Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 73


__ADS_3

Aqilla dan Robert telah sampai di mansion, terlihat sang kakek sudan menunggu di depan pintu mansion.


" Assalamu'alaikum kek." Aqilla mencium punggung tangan sang kakek.


" Wassalam. Masuklah, bersihkan diri lalu beristirahatlah." Alfa menepuk pundak cucunya.


" Baiklah kek." Lalu Aqilla segera menuju kamarnya.


Alfa mengisyaratkan bola matanya kepada Robert, mereka menuju ruang kerja Alfa.


Disaat mereka sudah berada disana, lalu Alfa meminta penjelasan dari Robert.


" Ceritakan." Alfa ingin mengetahui.


" Nona bekerja di bawah naungan Kevin Alberto, tuan. " ujar Robert.


" Heh, ternyata tikus kecil itu ingin bermain-main denganku! Membuat cucuku lembur, hah! Ikuti saja dulu pergerakannya." hembusan nafas Alfa sangat kasar.


" Ada lagi Tuan, sepertinya Akhtar Wijaya. Menyukai nona."


" Apa??? Orang yang aku inginkan, menyukai cucuku? Apa ini namanya keberuntungan Robert. Hahaha." Alfa merasa ingin segera mendapatkan penerusnya didunia bawah.


" Tapi tuan, apakah anda sudah memikirkan tentang nona Aqilla? Seandainya dia tau, dunia bawah kita?" tanya Robert.


Suasana menjadi hening seketika, Alfa menjadi diam dan tak berujar satu kata pun. Memang benar apa yang dikatakan oleh Robert, Aqilla maupun Haykal tidak mengetahui pekerjaan dunia bawah yang ia lakukan. Ada kekhawatiran dalam dirinya, Ayah Aqilla dulu juga sangat tidak menyukai ia berkecimpung pada dunia bawah.


" Kita pikirkan itu nanti, kau awasi terus pergerakkan mereka. Aku tak ingin, cucuku terluka!." Alfa berdiri dan beranjak masuk kedalam mansion.


......................


Ke esokkan harinya, semua kembali pada rutinitas seperti biasa. Haykal sudah berangkat ke sekolah, sekarang ia sudah menggendarai mobil sendiri, pemberian dari sang kakek. Aqilla sebenarnya juga mendapatkan hal serupa, namun ia tolak dengan baik.


" Kek, Aqilla belum bisa menggendarai mobil. Nanti saja ya, saat Qilla sudah mahir dalam menggemudi."


" Kenapa cucu kakek satu ini sungguh keras kepala, orang lain dengan senang menerimanya dan cucu kakek ini malah menolak. Ada supir yang akan menggantar, kenapa harus menyetir sendiri. Oh ya, Apa kau sudah bertemu dengan kakak sepupumu?." Tanya Alfa.


" Belum kek, wajah dan siapa namanya saja Qilla nggak tau. Apa dia tinggal disini juga?." tanya Qilla.


" Ah anak itu, selalu saja. Robert! Bawa anak keras kepala itu kemari, bukannya ada anggota baru dia menggenalkan diri. " Alfa mendengus kesal.

__ADS_1


Robert melangkahkan kaki menuju kamar Steiven.


Tok


Tok


Tok


" Tuan muda, Tuan besar memanggil anda untuk sarapan." Panggila Robert.


Klek!!!


Pintu kamar terbuka, Steiven memperlihatkan wajah kesalnya.



" Aku bukan anak kecil lagi paman, aku akan turun sendiri. Tidak perlu memanggil seperti ini, memalukan." Protes Steiven.


" Tuan besar sudah menunggu!" Robert menekankan kembali perkataannya.


" Iya, iya. Kalian sungguh cerewet sekali."


" Pagi kek!" Steiven menarik kursi yang berada disamping Aqilla.


Mereka belum menyadari satu sama lain, mereka duduk dan melanjutkan sarapan.


" Aqilla, itu dia sepupumu yang menyebalkan." Alfa memberi arahan untuk menggenalkan mereka.


Aqilla dan Steiven mendengar perkataan sang kakek, sendok yang mereka gunakan untuk makan itu terhempas begitu saja. Mereka pun saling menoleh dan memandang satu sama lainnya, Aqilla sangat terkejut melihat wajah Steiven, pikirannya langsung teringat disaat penculikan diwaktu lalu.


" Kau!!!." Steiven memandang dengan tajam wajah Aqilla.


Aqilla langsung menjadi pucat dan tubuhnya bergetar ketakutan, memundurkan kursinya dan berlari menuju kamarnya.


" Ada apa steiv? Apa yang kau lakukan?" Teriak Alfa, melihat Aqilla yang berlari.


" Akh! Kakek tanya sendiri dengan dia." Steiven menghembuskan nafasnya dengan sangat kesal.


Akh! Kenapa harus dia si, kenapa nggak orang lain saja. Kalau kakek tau, habis aku. Sial, menyusahkan orang saja. Batin Steiven.

__ADS_1


Sedangkan Alfa menyusul Aqilla ke kamarnya, merasa tidak tenang melihat cucunya seperti ketakutan.


Tok


Tok


" Qilla, kakek masuk ya!!" Alfa membuka pintu kamar Aqilla, melihat sang cucu duduk disamping tempat tidurnya dengan memeluk lutut kakinya.


Alfa bergegas mendekati Aqilla, lalu duduk dihadapannya.


" Qilla, lihat kakek! Ada apa sebenarnya?" Alfa memegang wajah Aqilla yang sudah basah dengan air mata.


" Ti ti tidak ap apa-apa kek." Aqilla menundukkan wajahnya kembali.


" Katakan pada kakek, jangan membohongi kakek Aqilla!!!." Suara Alfa sudah meninggi.


Tanggisan Aqilla semakin menjadi, membuat para asisten rumah tangga berlari menuju kamar Aqilla.


Intan pun melihat Aqilla sedang menanggis, ia reflek mendekatinya.


" Nona!." Sapa Intan.


Melihat adanya Intan, Aqilla langsung memeluknya. Intan membalas pelukkan nona mudanya dan menggelus pundaknya perlahan-lahan.


" Aqilla, jawab kakek!!!."


" Nona, lebih baik anda jawab saja pertanyaan tuan besar. Tuan besar akan lebih marah, jika nona hanya berdiam diri." bisik Intan.


Dengan masih sesegukkan, Aqilla merenggangkan pelukannya dari Intan. Menatap sang kakek, yang wajahnya sudah sangat merah.


" Di dia, men menculik Qilla kek!."


" APA!!! " Alfa sangat terkejut mendengar perkataan Aqilla.


Tanpa menoleh lagi, Alfa segera keluar dari kamar Aqilla dengan tergesa-gesa.


" Intan, a ap apa yang akan kakek lakukan?." Aqilla merasa takut, melihat aura membunuh dari wajah sang kakek.


" Saya tidak tau nona, lebih baik anda istirahat saja." Intan mencoba menenangkan.

__ADS_1


......................


__ADS_2