Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 77


__ADS_3

Setelah kejadian Akhtar menelfon Haykal, mereka pun kini bertemu di suatu tempat yang telah Akhtar tentukan.


" Kalian saat ini, tinggal dimana?" tanya Akhtar dengan gaya bicara datar.


" Saya tidak bisa memberitahukan pada anda, tuan." Jawab Haykal.


" Jangan membuatku bertindak kasar, Haykal. Katakan!!!." Nada bicara Akhtar sudah meninggi.


" Maaf, saya sudah berjanji pada kak Qilla. Untuk tidak memberitahukan apa-apa pada anda, lupakan kak Qilla. Kami sudah bahagia saat ini, kami bertemu kakek dari Ayah. Tuan tidak perlu khawatir. " Haykal beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Kepergian Haykal, membuat amarah Akhtar memuncak.


Aaakkhhh!!!


Teriak Akhtar...


......................


Jam kantor menunjukkan bahwa sebentar lagi akan selesai, Aqilla telah membereskan beberapa berkas di mejanya dan bersiap untuk pulang.


" Aqilla!! Tunggu." Teriak Lastri.


" Bisa nggak sih pelan-pelan aja manggilnya, nanti kena marah sama si itu tu. Baru tau rasa." Aqilla menunjukkan kode dengan matanya, veny si sekretaris bos.


" Ups! Lupa, udah yuk pulang." Mereka pun berjalan bersama beberapa karyawaan lainnya.


Saat berada di lobby, mereka melihat ada kerumunan kecil diluar kantor. Merasa sangat penasaran, Aqilla dan Lastri ikut melihat. Ketika berada di luar, mata Aqilla langsung melotot.


" Tuan!." Mulut Aqilla membeo.



" Tuan??? Tuan siapa Qill?" Tanya Lastri.


Akhtar menghampiri dimana Aqilla berada, Lastri menjadi semakin ke ge eran.

__ADS_1


" Qill, tu cowok ganteng pisan euy. Maulah aku." Lastri sudah seperti cacing kepanasan.


Berhadapan satu sama lain, saling berpandangan. Akhtar langsung meraih tangan Aqilla dan membawanya menuju mobil, Lastri yang melihat hal itu. Langsung saja menjadi melonggok, ternyata yang dicari pria tadi adalah Aqilla.


" Wah, wah, Aqilla. Beruntungnya dirimu, ganteng, tampan, cantik, manis. Ah, kenapa jadi patung disini. Mana iler netes lagi, malu malu malu." Lastri pun beranjak dari sana.


......................


" Eh, kok malah." Aqilla baru sadar, setelah berada di dalam mobil.


Melihat tangan yang menggenggam tangannya, Aqilla menatap wajah orang yang telah membawanya.


" Tuan."


" Hem, kenapa?" Ucap Akhtar.


" Ini, mau kemana? Saya mau turun." Aqilla berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Akhtar.


" Diam!! Kalau masih saja bergerak, jangan salahkan saya untuk melakukan hal yang gila untuk kamu." Akhtar meninggikan nada bicaranya.


Mobil tersebut membawa mereka untuk menuju pantai, dimana mereka dulu pernah kesana. Mobil itu pun berhenti, Adam langsung keluar dari mobil dan menjauh.


" Keluarlah." Titah Akhtar kepada Aqilla.


Aqilla membuka pintu mobil dan beranjak keluar, mengikuti langkah si pria aneh menuju pantai.


" Kenapa kau selalu menolakku??? " Akhtar berbicara dengan tetap melangkah.


" Eh...." Aqilla membeo.


" Apa karena, Joana? Kau menjauhiku?" Ujar Akhtar kembali.


Mendengar ucapan Akhtar, Aqilla merasa semakin tidak enak.


Maaf tuan, aku tidak bermaksud untuk menjauhimu. Hanya saja, perbedaan kita sangat jauh sekali. Aku tidak ingin, kamu dan keluargamu malu. Maafkan aku. Aqilla.

__ADS_1


" Jawab Aqilla, jawab." Akhtar meraih pundak Aqilla dan mereka pun saling berpandangan. Namun, Aqilla memejamkan Matanya, ia merasa takut untuk menatap wajah Akhtar.


" Eh, ti tidak tuan. Jangan seperti ini." Aqilla merasa takut, mendengar nada bicara Akhtar yang mencekam.


" Jangan seperti ini!!! Kamu yang jangan seperti ini Qilla!!! Apa salah, saya ingin memperjuangkanmu, Kenapa kau selalu menolakku. Jawab, jangan diam saja." teriak Akhtar.


Cengkraman tangan Akhtar di pundak Aqilla semakin mengguat, Aqilla meringgis menahan perih.


" lepaskan tuan, Sakit!!!."


" Jawab Aqilla, Jawab. Apa Mulutmu harus kurobek dulu, agar kau bisa menjawabnya , hah."


Suara Akhtar semakin bergetar, tangan kini beralih memegang wajah Aqilla dan menatapnya. Aqilla pun perlahan membuka matanya, hingga pandangan mereka bertemu.


" Tuan, bisa lepaskan tangannya? Saya akan jelaskan semuanya." Aqilla meringgis.


Akhtar melepaskan tangannya dari wajah Aqilla, menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Jelaskan sekarang!."


" Tuan, maaf. Kita sangat jauh berbeda tuan."


" Berbeda apa Qilla!!!." sanggah Akhtar.


" Tuan, biarkan saya menjelaskannya dulu."


" Saya hanya seorang penjual bunga tuan, hidup kami juga sangat jauh dari kata layak. Sedangkan anda, penggusaha sukses dan orang berada. Apa anda tidak malu, untuk berada di dekat kami? Jangan sampai keluarga anda menanggungnya, tuan. Keluarga anda, adalah orang yang sangat terhormat. Hiduplah lebih baik dengan tidak menggenal saya. Saya terlalu egois untuk berada disisi anda, sedangkan ada yang lebih baik lagi dari saya yang sangat berhak. Lupakan saya tuan." Aqilla sudah tidak dapat membendung air mata, yang sedari tadi ingin menetes.


Mendengar perkataan Aqilla dan menatap wajahnya yang sudah dibasahi oleh air mata, membuatnya menarik perlahan tubuh Aqilla yang sudah bergetar karena menanggis ke dalam pelukannya.


" Menanggislah, setelah itu. Saya tidak akan membiarkan kamu menanggis lagi. " Tanggan Akhtar membelai kepala Aqilla, mereka saling menumpahkan perasaan yang selama ini yang menjadi rahasia mereka berdua.


" Jangan jadikan semuanya itu sebagai penghalang untuk kita bersatu, apa saya selama ini melihat dari sudut harta? Tidak kan! Kau cantik luar dan dalam Aqilla, itu yang membuat saya mencintaimu." Akhtar semakin erat memeluk.


......................

__ADS_1


__ADS_2