
Bbrraakk!!!
Pintu ruangan Jason terbuka dengan kasar dan menimbulkan suara yang mengejutkan.
" Hei pria kaku, aneh, sombong! Dimana bosmu itu hah? Dimana dia menyembunyikan Qilla?" Suara orang tersebut sangat khas dan membuat sakit telingga.
Mata Jason langsung melotot melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya! Terlihat Sang sekretarisnya berada dibelakang wanita itu dan menjelaskan, bahwa wanita itu memaksanya untuk menemui Jason. Lalu Jason menggerakkan tangannya, menandakan untuk sekretarisnya untuk pergi.
" Woi, jawab !!! Punya mulut nggak si lo! Dasar manusia kaku!!!." Wanita itu langsung saja berjalan dan duduk dalam ruangan tersebut.
" Punya etika lah kalau ditempat orang, tidak sopan. Kau ini wanita asli apa jadi-jadian? pedes tu mulut, kalah sama cabe." Jason mendengus kesal kepada wanita tersebut.
Meyra, ya. Wanita tersebut adalah meyra, ia tidak dapat menghubungi Aqilla dalam waktu beberapa pekan ini, membuatnya menjadi uring-uringan. Di pikirannya hanya teringat dengan Akhtar, karena dia adalah kekasih dari sahabatnya itu.
" Mata lu soak, biasa lihat kan! Gue wanita tulen, bukan jadi-jadian. Mana bos lu? Gue mau nanyain Aqilla." Meyra menaikan dagunya dan menatap Jason dengan sinis.
" Huh!!! Apalagi ini! Bos nggak ada, lagi jagain nona Aqilla dirumah sakit." Jason berbicara sembari memeriksa beberapa berkas dihadapannya.
__ADS_1
" APA!!! Rumah sakit? Aqilla kenapa? Ada apa dengan Aqilla?." Meyra membrondong Jason dengan berbagai pertanyaan dan menggebrak meja kerjanya.
Busset ni perempuan, makan apa ni orang? Galak bener. Jason.
" Woi, jawab!!! Gue gibeng juga lu!." Meyra semakin garang.
Mendapatkan perlakuan dari Meyra, membuat Jason menjadi emosi. Yang pada awalnya sudah pusing dengan pekerjaan, lalu ditambah ulah Meyra yang semaunya saja.
" Diam!! jika tidak, aku robek mulutmu". Ancam Jason dengan menatap tajam kepada Meyra.
Meyra menjadi diam seketika, mendengar Jason berkata dengan sangat penuh penekanan. Terdapat rasa takut dalam dirinya, baru kali ini Meyra melihat dan mendengar Jason seperti itu.
Sedikit memijat keningnya, Jason sungguh merasa lelah. Meyra melihat Jason seperti itu, memberanikan diri untuk menawarkan bantuan.
" Hei tuan kaku, sepertinya kau sangat lelah! Apa ada yang bisa aku bantu?"
__ADS_1
" Huh! Kau bisa apa, hah? Terlihat dari wajahmu saja, tidak menyakinkan." Jason menyindir Meyra.
" Jangan hanya menilai orang lain dengan covernya saja tuan, sini. Apa yang sedang anda kerjakan." Meyra mengambil satu berkas yang berada di atas meja Jason.
Ia mulai meneliti satu persatu paragrap pada berkas tersebut, hingga tak terasa sudah empat berkas yang ia periksa. Jason hanya melihat dan memandangi Meyra yang sedang larut dalam pekerjaannya, hingga tak terasa mulut Jason berkomentar tanpa terkendali.
" Cantik, manis!".
Ternyata, ucapan Jason itu terdengar di telingga Meyra.
" Heh, baru sadar ya kalau aku ini cantik dan manis! Kemana aja tu mata dari dulu!." Meyra mendengus kesal dan sedikit menaikan bibir atasnya.
" Dasar wanita jadi-jadian, nyemprot saja tu tu mulut!." Jason berusaha menutupi rasa malunya yang tak sengaja berkata seperti itu.
" Tidak usah malu tuan, biasa saja kali. Ni, empat berkas sudah aku bantuin, dan seterusnya kerjain sendiri. Ayo kerumah sakit! Nanti keburu malas, tuan kaku!." Meyra membantu merapikan tumpukkan berkas-berkas dan beberapa barang lainnya yang berada disana, setelah selesai! Lalu ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Melihat sikap Meyra yang seperti itu, membuat Jason merasakan hal yang begitu hangat dalam dirinya. Entah perasaan apa itu, tanpa menunggu lama, Jason pun melangkah keluar dari ruangannya mengikuti langkah Meyra yang terlebih dahulu berjalan.