Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 81


__ADS_3

Setelah berpamitan, Aqilla melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari kantor tersebut. Saat sudah berada di lobby kantor, ponsel Aqilla bergetar.


Kak Steiven calling...


" Hall..."


" Gue tunggu di mobil, cepetan!."


Tut


Tut


" Bener-bener ni orang, kayak nggak sekolahan aja." Aqilla menggerutu sambil berjalan mencari mobil sang kakak.


Melihat mobil Steiven berada di seberang jalan, Aqilla segera menyelusurinya. Namun tiba-tiba, tangannya ditarik oleh seseorang.


" Mau kemana di jam kerja, nona Aqilla?". Tangan tersebut milik Kevin.


"Akh! Tuan, lepaskan!." Aqilla memberontak.


" Anda tidak seharusnya berkeliaran di jam kerja, bukan!." tatapan Kevin, sangat mengintimidasi.


" Maaf tuan, saya sudah resmi menggundurkan diri hari ini. Jadi, saya bukan bagian dari perusahaan maupun karyawan anda lagi. Tolong lepaskan tangan anda!." Aqilla terus memberontak.


" Heh, menggundurkan diri? Itu tidak akan merubah segalanya nona, kau tetap akan menjadi milikku." Tangan itu semakin kuat mencengkram tangan Aqilla, hingga ia meringgis kesakitan.


" Bang**at kau!!!." Teriak Steiven yang sudah berada disana.


Bug


Bug


Bug...

__ADS_1


Pukulan demi pukulan ia layangkan kepada Kevin, tangannya terlepas dari tubuh Aqilla. Dengan cepat, Aqilla berlari berlindung di balik tubuh Steiven.


" Dasar tidak tau malu, kau benar-benar pria Breng**ek. Adikku sudah menggundurkan diri, kau tidak berhak lagi untuk menyuruh bahkan menyentuhnya lagi. Jika kau masih menyentuhnya, aku tidak akan tinggal diam. Camkan itu Kevin Alberto!!!" Teriak Steiven.


Para keamanan sudah berada disana, melihat ada keributan dan pimpinan dari perusahaan tempat mereka bekerja yang terlibat. Mereka segera melerai keributan tersebut.


" Apa yang kau katakan! Adik???" Tanya Kevin dengan penuh seringai.


" Ya, Aqilla Nadifa adalah adikku. Jika kau membuat adikku terluka, kau akan berhadapan denganku. " Steiven berjalan mendekati Kevin.


" Hadiah untukmu, karena sudah mencekik leher adikku." Steiven melotot pada Kevin.


Buugg!!!


" Kak, berhenti. Ayo pergi!". Aqilla menarik tangan Steiven untum menjauh.


Mengikuti tarikan Aqilla, Steiven masuk kedalam mobil dengan masih mengatur nafasnya.


Didalam mobil...


" Kak, maaf. Sudah membuatmu seperti ini, dan juga terima kasih ya. " Senyum Aqilla.


" Heh, untung saja kau sudah menggundurkan diri. Kalau tidak, sudah kucincang orang itu. Terima kasih saja tidak membuatku kenyang." Steiven melirik Aqilla dengan lirikan sinis.


" Ya elah kak perhitungan banget. Ya sudah, Qilla traktir makan saja ya. Kalau barang brand, kakak kan sudah hampir punya semua. Gimana?". Tawaran Aqilla.


" Kau ini, masa cucu dari seorang Alfa sangat kere. Sangat memalukan, ya sudah. Awas saja tidak bisa bayar, akan aku jual kau!." Geram Steiven pada Aqilla.


" Iisss tega bener." Aqilla mencibik.


Selama perjalanan menuju lestoran yang tempat di tentukan oleh Steiven, Aqilla hanya diam dan tidak berkomentar apapun. Hingga akhirnya mereka tiba disebuah lestoran yang cukup mewah, membuat mata Aqilla melebar.


" Kak, kau benar-benar ingin mengguras tabunganku ya! "

__ADS_1


" Masuk, makan dan bayar. Cerewet!!!." Steiven berjalan dengan gayanya yang cuek. Sedangkan Aqilla, ia hanya bisa pasrah.


Dasar kakak tidak punya perasaan, tega bener memeras uang adiknya sendiri. Aku akan menyumpahimu, biar uang yang kau miliki itu tidak mau masuk ke dompetmu. Melainkan ke dompetku, huh. Aqilla.


Mereka memilih ruangan private, karena Steiven tidak suka akan keramaian. Hal itu semakin membuat kepala Aqilla pusing. Mau protes, percuma saja. Steiven memesan makanan yang cukup banyak, Aqilla hanya pasrah dan memesan minum dingin untuk melegakan tenggorokan dan isi kepalanya yang panas akibat ulah kakak sepupunya itu.


Begitu pelayan membawa makanan pesanan mereka, sungguh membuat melonggo. Pasrah dan pasrah, itulah yang Aqilla rasakan.


Bbraakk!!!...


Suara pintu, tempat dimana Aqilla sedang menikmati santapannya bersama Steiven terbuka dengan paksa.


" Kau, berani-beraninya menyentuh wanitaku lagi!! Akan kubuat kau menyesal, Steiven!!!."


Orang yang mendobrak pintu tersebut adalah Akhtar, ia sedang melakukan meeting dengan salah satu kliennya di lestoran tersebut. Disaat ia akan ke belakang, terlihat dari kaca yang tembus pandang itu , wanita yang ia cintai sedang bersama rivalnya. Bagaikan air panas yang mendidih, emosinya langsung tak terkendali.


" Heh, ternyata! Pria aneh mu ini sudah datang, sungguh menyebalkan." Steiven menyindir Aqilla.


Namun Aqilla sudah merasa tidak enak dengan situasi tersebut, Akhtar tidak tau kalau Steiven adalah kakak sepupunya dan ia juga pasti akan menyangka kalau Steiven ingin mencelakainya lagi.


" Tuan, stop! Saya bilang, STOP!!!." Aqilla berteriak.


Akhtar spontan berhenti memukuli Steiven setelah mendengar teriakan Aqilla.


" Kenapa kau membela pria yang jelas-jelas sudah menculikmu Aqilla, apa kau sudah tidak waras, hah?" Akhtar menyeringai kepada Aqilla.


" Apa kau bilang, hah. Tidak waras?? Kau yang tidak waras, mempermainkan wanita dan menipunya hingga tidak tau keberadaannya hingga saat ini. Dasar Bedebah!!!." Steiven juga tersulut emosinya, hingga mereka kembali adu jotos.


" Berhenti, berhenti aku bilang." Namun mereka berdua tetap melanjutkan baku hantamnya.


Melihat kedua pria itu masih tidak mau berhenti, maka Aqilla menggambil sebuah botol kaca yang berada disana. Lalu ia menghempaskannya ke lantai, hingga menimbulkan suara yang nyaring. Dan mereka pun berhenti.


Aqilla langsung menarik tangan Akhtar, dan membawanya untuk keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2