Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 118


__ADS_3

" Maaf mas, Qilla memang belum bisa untuk menerimanya!."


Mendengar hal itu, hati Akhtar seperti hancur berkeping-keping. Ia sudah menyiapkan hati untuk menerima apapun keputusan Aqilla terhadap rahasianya ini, tapi masih terasa sangat menyakitkan.


" Tidak apa-apa, mas menghargai keputusanmu. Maaf jika selama ini menutupinya dan membuat dirimu selalu terlibat dalam masalah yang ada. Jaga diri baik-baik setelah ini!." Mata Akhtar sudah sangat berembun.


Tak sanggup melihat situasi seperti ini, Evan memilih untuk memejamkan matanya dan menulikan pendengarannya.


" Kenapa mas bicara begitu?! Aqilla tau kalau Akhtar sedang dalam keadaan galau.


" Tidak apa-apa, mas tidak ingin memaksakan kehendak mas sama kamu." Akhtar tersenyum kepada Aqilla.


" Mas!." Aqilla membalas senyuman Akhtar.


" Hem."


" Mas."


" Hem."


" Ham hem ham hem dari tadi jawabannya, coba liat mata Qilla."


Dengan perasaan yang teramat berat, Akhtar mencoba memandangi wajah dan mata Aqilla.


" Maaf mas, Qilla memang belum bisa untuk menerimanya. Tapi, bukan berarti Qilla tidak memberikan kesempatan buat mas kan! " Senyuman Aqilla semakin lebar.

__ADS_1


Bagaikan tersengat aliran listrik dengan tegangan sangat tinggi, raut muka Akhtar berubah seketika.


" A apa sayang? Benarkah itu? benarkah!!!." Akhtar seakan tidak percaya, bahwa Aqilla memberikannya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Dengan Menganggukkan kepalanya dan tersenyum, Akhtar segera memeluk Aqilla dengan sangat erat. Memberikan kecupan dipuncak kepalanya, dan tak henti-hentinya ia berbicara dengan perasaan bahagia.


Wah wah wah! Perang dingin telah usai, si singa raja hutan sudah mendapatkan sang penakhluk hatinya. Wah keren ni kakak ipar, berhasil membuat suasananya tegang. Aduh, jiwa jombloku meronta-ronta ini. Evan.


" Woi, woi, woi. Ada orang disini, nggak liat apa? " Evan memprotes kepada pasangan yang sedang berbunga-bunga itu.


Aqilla langsung refleks mendorong tubuh Akhtar dari dirinya, ada rasa malu kepada Evan atas sikap Akhtar yang suka main peluk saja.


" Kenapa memangnya! Pengen lu? Sini, gue peluk." Akhtar beranjak dari sisi Aqilla dan perlahan berjalan menuju Evan, dengan gaya merentangan tangan untuk memeluk.


" Aih, gue masih normal weh! Lu kira gua suka jeruk makan jeruk, breng***ek lu. Kakak ipar, top markotop dah!." Evan menunjukkan Dua jempol kepada Aqillam


" Van, kamu juga ikut jadi mafia ya?." pertanyaan Aqilla membuat Evan dan Akhtar berhenti dari kekonyolannya.


Menggaruk kepalanya yang memang tidak sedang gatal, dengan cenggegesan dan senyuman nakal.


" Ikut-ikutan saja kak, lagian ni orang yang suka maksa. Kitanya nggak mau, dipaksa-paksa. Jadinya juga ikutan!." Evan melirik Akhtar.


" Bilang saja ' IYA' , kalian bener-bener mafia yang aneh dan somplak!!." Gerutu Aqilla kepada mereka berdua.


" Eist! Aneh dan somplak gimana sayang!. Mas juga nggak yang aneh-aneh kok." Akhtar mencoba untuk membela diri dihadapan Aqilla.

__ADS_1


" Nggak aneh-aneh, cuma aneh saja. Ya kan? Apa mas pernah membuat orang lain The end?" Aqilla semakin ingin tau, pekerjaan mereka.


Akhtar menjadi bungkam, ia takut akan salah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


" Ya elah, tingal bilang pernah aja susah amat lu Tar. Kakak ipar tau nggak, ni orang udah kayak tukang jagalan. Nggak kehitung lagi nyawa orang yang lenyap ditangannya, ya nggak Tar." Evan semakin senang melihat Akhtar yang seperti terpojokkan.


" Hem, apa bener mas?!." Tatapan Aqilla pada Akhtar, seakan-akan meminta penjelasan dari perkataan Evan.


Sama seperti Evan sebelumnya, Akhtar menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawabannya adalah 'iya atau pernah'.


" Jika mas saja sudah tidak terhitung lagi berapa nyawa yang sudah hilang, bagaimana dengan kakek?" Aqilla mulai merasakan embun di sudut matanya, tidak bisa ia bayangkan kekejaman sang kakek terhadap orang lain.


Mengetahui kondisi Aqilla yang saat itu tidak stabil, Akhtar menariknya untuk berada dalam pelukannya.


" Semua yang kami lakukan didalam dunia bawah, tidak selalu semata-mata hanya karena uang dan kekuasaan. Untuk melenyapkan nyawa seseorang, kami mempunyai perhitungan sendiri. Melakukannya hanga kepada mereka yang benar-benar mempunyai masalah dan melakukan kesalahan yang sangat fatal, jika tidak. Maka kami tidak akan melakukan hal tersebut, percayalah. Semuanya itu mempunyai alasan tersendiri. Maaf!!!." Akhtar menggelus kepala Aqilla perlahan.


" Mas, kakek dimana?"


" Mau ketemu?" Akhtar menatap Aqilla yang wajahnya sudah sembab dan basah karena menanggis.


" Hem.!" Aqilla menganggukkan kepalanya.


" Baiklah, Van!." Akhtar memberikan kode kepada Evan.


" Ah, Iya! Kakak ipar bersiaplah dulu. Biar aku yang akan mengecek keruangannya dan barulah kalian menyusul." Evan berjalan meninggalkan ruangan Aqilla.

__ADS_1


" Sabar ya, kita lihat kakek. Jangan banyak pikiran, nanti rambutnya banyak uban kalau terlalu banyak berpikir." Akhtar mentoel hidung Aqilla.


......................


__ADS_2