Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 129


__ADS_3

Saat ini, Akhtar dan keluarganya sedang bersiap-siap untuk makan malam serta lamaran. Dibantu oleh beberapa MUA yang saat itu sedang membantu Akhtar dan yang lainnya untuk memberikan tampilan terbaik, namun Akhtar merasakan sedikit hal aneh. Dengan menatap dirinya melalui cermin dihadapannya, Ia lalu melonggarkan sedikit dasi yang ia kenakan.



Kenapa seperti ada yang aneh dari penampilanku saat ini, apa ini hanya perasaanku saja! Huh, menyebalkan saja. Apa ini yang dikatakan oleh orang lain, perasaan gugup yang dialami seseorang. Aah, sudahlah. Akhtar.


" Nak, apa kau sudah siap?." Amirah menghampiri Akhtar.


" Hem. "


" Ada apa? pasti deg-deg-an ya!!!." Amirah mengoda Akhtar dengan senyuman manisnya.


" Nggak tau ma, Akhtar hanya merasa ada yang aneh." Akhtar menggaruk pelipis matanya menggunakan jari, namun raut mukanya menampakkan seperti orang sedang cemas.


" Ini hal biasa yang dialami sesorang disaat akan melamar kekasihnya, santai saja." Amirah menepuk pundaknya dengan lembut.


Dddrrttt


Dddrrttt


Ponsel Akhtar bergetar di atas nakas, ia berjalan untuk menggambilnya.


Steiven Caliing...


Tanpa menaruh curiga, Akhtar menggeser tanda hijau dari ponselnya.


" Hem."


" Hallo bro, sepertinya acara makan malam dan lamaranmu kita tunda dulu." Suara Steiven dari ponsel Akhtar.


Dengan mata melebar, Akhtar sangat kaget dengan pemberitahuan dari Steiven.


"Ada apa? Apa yang terjadi?." Perkataan Akhtar sangat terlihat Khawatir.

__ADS_1


" Tidak terjadi apa-apa, kaki Aqilla sedikit bengkak. Tadi tergelincir dari tangga, ta..." Sambungan itu terputus, karena Akhtar.


" Nak, ada apa?." Amirah bertanya, setelah melihat perubahan pada wajah Akhtar.


Dengan langkah cepat, Akhtar keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Amirah hanya bisa mengikutinya dari belakang, Beni dan Cila yang saat itu sudah menunggu diruang tamu. Melihat Akhtar tergesa-gesa, langsung diberhentikan.


" Ada apa?". Beni memengan lengan Akhtar.


" Ikut saja!!!. " Akhtar bergegas menuju mobilnya dan segera menjalankannya dengan kecepatan yang cukup cepat.


Beni, Cila dan Amirah hanya bisa mengikuti Akhtar dari kejauhan dengan menggunakan mobil milik Beni.


" Ada apa Ben? Kenapa adikmu seperti sangat khawatir?."


" Aqilla jatuh dari tangga ma. Makanya Akhtar terlihat sangat khawatir." Jelas Beni yang sambil mengendari mobil.


" Ya ampun, kenapa bisa begitu? Semoga saja tidak terjadi apa-apa, mama jadi ikut khawatir." Amirah merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya.


......................


" Yang bilang kepala juga siapa, kau ini. Jangan sampai kekasihmu itu tau kalau kau sedikit rada gangguan halu, hahaha.!!" Tawa Steiven sangat pecah, ia sangat suka sekali membuat Aqilla jengkel.


Dengan wajah cemberut, Aqilla berjalan tertatih-tatih untuk menjauh dari Steiven. Melihat hal itu, Steiven seketika murka dengan keras kepala adiknya tersebut.


" QILLA, berhenti!!! Ni anak keras kepala bener." Steiven meraih tangan Aqilla dan mengendongnya untuk kembali duduk.


" Yyaakk!!! Kak Steiv, turunin."


" Makanya, jadi perempuan itu yang manis dikit kek. Udah tau kaki masih sakit juga. Ni, makan. Habisin!." Dengan melotot, Steiven memberikan Aqilla cemilan buah-buahan yang banyak.


" Kak, ini bener buat Qilla? " Hanya anggukkan yang Steiven berikan.


" Aa, terima kasih kak." Disaat Qilla akan memasukkan buah kedalam mulutnya, dengan cepat diambil oleh Steiven dan ia langsung kabur.

__ADS_1


" Kak Steiv!!!." Teriak Aqilla dengan sangat kuat.


" Hei, teriak-teriak. Emangnya lu lagi ada di hutan ya. Bagi sikit buahnya, nggak bakalan gemuk juga lu." Meyra dengan entengnya berbicara.


" Hehehe, habisin ni. Makan, biar puas!!!."



Dengan wajah yang masam, Aqilla terlihat kesal. Namun, bukan Meyra namanya kalau nggak muka tembok.


......................


Mobil yang Akhtar kendarai, kini berhenti tepat di halaman mansion Alfa. Dengan cepat ia langsung keluar dari dalam mobil dan berlari memasuki mansion.


" Eh, ada tamu. Kak Akhtar kenapa? kayak habis lari maraton." Haykal yang saat itu sedang ingin keluar, bertemu dengan Akhtar yang baru saja memasuki mansion.


" Hosh, hosh. Kal, A Aqilla dimana?." Akhtar masih berusaha mengatur nafasnya.


" Oooo kak Qilla, tuu... Lagi ngobrol sama biang gosip!." Haykal langsung kabur, dia takut akan berurusan sama Meyra.


Akhtar berlarian kecil menuju dimana Aqilla berada, Aqilla pun dibuat kaget dengan kehadiran Akhtar.


" Jiah!!! Obat nyamuk gue, kabur ah." Meyra berlalu meninggalkan sepasang kekasih itu.


" Sayang!!! Apa yang sakit?". Akhtar sudah berlutut dihadapan Aqilla untuk memastikan keadaannya.


" Mas, eh. Nggak apa-apa kok, hanya keseleo saja. Maaf ya mas, makan malamnya jadi tertunda." Aqilla menunduk, merasa tidak enak pada Akhtar.


Akhtar berdiri, dan ia menarik bahu Aqilla lalu memeluknya. Menggusap kepalanya dengan lembut, dan sesekali menciuminya.


" Tidak apa-apa sayang, kan makan malamnya bisa diganti dilain hari." Senyum Akhtar merekah setelah melihat keadaan Aqilla.


" Terima kasih mas." Aqilla membalas pelukkan Akhtar.

__ADS_1


__ADS_2