Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 78


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Aqilla merasa sesak untuk bernafas. Memukul punggung Akhtar, namun percuma. Tidak ada efeknya, lalu ia mencubit perut samping Akhtar dengan seluruh tenaganya. Membuat yang punya tubuh menjerit dan melonggarkan pelukannya.


" Sakit, sayang!!! Kuat banget." Akhtar meringgis.


" Tuan, sa saya mau bernafas!." Suara Aqilla yang sangat lembut.


" Akh! Maaf sayang, kelupaan. Sudah, jangan menanggis lagi ya. Mulai saat ini, jangan lagi menghindar apalagi menjauh. Katanya mau menghadapi bersama, hayo!!!" Akhtar mentoel hidung Aqilla.


" Apaan sih! Tuan duluankan yang menghilang, saat bertemu eh tau-taunya udah bawa gandengan si nenek gayung, ups!!!." Aqilla keceplosan.


" Nenek gayung? maksud kamu itu, Joana!." Tatapan Akhtar sedikit terkejut.


" Ya siapa lagi." Aqilla menyilangkan tangannya dan membuang muka.


Akhtar menjadi tambah gemas dengan sikap Aqilla, apalagi mengetahui wanitanya ini sedang cemburu.


" Memangnya, kamu lihat dia dimana sayang? Sampai bisa menjulukinya nenek gayung, hahaha." Akhtar lupa, bahwa mereka pernah bertemu.


" Ihh, nyebelin banget ni orang. Nggak ingat apa, waktu di lestoran. Masalah nabrak sedikit aja, tu sepatu minta ganti lima juta." Aqilla menggerucutkan bibirnya.


Mendengar kejadian waktu lalu, membuat darah Akhtar mendidih. Apalagi melihat sang wanita yang ia cintai, bersujud dan mencium sepatu pengkhianat. Namun, amarah itu sirna seketika, saat melihat wajah sang kekasih sangat menggemaskan.

__ADS_1



Emmhh, hahaha...


Tawa Akhtar pecah dan tak tertahankan. Melihat ekpresi wajah Aqilla, sampai-sampai perutnya terasa sakit karena tertawa.


" Apaan sih! Puas banget ketawanya, apa ada yang lucu, hah?" Aqilla merasa kesal dengan Akhtar yang tiba-tiba tertawa.


" Ka kamu sangat lucu sayang, lagi dong. Hahaha..."


" Heh, memang dasar orang aneh. Eh, paman Robert!." Saat Aqilla menoleh ke arah belakang tubuh Akhtar, berdiri dengan sangat tegapnya. Membuat jantung Aqilla langsung berdetak tak karuan.


" Paman Robert? Siapa sayang?." Mata Akhtar mengikuti arah pandangan Aqilla.


" Siapa anda? Ada apa anda berada di sini." Tanya Akhtar dengan tatapan tajamnya.


Robert menundukkan sebagian tubuhnya dihadapan Aqilla.


" Nona, silahkan ikut saya untuk pulang. Kakek anda sudah menunggu!!." Ujar Robert.


" Kakek!! Ya ampun, maaf tuan. Saya harus pulang." Aqilla menjadi sedikit cemas, bagaimana ia bisa lupa.

__ADS_1


" Tapi sayang, siapa dia? " Tangan Akhtar masih menahan tangan Aqilla.


" Nanti saja ya, saya harus pulang dulu. Janji nanti bakalan dijelasin, oke. Mari paman." Aqilla beranjak dari sisi Akhtar.


Dengan sigap, Robert menggikuti langkah kaki Aqilla. Mempersilahkan Aqilla untuk masuk ke dalam mobil yang sudah ia bukakan pintunya.


Saat mobil sudah mulai berjalan, Aqilla melihat ponselnya. Matanya langsung melebar, melihat puluhan panggilan tak terjawab. Paman Robert dan sang kakek, nama mereka berdua tertera disana.


" Paman, bagaimana paman bisa tau kalai Qilla ada disni?." tanya Aqilla dengan perasaan heran.


" Saya hanya menebak saja nona, pantai adalah tempat yang banyak orang kunjungi dari berbagai usia." Elak Robert, padahal ia sudah memasang GPS pada ponsel yang digunakan Aqilla tanpa sepengetahuannya.


" hem. Ya ampun, bakalan panjang ni ceramahnya. Paman Robert, kalau kakek marah itu seperti apa ya?." Aqilla mempersiapkan diri.


" Marahnya tuan Alfa, bisa membunuh sepuluh orang dalam satu menit nona."


" Aahh, bagaimana bisa paman? sehebat itukah kakek? luar biasa." Mulut Aqilla membeo begitu saja.


Robert melihat ekpresi wajah aqilla dari kaca spion, membuatnya tersenyum.


Anda belum tau saja nona, kakek anda itu adalah pembunuh berdarah dingin. Yang sangat ditakuti oleh semua kelompok dunia bawah di Asia, saya harap anda tidak usah menggetahui masa lalunya. Cukup anda bersama dan mendampingi di saat ini dan masa tuanya saja nona. Robert.

__ADS_1


Mobil tersebut, kini memasuki halaman mansion. Jantung Aqilla sudah tidak karuan, mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan sang kakek.


Melihat siapa yang sudah berdiri, tepat di depan pintu masuk. Semakin menambah ketakutan pada diri Aqilla, rasanya ia mau kabur saja ke tempat lain. Tapi, itu semuanya sudah terlambat. Kabur kemana juga nggak tau, ya terima nasib saja, pasrah Aqilla.


__ADS_2