
Disaat Aqilla membuka matanya, ia melihat dengan samar dan kemudian menjadi jelas. Menggerakkan jemarinya yang tidak sengaja bersentuhan dengan sesuatu, ternyata itu adalah jemari tangan suaminya.
" Mas ". Panggil Aqilla perlahan.
Tidur dalam posisi kepala bertumpu pada satu tangan dan satu tangan lagi menggenggam jemari tangan istrinya, Akhtar merasa ada yang memanggil namanya. Ia pun membuka matanya perlahan, merasa genggaman tangannya bergerak.
" Sayang? Kamu sudah sadar. " Akhtar sangat merasa senang. Dan hal itu Aqilla menyambutnya dengan wajah yang penuh senyuman.
Ciuman bertubi-tubi Akhtar berikan kepada sang istrinya, pipi, dahi, puncak kepala, punggung tangan mendapatkan absenan dari bibir Akhtar.
" Mas geli!." Aqilla merasa risih.
" Kamu memang sangat menggemaskan sayang."
" Mas, kok Qilla disini?". Ia merasa heran, melihat ruangan yang serba putih itu.
" Kita dirumah sakit, jangan memikirkan yang tidak pantas kamu pikirkan. Dan mulai detik ini, kamu nggak boleh capek-capek dan banyak pikiran. Karena, ada kabar bahagia untuk kita dan semuanya." Akhtar tersenyum.
Merasa heran dengan apa yang dikatakan suaminya, Aqilla menaikkan salah satu alis matanya.
" Disini, sekarang ada calon anak kita." Akhtar mengelus perut Aqilla.
Mendengar perkataan sang suami, membuat Aqilla sedikit terkejut. Matanya melihat ke arah perut ratanya, disana ada tangan suaminya yang mengatakan ada calon anak mereka.
" Qilla hamil, mas?" ucap Aqilla dengan memandangi wajah suaminya.
__ADS_1
Akhtar menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, penepuk punggung tangan Aqilla untuk menambah keyakinannya. Aqilla pun menanggis bahagia, memeluk suaminya dengan sangat erat.
......................
Setelah memeriksa dan meneliti beberapa berkas yang ada, Meyra menemukan keganjilan dan penyebab kekacauan yang terjadi di perusahaan cabang milik suami sahabatnya.
" Bagaimana tuan, apa kau punya pikiran yang sama denganku?" Meyra menunjukkan keganjilan yang temukan.
Jason berdehem saja menanggapi perkataan dari Meyra, ia juga sama menemukan permasalahan yang terjadi.
" Aish! Kau ini benar-benar kaku tuan, bisa pesankan aku sedikit makanan tidak? perutku terasa lapar setelah mengerjakan semua ini. Kau pun tidak ada memberikan aku air minum tuan, dasar tidak berperasaan." Meyra berdengus kesal kepada Jason.
Jason melirik kearah Meyra, memang benar adanya. Dia tidak memberikan atau menawarkan minum dan makanan kepada Meyra, hanya saja ia menutupi kecangungan itu.
" Apa aku boleh memesan makanan? Atau kau hanya basa-basi tuan? ". Meyra menatap Jason dengan penuh selidik.
Ni perempuan, mulutnya itu!!! Jika bukan sahabat dari nona Aqilla, sudah gue cincang tu mulut. Lagian Bos selalu saja menggirimkan bantuan dengan tidak tepat, dulu Leo dan sekarang wanita dedemit ini! Oh Tuhan, sangat menyebalkan! Jason.
Merasa diperhatikan oleh pria kaku dihadapannya membuat Meyra kembali memprotesnya.
" Hei tuan, matamu itu! Mau aku colok, hah! Ini boleh pesan makanan atau tidak? Dasar manusia kaku aneh, lebih baik aku sendiri yang pesan. Dan kau!! Siapkan saja uangmu untuk membayarnya, dasar lamban." Meyra sangat kesal pada Jason.
Jason sudah kalah telak dari wanita dihadapannya itu, ia juga sangat malas untuk berdebat dengannya. Membuatnya selalu sakit kepala jika selalu berdebat dengan Meyra, hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikapnya. Walaupun selalu beradu argumen jika mereka bertemu, namun ada rasa nyaman didalam hati Jason.
__ADS_1
Setelah selesai dari memesan makanan via online, Meyra menunjukkan ponselnya kepada Jason.
" Tuan kaku, kau harus membayarnya. Ini total biayanya." Meyra mengarahkan ponselnya kepada Jason.
Melihat rincian pesanan yang dilakukan Meyra, mata Jason langsung melebar dan tak berkedip.
" Apa kau tidak salah? sebanyak itu kau memesan makanan! Kau ini manusia atau dedemit, hah! " Jason memprotes.
" Memangnya kenapa? Kau mau protes, hah! Dasar manusia tidak beperasaan. Aku ini memesannya untuk dua orang, lagian itu juga tidak akan menguras dompetmu kan? Sudahlah, lagian juga itu sudah aku pesan. Siapkan saja uangnya, tidak usah protes." Meyra dengan tenangnya menghadapi protesan dari Jason.
" Yiiak!!! kau ini benar-benar." Jason memijit kepalanya, rasanya sangat percuma menentangnya.
Dengan memainkan ponselnya, Meyra menunggu pesanan makanannya datang. Tidak untuk Jason, ia memilih melanjutkan kegiatannya dengan berkas-berkas yang ada. Tak terasa waktu sudah berlalu, makanan pun tiba. Dengan sangat berat hati, Jason membayar pesanan itu. Meyra dengan senyuman merekah, menata pesanannya diatas meja tamu diruangan tersebut.
" Mari tuan, kita harus mengisi tenaga dulu sebelum kembali bertempur dengan kertas-kertas itu."
Jason masih berdiri tegap memandangi pesanan makanan yang ditata Meyra, tanpa ia sadari. Tangan Meyra sudah melingkar dilengan Jason dan menariknya untuk duduk bersama, hal itu membuat jantung Jason dan Meyra berdetak sangat cepat.
" Ayo makan tuan! Tidak usah kaku seperti itu, kau mau pingsan, hah! makanlah..." Meyra berdengus melirik Jason.
Kenapa dengan diriku? jantungku berdetak sangat kuat, tidak biasanya seperti ini. Jason.
Aduh, kenapa jantung gue jadi kayak gininya! Perasaan tadi baik-baik saja, kenapa setelah menarik pria kaku ini jadi lebih cepat berdetak. Aih, masa aku menyukai pria ini. Ah.. Meyra.
Mereka mulai menikmati makanan yang sudah berada dihadapannya, tanpa ada satu kata pun. Setelah selesai makan, Meyra segera membereskanya. Jason pun tidak ingin mendapatkan omelan lagi dari Meyra, ia pun ikut membereskan sisa-sisa dari santapan mereka dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1