untuk semuanya, dan mulai saat ini. Ku ikhlaskan dirimu untuk pergi, semoga dirimu bahagia!
Kalimat itu, Aqilla kirimkan kepada Akhtar. Ia hanya bisa berdoa, suatu saat dimana kontaknya sudah terbuka. Akhtar bisa membacanya.
......................
Perusahaan Akhtar...
" Sayang! Sudah saat makan siang. Yuk, kita makan di lestoran favorit kita." Joana dengan ucapannya yang nada dibuat-buat.
" Iya sebentar, tunggu dan duduklah dengan diam disana." Akhtar menunjukkan sofa dengan tangannya.
" Iya ,iya. Cepat ya, dah laper nih." Joana berjalan menuju sofa.
Akhtar melanjutkan pekerjaannya, tak berapa lama masuklah Jason.
" Tuan, Klien kita atas nama Mr.Alfa mengajukan kerjasama pada perusahaan kita." Jason memberikan sebuah berkas kepada Akhtar.
" Mr. Alfa? Baru kali ini aku mendengar namanya, apa yang ia ajukan dalam kerjasama ini, Jas?." Tanya Akhtar dengan membolak balik berkas tersebut.
" Yang saya tau, mereka mengajukan kerjasama untuk pembangunan tempat wisata di negara L, tuan." Jason menjelaskan inti dari berkas tersebut.
" Hem, kau atur saja Jas." Akhtar menghempaskan pundaknya pada sandaran kursi kerja.
" Baik tuan, saya permisi." Jason langsung pergi, ia tidak ingin berlama-lama melihat rubah betina disana.
" Sayang, hayo. Bisa pingsan ni!." Joana merenggek.
Akhtar akhirnya menuruti kemauan Joana, tangan Joana bergelayut di lengan Akhtar. Mereka berjalan menuju lobby, setiap mata yang memandangnya menjadi takjub. Cantik dan tampan, itulah penilaian mereka.
__ADS_1
Tiba di sebuah lestoran ternama, dua sejoli itu berjalan beriringan. Hingga menggundang komentar para pengunjung yang lainnya, Akhtar membawa Joana kedalam ruangan private.
" Kamu mau pesan apa, sayang? " tanya Joana kepada Akhtar.
" Samakan saja dengan pesananmu."
" Hem, baiklah. Kamu so sweat banget, sayang." Joana mendayukan nada bicaranya.
Heh, sungguh menjijikan melihatmu Joana. Kalau bukan Papa yang mengancam Mama, saya tidak sudi berada disini, hah. Batin Akhtar
......................
" Qilla, kamu mau makan apa? " ujar Lastri.
" Yang murah dan enak apa ya? hehehe." jawab Aqilla.
" Kamu ini, tak cubit tu pipimu. Ya sudahlah, kali ini aku yang traktir. Kamu bebas mau makan apa, jangan terlalu irit napa. Nanti malah sakit lo." Lastri membeo.
Lastri adalah teman baru Aqilla, mereka bekerja di sebuah perusahaan di bidang jasa. Mereka sama-sama mendapatkan posisi di bagian marketing dan akuntan, saat ini mereka lagi menikmati istirahat siang.
" Las, aku ke belakang sebentar ya. Kebelet."
" Iya, jangan lama. Udah mau habis jamnya." ujar Lastri.
" Siap bos, nggak lama kok." Aqilla segera pergi.
Setelah selesai dengan panggilan alam, ia lalu bersiap untuk kembali kemejanya. Dengan langkah yang tidak memperhatikan sekitar, Aqilla tak senggaja bertabrakan.
Bbbbuuugg!!!
" Auuww, punya mata nggak sih? Main tabrak aja." Protes Joana.
__ADS_1
" Maaf, maaf nona, saya tidak sengaja. Maaf." Aqilla meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.
" Maaf, maaf. Enak saja, ganti rugi! Lihat, sepatu saya jadi lecet gara-gara kamu. Ini sepatu mahal, kalau udah lecet gini, udah jelek banget negelihatnya, pokoknya ganti rugi. Pasti nggak bisa kan, dasar orang mi**kin." Joana semakin menekan perkataannya.
" Maaf nona, baiklah. Saya akan menggantinya." Aqilla semakin merasa bersalah dan malu, banyak mata yang memperhatikan mereka.
" Lima juta, itu sudah murah. Cepetan ganti!" Teriak Joana.
" Apa, lima juta? " Aqilla sangat kaget dengan nominal yang disebutkan. Itu adalah gajinya untuk dua bulan.
Kerana terlalu lama menunggu, akhirnya Lastri menyusul Aqilla. Namun disaat berjalan, ia melihat orang pada ramai. Lalu dia mendekatinya, nggak taunya Aqilla berada disana.
" Aqilla! Ada apa ini." Tanya Lastri.
" Hei, kamu temennya perempuan ini ya? Cepetan bilang teman kamu ini untuk ganti sepatu saya yang lecet ini." Joana melebarkan matanya.
" Maaf nona, saya saat ini belum ada uangnya. Tapi saya janji, akan menggantinya." Aqilla tidak ingin berdebat.
" Berapa? " Tanya Lastri.
" Lima juta, cepetan!" Joana semakin menekan.
" Gila! Lima juta! Sepatu kayak gitu aja minta ganti lima juta, harga barunya aja nggak sampe segitu. Mau meras orang jangan kelewatan dong!." Lastri ikut terpancing emosinya.
" Kamu tau apa, hah! Ini sepatu mahal, ya sudah. Kamu cium sepatu ini, lalu aku akan mengganggapnya lunas. Orang mi**kin tapi berlagak seperti orang punya." cibir Joana.
Aqilla tidak ingin berlama-lama dan lebih baik ia mencium sepatu wanita itu, karena memang saat ini ia tidak punya uang sebanyak itu.
Lastri sudah melarang Aqilla untuk melakukkan hal itu, namun Aqilla tidak mau merepotkannya. Disaat Aqilla akan menundukkan kepalanya.
" Ada apa ini?". Akhtar mendekati Joana.
__ADS_1
Aqilla merasa kenal dengan suara yang barusan didengarnya, lalu pandangan mereka saling bertemu. Bagaikan tersambar petir, Aqilla melihat orang yang selama dua bulan ini ia rindukan, tapi ternyata!