
Dihadapkan dengan sebuah map berwarna cokelat, Aqilla memandanginya dengan sangat fokus. Perasaan yang seperti dicamput aduk, senang, penasaran, bingung dan tanda tanya. Tangannga mulai memegangi map tersebut, perlahan membukanya dengan cara merobek map tersebut.
Setelah map itu selesai terbuka, betapa terkejutnya Aqilla melihat isinya. Sebuah tablet dengan merek apel digigit, sebuah blackcard, dan sebuah kotak berwarna biru serta sebuah surat yang terletak diatas kotak biru tersebut.
Maaf untuk semuanya, percayalah! Ini hanya untuk sementara, jangan percaya dengan apa yang kamu lihat dan yang akan kamu dengar dari banyak sumber. Cukup percaya dengan saya, yakinlah hati ini hanya untukmu seorang. Harus kuat dan sabar dalam menghadapi berbagai hal yang akan datang. Mulai detik ini, jangan mendekati pria manapun, jaga kesehatan, jaga Hati, mata dan semuanya untuk saya.
Gunakan semuanya ini untuk bertahan, jangan pikirkan masalah dimana, dan saya sedang apa. Ingat!! pesan yang sudah saya titipkan untukmu. Tunggu saatnya tiba, kita akan bahagia untuk selamanya.
Love U ❤ Aqilla Nadifa
Dari pria aneh yang selalu mencintaimu
Akhtar Wijaya
Menatap surat yang ia baca dengan wajah yang membinggungkan, berbagai pertanyaan kini muncul di dalam pikiran Aqilla.
Ada apa ini? Kenapa pria aneh itu menulis surat kayak gini? Memangnya ada apa dengan pria aneh itu? Sungguh membuatku binggung. Batin Aqilla.
Memasukkan kembali semua barang-barang tersebut, disaat akan memasukkan Tablet. Dibagian belakangnya terdapat tulisan.
* Saya akan selalu menggirimi video keseharian saya dan apa yang saya kerjakan, kamu bisa melihatnya di sebuah file yang sudah saya persiapkan. *
Ya Tuhan, apalagi ini! Sungguh ini membuatku sangat bingung dan memusingkan sekali.
__ADS_1
Tidak ingin menjadi sakit kepala, akhirnya Aqilla menyimpan semuanya. Tubuh yang sangat lelah, membuat Aqilla segera beristirahat dan menyiapkan tenaganya untuk bekerja esok hari.
......................
" Bagaimana dengan pekerjaan kalian? " Wijaya menelfon seseorang.
" Beres tuan, kini. Semua pelanggan yang merek miliki, perlahan-lahan kami singkirkan." Jawab orang diseberang telfon.
" Bagus, setelah ini. Kalian terus awasi wanita itu, bila situasinya sangat mendukung. Langsung saja kalian eksekusi." Dengan senyuman menyeringai, Wijaya berencana menyingkirkan Aqilla.
" Baik tuan, akan kami laksanakan."
Tut
Tut
Tut
......................
Beberapa hari setelah kejadian perkelahian diantar Akhtar dan Steiven. Keesokan harinya, Akhtar menggalami sakit pada bagian perutnya yang sangat luar biasa.
" Jas, to tolong telfon Evan. Pe perut sangat sakit." Akhtar meringgis dengan keringat yang bercucuran dengan sangat banyak.
__ADS_1
" Ada apa tuan? baiklah. " Wajah Jaaon sangat panik.
Jason langsung menelfon Evan untuk segera datang ke kantor, setelah itu. Jason langsung membawa bosnya ke dalam ruangan istirahat pribadi miliknya, membaringkan perlahan tubuh Akhtar.
" Jangan beritahu Aqilla!." Titah Akhtar kepada Jason.
Raut muka Jason menjadi berkerut, seolah ia meminta penjelasan dari perkataan yang bosnya ucapkan tadi.
" Saya tidak mau membuatnya khawatir, tapi kau terus awasi dan jaga dia dengan bayangan. Aqilla tidak terlalu suka, apabila ia diikuti. Sepertinya pria tua itu ingin memisahkanku darinya, kau mengerti Jas?." Akhtar meringgis dengan menatap wajah Jason.
" Saya mengerti tuan." Anggukan kepala dari Jason, membuat Akhtar merasa lega.
"Permisi!!!." Teriak Evan dengan sangat keras.
" Woy, berisik. Cepetan masuk, tuan sedang kesakitan." Jason kembali meneriaki Evan.
Dengan langkah besarnya, Evan segera masuk kedalam kamar pribadi Akhtar. Ia lalu memeriksa secara mendetail tubuh Akhtar, tak lama kemudian keningnya berkerut.
" Lu kali ini turuti perintah gue, tubuh lo udah nggak bisa menerima kehilangan satu ginjal. Sekarang, kita secepatnya harus mencari pendonor lagi untuk nyawa lo. Nggak usah protes dan cerewet lagi, Jas. Lu hubungi Leo, dan suruh dia menyiapkan semuanya. Kita berangkat ke Negara E, lu harus secepatnya di operasi. Kalau nggak sayang sama nyawa lu, lebih baik Aqilla buat gue." Tantang Evan.
" Saudara brengsek lu Van, kali ini gue kalah sama lu. Tapi tidak untuk yang lainnya, dan jangan sedikit pun menyentuh milik gue. Camkan itu!!!." Amarah Akhtar sudah sampai ubun-ubun, mendengar perkataan Evan yang ingin menggambil Aqilla.
" Heh, Aqilla, Aqilla dan Aqilla. Udah nggak usah panjang lebar, gue mau nyiapin yang lainnya."
__ADS_1
Jason dengan sigap segera melaksakan tugasnya, membawa tuannya yang sedang dalam keadaan tidak baik.
Tuan, tuan. Sampai detik ini, tingkahmu selalu membuatku kalang kabut. Ternyata, nona Aqilla sangat berpenggaruh dalam kehidupan seorang Akhtar. Sungguh senang rasanya melihatmu bisa membuka hati kembali tuan, dan pilihanmu kali ini tidak akan salah. Batin Jason.