
Bbraakk!!!
Pintu ruang perawatan terbuka dengan kasar.
" Kakak!!!"
" Aqilla!!!."
" Qilla!!!."
Semua orang yang berada didalam ruangan tersebut, benar-benar dibuat kaget dengan kedatanga trio menyebalkan.
" Kak, bagaimana keadaannya? Apa ada yang sakit? Apa ada yang kakak mau?." Haykal dengan berbagai perkataan dan pertanyaannya kepada Aqilla.
" Aqilla, bagaimana keadaanmu? maafin kakak atas semuanya ini." Steiven merasa sangat gembira, melihat Aqilla sudah sadar.
" Qilla, kamu ya. Ponsel nggak bisa dihubungin, nggak ada kabarnya, tiba-tiba gue dapetin kabar lu dirumah sakit. Gimana nggak panik coba, dasar kamu ya. Kalau tidak nelfon si cicunguk ini, aku nggak bakalan tau kamu sakit." Meyra dengan banyaknya pertanyaan, membuat yang mendengarnya jadi semakin pusing.
" Woi, kalian mau bunuh pasien gue ya!!! Kalau datang kerumah sakit itu, pakek adab lah. Orang sakit kok dikasih pertanyaan, apalagi pertanyaan yang membuat pusing." Evan menggerutu.
" Ih, sewot!!! Biasa aja kale!" Meyra menaikkan bibirnya ke atas.
" Lu ya!!! Jadi perempuan lemes bener, gue jahit juga tu mulut. " Evan menatap geram pada Meyra.
" Yee, situ siapa sih. Pakek larang-larang segala, mulut juga mulut gue. Apa hak lo, untung aja cakep. Kalau nggak, udah gue beri lo!!!. " Meyra semakin semangat melawan Evan.
Haykal dan yang lainnya hanya bisa menyaksikan pertarungan sengit antara Meyra dan Evan, Haykal pun dengan sengaja menyenggol Steiven dengan siku tangannya.
" Kak, kau sudah lihat kan apa yang aku maksud tadi dimobil? Jika kau berminat pada tu manusia, aku dengan sangat senang memaafkanmu. Mau??!!." Haykal semakin tersenyum melihat ekpresi wajah Steiven yang tanpa ekpresi.
__ADS_1
" Gila lu!!! Mata gue masih normal, melihatnya saja sudah sangat menyebalkan. " Jawab steiven.
" Sama-sama menyebalkan tidak boleh saling menghujat Steiv, kalau matamu normal. Kau pasti bisa membedakan mana wanita yang tulus dan tidak, bukan malah semakin mencintainya." Akhtar menimpali perkataan Haykal, mereka berdua semakin menyudutkan Steiven.
" Heh, hujat saja terus. Lihat saja kau, tidak kuberikan izin mendekati adikku lagi." Steiven lalu mendekati Aqilla.
Dengan tersenyum, Aqilla merasa sangat bahagia dengan keberadaan mereka.
" Bagaimana keadaanmu Qilla? Maafkan kakak, sudah membuatmu seperti ini." Steiven menunduk dan meneteskan air mata.
" Kak, jangan menanggis. Qilla sudah tidak apa-apa, semuanya ini juga hanya kecelakaan yang tidak sengaja kita dapatkan. Jangan seperti ini kak." Aqilla merasa sedih melihat Steiven, dari matanya bisa ia lihat. Ada perasaan sedih yang sedang ia rasakan.
" Jika kakak merasa bersalah pada Qilla, maka mulai saat ini. Kakak harus menjadi pelindung serta kakak yang baik untuk Qilla dan Haykal, gimana?". Aqilla memberikan penawaran terbaik untuk mereka.
Melihat dan mendengar Aqilla berbicara dengan Steiven, membuat Akhtar menjadi melebarkan matanya.
" Hei, sudah kubilang. Jangan mendekati wanitaku lagi!!! Kau ini, selalu saja merebut yang aku miliki. Tu, ada wanita satu lagi. Ambil!!!." Akhtar menarik tubuh Steiven untuk menjauhi Aqilla dan mendorongnya hingga berdekatan dengan Meyra.
" What!!!" Teriak Meyra dan Steiven bersamaan.
" Aaiiss! Melihat wanita ini saja, sudah membuatku pusing. Bisa mati berdiri aku dibuatnya, sana kau!!!." Steiven menyeringai dihadapan Meyra.
" Cuih!!! Apalagi gue, Jijay banget liat muke lu. Kayak pakaian lecek yang kecebur oli, wuueekk!!!" Meyra mencibirkan lidahnya pada Steiven.
" Aaiiss!!! Kau ini wanita apa siluman jadia-jadian sih! Kenapa adik gue, punya temen kayak lo." Protes Steiven.
Terjadilah saling serang menyerang di antara Steiven dan Meyra. Evan sudah kabur duluan, ia tidak ingin melihat adengan kucing dan tikus sedang bertengkar. Sedangkan Haykal, dia masa bodoh dengan keadaan disana. Baginya, keributan yang ditimbulkan oleh Meyra itu sudah menjadi santapannya sehari-hari.
__ADS_1
Dilain sudut, Akhtar dan Aqilla asik dalam percakapannya sendiri. Mereka berdua tidak mau ikut campur dengan pertengkaran Steiven maupun Meyra, bagi mereka itu adalah hiburan yang menyenangkan.
Masih asik dengan pertengkarannya...
" Heh, mana ada pria yang mau dengan wanita seperti kau ini! Aku yakin, pria itu akan cepat mati karena cerewetnya mulutmu ini." Steiven sudah sangat geram dengan Meyra.
" Memangnya kenapa? Kau bilang aku tidak akan mempunyai pria yang suka padaku!" Meyra semakin melotot dan bersitegang dengan Steiven.
Klek!!!
Pintu terbuka, masuklah Jason dengan wajah kebingungan.
" Tuan!." Ia menyapa Akhtar.
Akhtar hanya menganggukkan kepalanya. Namun, disaat Jason berjalan mendekati bosnya. Lengannya ditarik dan dipeluk oleh Meyra, ia bergelayut manja.
" Dia adalah priaku, mau apa kau, hah. Iya kan sanyang!."
Jason yang mendapatkan perlakuan seperti itu tiba-tiba, membuatnya kaget dan bingung.
" Heh, ternyata kau wanita yang pintar ya. Mencari asal pria saja untuk kau akui sebagai priamu. Aih! sungguh terlalu." Steiven lalu berpamitan untuk pergi.
Meyra menjadi malu, dengan ucapan Steiven tadi. Lalu ia melepaskan tangannya dari Jason, lalu menjauh.
Aduh! Mey Mey, kenapa jadi bodoh begini. Kan malu jadinya. Meyra.
Dasar wanita aneh, wanita jadi-jadian. Untung saja ini dirumah sakit, jika tidak sudah kubuat perhitungan dengannya. Jason.
__ADS_1