
" Kak Johan!." Ucap Aqilla
" Aqilla???." Johan membeo.
" Ya ampun Aqilla, ternyata benar tebakan kakak. Suara kamu itu, khas banget. Ayo duduk dulu." Johan mempersilahkan Aqilla.
" Eh, ini punya kakak ya? " Aqilla bertanya.
" Ya begitulah, kamu apa kabarnya Qil? Sudah lama banget ya nggak ketemu ya, oh ya. Kabar om dan tante juga apa kabarnya?." Johan memberikan air minum kemasan dihadapan mereka berdua.
" Hem, Ayah dan bunda sudah nggak ada kak. " Jawan Aqilla pelan.
" Eh, maaf. Maaf, kakak nggak tau. Tu si Haykal gimana?" Johan dan Aqilla saling tukar pertanyaan dan saling menjawab.
Mereka pun larut dalam obrolan tersendiri, yang awalnya untuk pekerjaan malah bertemu kenalan lama.
" Kamu yakin mau kerja di posisi itu Qil? " Tanya Johan.
" Iya kak, itu kan memang posisi yang sedang dicari. Nggak apa-apa kok kak, udah diterima saja Alhamdulillah." Senyuman Aqilla dengan sangat lebar.
" Kamu ini, ya sudah. Besok pagi sudah mulai kerja ya, nanti kakak arahin kebagian apa." Johan pun tersenyum.
" Iya kak, terima kasih ya. "
" Qil, nomor ponsel kamu berapa? biar kakak save."
" Hehehe, Qilla nggak ada ponsel kak. Kalau begitu, Aqilla pamit ya. Assalamu'alaikum." Aqilla beranjak meninggalkan ruangan itu.
" Wa'alaikumussalam. Hati-hati." Johan menatap punggung Aqilla yang perlahan menghilang.
Akhirnya kita dipertemukan kembali, Aqilla. Kakak sungguh sangat senang bertemu lagi dengan kamu, tapi. Sepertinya banyak sekali yang kamu tutupi, huh. Semoga kita nggak dijauhin lagi ya. Batin Johan.
Aqilla merasa sangat senang, setelah ia mendapatkan pekerjan. Dengan sengaja ia tidak memberitahukan nomor ponselnya kepada Johan, karena ia tidak ingin membuat Akhtar marah lagi. Dan lagi pula, ponsel itu memang pemberian dari Akhtar.
__ADS_1
Ddrrrtt...
Ddrrrtt...
Meyra bawel is calling...
" Assalamu'alaikum." Jawab Aqilla.
" Wa'alaikumussalam, dimana Qil? Gue didepan rumah lu ni, kok pintunya dikunci?." Tanya Meyra.
" Aku lagi diluar Mey, sebentar lagi nyampe kok. Tunggu aja ya."
" Iiiss, pantesan aja. Ya udah, nggak pakek lama ya. Soalnya ini sama si manusia kaku, yang dari tadi nggak ada suaranya." Meyra melirik pria di sebelahnya.
" Manusia kaku? siapa?." Aqilla merasa penasaran.
" Udah deh, sampe aja dulu. Nanti lu bakalan tau sendiri.Bye, Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam, kebiasaan deh ni anak. " Aqilla sedang berada di atas angkutan umum menuju rumahnya.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumussalam." Jawab mereka bersamaan, dan sang pria menampakkan wajahnya.
" Tuan Jason!!." Mulut Aqilla reflek berkata.
" Iya ni Qil, dasar manusia kaku, manusia batu. Dingin banget, ngomong juga nggak. Serem banget gue, kayak di kuburan sama ni orang." celoteh Meyra.
" Em, kita masuk aja dulu ya. Nggak enak kalau ngobrolnya kayak gini, mari tuan." Aqilla membukakan pintu, dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
" Silahkan duduk, saya ke belakang sebentar ya." Permisi Aqilla.
" Gue ikut Qil, kalau disini. Bakalan jadi batu juga gue, huh." Meyra segera menyusul Aqilla.
__ADS_1
Setelah membuatkan minum, mereka kembali menemui Jason.
" Silahkan di minum tuan." Titah Aqilla.
" Terima kasih nona, saya tidak lama. Saya hanya memberikan ini, dari tuan Akhtar." Jason menyerahkan sebuah map cokelat kepada Aqilla.
Aqilla menerimanya, begitu banyak pertanyaan yang ada dikepala Aqilla mengenai Akhtar. Namun semuanya itu ia tahan, tidak ingin membuat suasana menjadi tidak enak.
" Baiklah nona, saya mohon permisi. " Jason bangkit dari duduknya.
" Woi, cepet amat. Diminum dulu kek tu air, hargainlah orang yang sudah membuatnya." Tegur Meyra.
" Mey...". lirik Aqilla kepada Mey.
" Terima kasih nona." Jason langsung meneguk habis air yang diberikan kepadanya, lalu ia pamit undur diri.
Kedatangan Jason membuat Aqilla menjadi heran, ingin sekali ia membuka map tersebut. Tapi ia batalkan, karena ia tau karakter dari sahabatnya itu.
" Buka aja Qil tu map, gue jadi penasaran juga apa isinya." Lirik Mey.
" Nanti saja ya, oh ya kamu bolos lagi ya?."
" Enak aja bolos, tapi gue kabur." Elak Mey.
" Ye ni anak, sama aja kali bolos sama kabur. Ngeles aja terus!" Aqilla melotot geram.
" Hahaha, santai aja kali Qil. Lu tadi dari mana? " tanya mey penuh selidik.
" Habis nyari kerja, Alhamdulillah udah dapat. Besok pagi udah mulai kerja." Senyum Aqilla.
" What? Kerja? dimana emangnya? kenapa nggak bilang sih, elu ya. Lu anggap apa gue dan keluarga gue, hah?" Meyra menjadi marah, mendengar Aqilla mencari kerja namun tidak menghubunginya.
" Di cafe Johan Mey, kalian sudah terlalu baik sama kami. Untuk kali ini, biarin aku berusaha sendiri Mey. Kalau tidak, seumur hidup aku akan selalu berharap padamu." Jelas Aqilla.
__ADS_1
Dengan penjelasan dari Aqilla, akhirnya Meyra memahami apa yang di inginkan sahabatnya itu.