Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 127


__ADS_3

Setelah berbagai aral rintangan yang dihadapi, kini Akhtar dan Aqilla bisa bernafas lega. Akhtar telah mempersiapkan acara khusus untuknya melamar Aqilla secara langsung.


Akhtar kini dalam perjalan pulang. Saat tiba dimansionnya, Akhtar segera menjumpai Amirah.


" Assalamu'alaikum ma." Sapa Akhtar pada Amirah yang saat itu sedang menikmati tontonan televisi dihadapannya. Lalu ia mencium punggung tangan Amirah dan ikut duduk disampingnya.


"Wa'alaikumussalam sayang! Wah, kayaknya cerah banget hari ini." Senyum Amirah menatap wajah sang anak.


" Mama mau anak lagi nggak?". Senyum Akhtar kepada Amirah.


Ppuukk!!!


Pukulan dari tangan Amirah mendarat dengan telak di bahu Akhtar, ia lalu menatap Akhtar dengan tatapan yang sangat tajam.


" Apa kau bilang, hah!!! Mama sudah tua Akhtar!!! Kau ini, seharusnya itu kamu yang kasih mama cucu. Bukannya minta anak lagi dari mama, papa kamu bakalan marah jika tau kamu seperti ini. Dasar anak tidak tau perasaan, mama kutuk baru tau kau ya!." Amirah kembali memukul bahu Akhtar dengan sangat kuat.


" Aakkhh!! Mama itu yang salah arti, Akhtar bukan minta anak lagi dari mama. Aih, sakit ini ma.!" Akhtar mengelus bahunya, rasa sakitnya itu tidak seperti ekpresinya yang kesakitan.


Mendengar ada keributan dari arah ruang keluarga, Beni yang sudah kembali bekerja dan saat itu baru saja tiba dari kantornya. Ia langsung menuju ruang keluarga, mendapati mama dan adiknya sedang bersendau gurau.


" Sepertinya, akan ada kabar bahagia lagi ni!." Beni mendaratkan tubuhnya untuk duduk disamping Amirah, dan mencium punggung tangannya.


" Ini Ben, adikmu ini kurang kerjaan. Masa' bilang, mama mau anak lagi nggak? Mama udah berumur juga, masa' dibilang mau anak lagi. Coba kamu periksa, mungkin aja adikmu ini sedikit terganggu otaknya ". Amirah memasang ekpresi wajah yang garang.

__ADS_1


" Hah, apa? Beneran ma! " Beni memasang wajah yang seakan-akan kaget.


" Kalian ini!!! Mau mama kutuk, hah!!!." Amirah sudah sangat marah dengan kelakuan kedua putranya itu.


" Hahaha." Beni dan Akhtar tertawa dengan sangat keras, hingga Beni memeganggi perutnya yang sakit.


" Kalian kenapa tertawa! Ada yang salah dengan mama?." Amirah menjadi heran.


" Ma, maksud dari perkataan Akhtar itu. Bukan mau mama buat anak lagi, tapi! Mama akan menambah anak!!! " . Akhtar masih menahan tawanya.


Amirah semakin pusing dengan kalimat yang Akhtar sampaikan, dahinya sudah terlihat beberapa lipatan.


" Ma, coba deh mama koreksi lagi kata-kata yang di ucapkan Akhtar. Pasti mama paham." Beni mengendurkan dasi yang berada di kerah bajunya.


" Mama mau anak lagi nggak?" Mulut Amirah membeo, lalu ia diam dalam beberapa saat.


" Aaaahhhh!!! Mama baru paham!." Amirah menepuk kedua bahu anaknya.


Akhtar dan Beni jadi bengong, melihat ekspresi dari mamanya.


" Akhtar, kau! Aqilla!!! Ya ampun, akhirnya. Mimpi mama jadi terwujud juga." Senyuman tawa bahagia yang Amirah perlihatkan, namun hal itu tidak berlangsung lama. Ia terdiam dan wajahnya kini kembali menjadi sedih.


Akhtar dan Beni merasa aneh, tadi mamanya sangat antusias dan tertawa. Tapi saat ini, tiba-tiba hening.

__ADS_1


" Ma, ada apa?." Tanya Akhtar yang merasa khawatir.


" Nak, bagaimana dengan kakeknya? " Raut wajah Amirah menatap Akhtar dengan sangat sedih. Beni pun merasa khawatir, walaupun ia hanya sedikit mengetahui peristiwa diantara mereka.


Akhtar hanya tersenyum dengan pertanyaan dari mamanya, apalagi melihat wajah kakaknya yang sangat diluar ekspetasi.


" Mama tenang saja, semuanya sudah berlalu. Baik Akhtar maupun kakek Aqilla, kami sudah mengikhlaskan masa lalu. Lebih tepatnya, berdamai. Ma, Aqilla juga sudah menerima Akhtar apa adanya. Walaupun masalalu Akhtar sangat kelam, semuanya itu akan kami jalani. Mama do'akan saja, agar kedepannya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak baik. Oke mamaku tersayang! Dan nanti malam, bantuin Akhtar untuk melamar Qilla ya ma." Akhtar menepuk punggung tangan Amirah, yang sudah ia genggam.


Setelah mendengar penjelasan dari Akhtar, Amirah menganggukkan kepalanya dan kembali menanggis. Kali ini, tanggisan kebahagian yang terjadi.


" Eist, tapi jagan disatuin sama pesta Beni ya ma. Males banget harus bertemu dengan rekan kerja Akhtar, wajahnya serem-serem ma. Bisa-bisa, tamu Beni pada kabur." Protes Beni.


" Ya ampun kak, pelit bener lu. Lagian siapa juga yang mau disatuin dengan resepsinya sama lu, emangnya lu kapan, hah?". Akhtar mendengus kesal kepada Beni.


" Hem, Cila maunya tiga bulan lagi. Soalnya, kerjaan dia masih banyak yang deadline. Lah, lu emangnya kapan?."


" Maunya si secepatnya, rencana Akhtar itu satu minggu lagi, ma. Gimana? Lagian juga, Kakeknya minta secepatnya. " Akhtar tersenyum penuh kemenangan dari kakaknya.


"Wah, kejar tayang lu pada." Beni sangat terkejut dengan keinginan adiknya itu.


Amirah sangat bahagia mendengar kabar baik tersebut, rasanya ia ingin memeluk sang suami. Berbagi kebahagian padanya, namun apa daya. Orang tersebut sudah tidak ada disisinya.


Pa, kamu pasti bisa melihatnya kan. Anak-anak kita, saat ini sudah menemukan kebahagiannya. Andai saja kamu masih ada, pasti kita akan sangat bahagia. Amirah.

__ADS_1


" Mama hanya bisa merestui kalian nak, untuk semuanya itu. Kalian saja yang mengaturnya, lakukanlah yang terbaik." Akhtar dan Beni langsung memeluk Amirah dengan sangat erat, Air mata kebahagian itu mengalir di sudut mata Amirah.


__ADS_2