
Tangan Aqilla masih berada dalam genggaman pria tersebut, Aqilla terus memberontak untuk melepaskan tangannya.
" Lepas, tangan anda menyakiti tangan saya.!" Suara Aqilla memecah keheningan.
Genggaman tangan tersebut perlahan melonggar dan terlepas, Aqilla membuang pandangannya untuk melihat ke arah jendela mobil.
" Kenapa bekerja disana?" Tanya pria itu.
Aqilla tidak menjawab, dia mengacuhkan pertanyaan dari pria tersebut.
Pria itu adalah Akhtar, yang sudah sangat mencemaskan keadaan dari wanita yang ia cintai.
" Jawab!!!" Teriak Akhtar.
" Apa saya wajib untuk menjawab!." Jawab Aqilla dengan tetap memandang keluar jendela.
Merasa sangat marah, Akhtar menarik tubuh Aqilla dan memeluknya dengan erat. Aqilla sangat kaget dengan sikap pria aneh yang hilang begitu saja, disaat ia sangat membutuhkannya.
" Lepas, Lepas tuan. BERHENTI!!!." Teriak Aqilla dengan sangat kuat.
Adam yang mengendarai mobil, sontak kaget dan mengginjak rem secara mendadak. Aqilla mendorong tubuh Akhtar dan membuka pintu mobil, tapi hal itu tidak terjadi. Adam masih menggunci keamanan mobil tersebut, Akhtar menyeringai melihat kekonyolan wanita yang dicintainya.
" Mau kemana? jangan harap bisa lepas dariku, kau adalah wanitaku dan sampai kapanpun tetap akan menjadi wanitaku." Akhtar berkata dengan ekpresi datar dan dingin.
Aqilla merasa sangat geram dan kesal dengan sikap Akhtar, di saat itu juga ponsel Aqilla bergetar.
" Anda terlalu sangat percaya diri tuan, anda memang manusia tidak punya hati dan perasaan. Bagi anda, dengan sangat mudah sekali untuk mempermainkan perasaan wanita. Tapi tidak bagi saya, tentu anda sudah menerima pemberitahuan dari saya bukan! Dimana pesan saya itu terkirim dan masuk ke dalam daftar blokir anda, detik itu juga. Perasaan dan hati saya sudah mati untuk anda, jadi jangan sangkut pautkan lagi saya dengan kehidupan anda. Buka pintunya!!!." Aqilla sudah merasa sesak.
" Buka, buka pintunya." tanggisan Aqilla pun pecah.
Tubuh Akhtar seketika menjadi kaku, setelah mendengar perkataan Aqilla tentang mereka berdua. Sungguh sangat bodoh, sudah melepaskan belahan jiwanya demi sebuah ancaman yang tidak berbobot.
__ADS_1
" Paman!." Aqilla melihat Robert sudah berada disamping kaca mobil Akhtar.
" Paman, paman, tolong Qilla. Paman!!!." Aqilla terus memukuli kaca mobil.
" Siapa dia?!! tanya Akhtar.
" Bukan urusan anda, buka pintunya. Lepaskan saya." Tanggisan itu semakin menjadi.
" KAU!!! SIAPA PRIA ITU???" Akhtar mencengkram rahang Aqilla dengan sangat kuat.
Akkhh!!!
Aqilla memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang disebabkan oleh tangan Akhtar.
Dor
Dor
Buug!!!
Aqilla langsung keluar dari mobil tersebut dan Robert dengan sigap membuka pintu mobilnya, mengisyaratkan untuk segera masuk.
Dengan menggaguk, Secepat mungkin Aqia masuk dan menutup pintu mobil.
" Kembalikan wanitaku!!!." Akhtar menggerang kepada Robert.
" Maaf, anda tidak pantas untuk bersikap kasar pada wanita. Permisi!." Robert melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.
Dengan langkah besar, Akhtar menyusul Robert dan menarik bahunya. Namun bukan Robert namanya, kalau tidak bisa mengatasi situasi ini. Akhtar akan memberikan pukulan kepada Robert, dengan sigap Robert terlebih dulu meletakkan senjatanya dikepala Akhatr.
" Saya harap, anda tidak berurusan pada kami." Robert mendorong tubuh Akhtar hingga terjerembab, lalu ia masuk kedalam mobil dan melajukkannya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Aaakkhh!!!
Siapa mereka? senjata yang dia punya, tidak bisa di anggal remeh. Baru kali ini, mobilku terkalahkan oleh senjata. Kenapa Aqilla terlihat sangat dekat padanya, bahkan dia sangat melindunginya? Tidak, tidak akan ku biarkan mereka menggambilnya. Batin Akhtar.
......................
Berada dalam perjalanan pulang, Aqilla masih terisak dengan tanggisannya.
" Nona tidak apa-apa?". Tanya Robert.
" Ah, tidak apa-apa paman. Paman juga tidak kenapa-kenapa kan? apa paman terluka?". Aqilla merasa sedikit cemas.
" Tidak apa-apa nona, sebaiknya nona segera menghubungi tuan besar. Ia pasti sangat menghawatirkan keadaan nona.!" Robert menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Ya ampun, kelupaan. Pasti kena ancaman lagi, hufh!." Aqill merasa malas untuk menghubungi snag kakek, tapi kalau tidak. Ia akan mendapatkan ancaman yang lebih menakutkan lagi.
" Assalamu'alaikum kek."
" Wassalam... Kenapa belum sampai, hah? Apa robert menculikmu, cucuku.!!! Nada suara Alfa yang panik.
" Kakek! Qilla baik-baik saja, paman Robert tidak menculik Qilla. Tadi Qilla masih menyelesaikan beberapa berkas, jangan cemas." Aqilla mencoba menyakinkan.
" Berhenti bekerja!!! " Alfa memutuskan pembicaraannya.
" Huft, kakek. Paman, Qilla mohon. Jangan menceritakan kejadian tadi pada kakek ya. Please!!!." Aqilla dengan puppy ayesnya.
Robert tidak menjawab, ia hanya tersenyum kepada Aqilla.
Maaf nona, nyawa anda adalah nyawanya tuan besar. Saya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, seandainya nona tau siapa sebenarnya tuan besar. Batin Robert.
......................
__ADS_1