
Steiven yang masih duduk cantik di meja makan, perasaan yang sudah tidak karuan. Membuatnya bersiap-siap menerima hukuman dari sang kakek.
" STEIVEN!!!" Suara khas sang Alfa, begitu sangat kerasa terdengar.
Alfa berjalan menuruni tangga, dengan wajah yang sangat menyiratkan amarah.
Dengan langkah kaki yang sangat berat, Steiven berjalan mendekati Alfa. Jarak yang masih terbilang sangat jauh, Jantung Steiven sudah tidak karuan.
Dor !!!
Aaakkhhh!!!
Semua penghuni mansion mewah itu, terkagetkan dengan suara senjata api yang sangat nyaring.
......................
" Intan, kamu dengar tidak?." Aqilla kaget.
" Iya nona, seperti suara tembakan. " Intan membeo.
" Ada apa Intan, apa kakek yang melakukkannya?." Aqilla takut .
" Saya juga tidak tau nona."
......................
Aakkhhh!!!
Alfa melepaskan tembakan, tepat menggenai telapak tangan Steiven. Darah langsung menggucur dari luka tembakan tersebut.
" Kakek!!! Apa yang kakek lakukan." Steiven menggerang.
" Masih mau bertanya, dasar anak tidak tau malu. Menculik sepupu sendiri, apa itu yang kakek ajarkan, hah!!!." Emosi Alfa sangat besar.
" Aih, perempuan itu! Steiven saat itu tidak tau kek, lagian kenapa selalu membelanya?." Steiven memprotes sikap Alfa yang berubah.
" Apa kau bilang!!! Kenapa membelanya, apa kau ini waras, hah. Dia itu adik perempuanmu, bagaimana bisa kau membandingkannya. " Teriak Alfa.
__ADS_1
" Kenapa tidak kubunuh saja dia waktu itu, merepotkan sekali, aakkhh!!!." Steiven menggenggam tangannya yang terluka.
" Apa kau bilang!!! Dasar anak sialan." Alfa berancang-ancang menembak Steiven untuk kedua kalinya.
Tak!!!
Pelatuk di tarik.
" Kakek, jangan!!!." teriak Aqilla sembari menuruni tangga dengan berlari.
Aqilla sudah berdiri dihadapan Steiven, untuk melindunginya dari amarah sang kakek.
" Kenapa main tembak-tembakan kek, sudah tua juga." Aqilla berkata untuk meredam amarah Alfa.
" Hei, kakek tua? Ah, iya juga ya. Aish kalian ini, minggir Qilla. Kakek mau buat perhitungan dengan anak bandel ini, tega-teganya dia menculik kamu. Minggir!" Alfa terus berteriak.
" Kau!!! pergi, sungguh sial hidupku mempunyai adik sepertimu. Akkh!!! Steiven meringgis.
" Maaf sudah membuatmu terluka, lebih baik segera di obatin dulu. Takutnya terjadi infeksi. "
" Hei, mau kemana kau anak bodoh!!! Urusanmu dengan kakek belum selesai, hei!!! " Teriak Alfa.
Aqilla berlalu mendekati sang kakek, menatap wajah Alfa dengan tajam.
" Kenapa? Ada apa dengan wajah kakek, hingga kau melihatnya begitu." Alfa kaget, dengan tatapan Aqilla yang begitu tajam padanya.
" Huh!!! Kakek ini sebenarnya kerja apaan sih! Main tembak saja, nanti kalau dia kenapa-kenapa. Kakek yang dipenjara, lagian saat itu. Kita belum tau kek, kalau kita saudaraan. Sudah ya marah-marahnya, nanti jantungan. Qilla ogah nemenin kakek!!!."
" Hei!!! Ancaman seperti apa itu, hah?? Kau mendoakan kakek jantungan? Dasar cucu cerewet." Alfa semakin di buat pusing dengan ucapan Aqilla.
" Hehehe, bukan ancaman kakek. Tapi... Sekadar untuk renungan saja." Aqilla memberikan sedikit nasihat.
" Ya ampun!!! Apalagi Qilla, kau sungguh membuat kepala kakek sakit." Alfa memijat pelipisnya.
" Paman Robert, sebaiknya kakek di ajak untuk istirahat ya. Nanti, ubannya semakin banyak kalau marah-marah terus." Aqilla menatap Robert.
Robert hanya mengganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Mari tuan, silahkan!!!." Robert memberikan ruang, agar Alfa bisa berjalan menuju kamarnya.
" Aakhhh, Dasar kalian cucu-cucu egois." Alfa akhirnya menyetujui saran Aqilla untuk beristirahat.
Di saat sang kakek tidak terlihat lagi, Aqilla dan Intan segera menuju kamar Steiven. Aqilla merasa tidak enak, karena dirinya. Kakek dan Steiven menjadi bertengkar, apalagi mengetahui saat Aqilla di culik oleh Steiven. Bahkan, sang kakek dengan gelap mata menembak kakak sepupunya itu.
" Intan, kamu temenin ya ke kamarnya? Aku masih takut." Aqilla meminta bantuan.
" Iya nona, akan saya laksanakan." Intan pun menyanggupinya.
Kini mereka telah tiba di depan pintu kamar Steiven.
Tok
Tok
Tok
" Kak Steiv, ini Qilla. Apa Qilla boleh masuk?".
Cekrek!!!
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan wajah Steiven yang sangat kesakitan.
" Pergi!!!." Teriak Steiven.
" Tunggu kak, Qilla mohon maaf atas sikap kakek. Qilla obatin ya." Dengan gugupnya, Aqilla mencoba untuk tenang.
Bbrraakkk!!!
Steiven menutup pintu kamarnya dengan keras, hingga membuat Aqilla dan Intan kaget.
" Sudah Non, mungkin suasana tun muda sedang tidak bagus." Intan mengajak Aqilla untuk pergi dari sana.
Aqilla pun menurutinya dan bergegas berngkat ke kantor, kesempatan saat kakeknya sedang tidak ada.
......................
__ADS_1