Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 88


__ADS_3

Wijaya menatap punggung pria yang katanya adalah kakek Aqilla, tubuhnya menegang.


" Pa, ada apa? Hayo, kita sapa keluarganya Aqilla." Amirah masih tidak habis pikir dengan sikap suaminya itu.


Bukannya mendekat, Wijaya semakin kaku ditempat. Menatap pria tua yang sedang duduk berhadapan dengan pintu ruangan tindakan, tubuhnya bergetar.


" Tidak, ti tidak!!!." Suara wijaya terdengar parau.


" Pa, ada apa?." Amirah melihat suaminya seperti ketakutan.


Akhtar yang mendengar perkataan sang mama, sontak saja menolehkan wajahnya. Melihat tubuh papanya yang bergetar, membuatnya menaikan salah satu alisnya keatas.


" Pa, papa kenapa." Amirah merasa panik melihat suaminya berubah seperti itu.


" Tidak mungkin ma, Tidak mungkin." Wijaya perlahan mundur.


Amirah segera membawa suaminya berjalan menjauhi tempat tersebut, membuat ruang agar suaminya merasa sedikit tenang.


" Ma, sebaiknya papa diajak pulang dulu saja. Sepertinya papa sedang tidak enak badan, bukan Akhtar menggusir ma." Akhtar tidak ingin terjadi sesuatu, disaat seperti ini.


" Iya sayang, sampaikan salam mama untuk keluarga Aqilla ya."


Belum selesai berpamitan, pintu ruang tindakan terbuka. Terlihat Evan keluar dari ruangan itu.


" Nak, mama pulang ya. Jangan lupa beritahu mama keadaan Aqilla." Kemudian Akhtar menganggukan kepalanya dan memeluk serta mencium punggung tangan sang mama.


Setelah kepergian Mamanya, Akhtar bergegas mendekati Evan dan juga disana sudah ada Steiven serta kakeknya Aqilla.


Evan keluar dari ruang tindakan, melepas masker yang ia gunakan.

__ADS_1


" Operasinya berjalan dengan sangat baik, hanya saja. Tubuh Aqilla sangat lemah, kita perlu banyak waktu untuk membuatnya sadar. Bisa dibilang, saat ini keadaannya dalam posisi koma. Hal ini di akibatkan terjadinya benturan dikepala yang mengakibatkan trauma." Evan menjelaskan kondisi Aqilla.


" Apa hal ini akan ada efeknya? Tanya Alfa dengan raut wajah yanh susah untuk di artikan.


" Sejauh ini, saya tidak melihat hal itu, tuan."


" Apa kami bisa melihatnya?" Steiven sudah tidak sabar untuk melihat kondisi adiknya, rasa bersalah itu selalu muncul di kepalanya.


" Kalian bisa untuk melihatnya, setelah pasien dipindahkan di ruang perawatan. Saat ini, masih harus berada di ruang observasi. Menghindari beberapa hal yang tidak di inginkan pasca operasi."


Evan melihat Akhtar dengan wajah yang begitu mengkhawatirkan, ia pun berjalan mendekatinya dan menepuk pundaknya.


" Tetap optimis, jadikan ini sumber kekuatanmu." Evan pun berlalu meninggalkan mereka yang masih setia berada di sana.


Menggapa ini semua harus Aqilla yang menerimanya, baru saja dia mendapatkan kebahagian bertemu dengan keluarganya. Tapi semuanya itu Engkau ambil lagi Ya Rabb.


......................


Dengan tenang, Alfa mendengar apa yang disampaikan Evan mengenai kondisi Aqilla. Begitu hancur hatinya, mendengar cucunya itu sedang dalam kondisi yang tidak baik. Bagaimana bisa, kebahagian yang baru saja ia rasakan, kita telah sirna.


" Tuan, nona akan dipindahakan ke ruang perawatan." perkataan Robert menyadarkan Alfa dari lamunannya.


" Baiklah, berikan perawatan yang terbaik untuk cucuku. Robert, kirim penggawal untuk menjaga Aqilla. Aku tidak ingin kalian kecolongan, kali ini. Biarkan aku yang bermain!" Ujar Alfa dengan tatapan yang sangat tajam.


" Baik tuan!." Robert bergidik mendengar perkataan dari Alfa, bagaimana tidak. Sudah sangat lama ia tidak bermain dengan dunia bawah, hanya para bawahannya yang bermain. Namun, kali ini ia sendiri yang akan menanganinya.


Alfa tetap dengan sikapnya yang dingin, ketika Aqilla dipindahkan menuju ruang perawatan. Ia menggikutinya, sangat dan sangat miris hatinya melihat sang cucu berjuang melawan maut.


Steiven sudah tidak bisa berkata-kata lagi, hanya ada beribu-ribu penyesalan yang ia rasakan. Ia sangat menyayangi Aqilla, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengatakannya.

__ADS_1


Ditempatkan pada ruangan terbaik, kini Aqilla dikelilingi orang-orang yang sangat mencintainya. Sedangkan Akhtar, ia hanya menatap Aqilla dari kejauhan. Ingin rasanya ia menggenggam tangan sang pujaan hati, tapi disana bukan hanya ia saja yang ada. Memberikan ruang kepada keluarganya untuk lebih dahulu mendekatinya.


Alfa kini berjalan menuju pintu keluar, menatap tajam kepada Steiven. Bagaimanapun, ia adalah cucunya.


" Steiven, perbaiki sikap keras kepalamu itu." Ujar Alfa.


Steiven hanya bisa tertunduk, tidak berani untuk melawan sang kakek.


Alfa berjalan dan tidak menghiraukan yang lainnya, termasuk Akhtar. Meninggalkan Aqilla untuk beristirahat, ia tidak ingin cucunya menderita lagi.


" Kalian semua, keluar dan pulanglah. Jika masih ingin menemui Aqilla, turuti perintahku!!." Suara Alfa sangat menekan.


" Jika ada yang tidak menuruti perkataanku, bersiaplah untuk ikut dalam permaiananku".


Steiven mengerti akan perkataan sang kakek, ia berjalan keluar dari ruang perawatan dengan kesal.


Akhtar! Ia sangat dibuat pusing dengan perkataan Alfa, namun ia mengikutinya. Tidak tau menggapa, dengan begitu saja ia menuruti perkataan Alfa.


......................


💐💐💐


Wah, wah, wah...


Kakek Alfa sangat luar biasa, bisa dengan begitu mudahnya menakhlukkan seorang mafia seperti Akhtar. Dengan suaranya saja, membuat takut. Apalagi dengan permainannya ya, permainan seperti apa yang akan diberikan kakek Alfa?


Next ya...


Author berusaha untuk up setiap hari, mohon kesabarannya dalam menunggu 🙏 ...

__ADS_1


__ADS_2