Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 121


__ADS_3

" Kakek !!!."


Semua orang yang saat itu berada disana, mengalihkan semua pandangannya untuk melihat ke arah Alfa.


Jari jemari tangannya mulai bergerak, mata yang semulanya tertutup. Kini, perlahan-lahan terbuka. Mereka semua bergegas mendekati Alfa yang perlahan mulai sadar.


" Kakek!." ucap Aqilla, Steiven dan Haykal.


" A A Aqil la. " suara Alfa masih terdengar serak dan berat.


" Iya kek, ini Qilla." Dengan mengelus perlahan punggung tangannya Alfa.


Disisi lain, Robert segera memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan dari tuan besarnya. Tangan yang sudah mulai keriput itu membalas sentuhan dari tangan Aqilla, seakan takut untuk kehilangan.


" Kakek, diperiksa dokter dulu ya."


Alfa menggenggam erat jemari tangan Aqilla, hingga akhirnya dokter yang melihat hal itu membiarkannya. Setelah selesai dengan pemeriksaannya, dokter tersebut tersenyum.


" Jangan terlalu capek dulu ya untuk tuan besar, berikan suasana yang tidak membuatnya tertekan dan selalu happy. " Dokter beranjak keluar dari ruangan tersebut, jika ia berlama-lama disana. Bisa kena tatapan horor dari para pemimpin dunia bawah, apalagi si pasien yang terlihat tidak mau terganggu.


" Gimana kek, udah bisa pulang belum? makanan rumah sakit itu nggak enak, apalagi suasananya sangat membosankan!." celetuk Haykal yang mencairkan suasana.


" Heh, bocah ingusan. Sok tau segala!." Steiven mulai dengan kecemburuannya.


Sedangkan Akhtar dan Robert, mereka berdua seakan memahami situasi disaat itu. Memilih untuk menjadi pendengar dan penonton terbaik, dan duduk bersantai di sofa yang ada.

__ADS_1


" Kalian berdua, pulang! Kepala kakek semakin pusing dengan kegaduhan yang kalian buat, jika tidak mau pulang. Maka, DIAM!!!." suara Alfa meninggi.


" Kakek!!! Kenapa juga Haykal yang disuruh diam dan pulang? kak Steiv lah yang seharusnya tau diri, sudah tua juga nggak mau ngalah sama yang muda." Haykal menaikan sudut bibirnya.


" Apa kau bilang, hah! Tua! Dasar bocah kurang ajar kau, tidak ada sopan santunnya." Steiven juga tidak mau kalah dengan aksi Haykal.


Meskipun dalam keadaan tubuh yang tidak sekuat masa mudanya, Alfa merasakan kebahagian yang sangat tidak ternilai dengan kehadiran cucu-cucunya, namun hal itu ia sembunyikan.


" Kak Steiv, Haikal. Lebih baik, kalian duduk disana ya. Sangat terlihat manis jika kalian bisa diam dan tidak membuat kegaduhan." Aqilla yang saat itu memberikan senyuman malasnya, sebagai tanda agar kedua pria itu segera menyingkir dari sana.


" Kalian berdua, enyahlah! Kakek ingin bicara berdua dengan Qilla!." Alfa memberikan tatapan mata yang seperti ingin melahap orang.


Dengan berjalan ogah-ogahan, Steiven dan Haykal ikut duduk manis bersama Robert dan Akhtar.


......................


" Kakek, jangan bicara hal itu dulu ya. Setelah kakek pulih, baru kita bahas lagi." Aqilla tidak ingin menambah rasa sakit yang Alfa rasakan.


" Tidak nak, perasaan kakek semakin berat jika tidak segera menyelesaikannya. Sekarang, kau sudah tau sisi gelap kakek. Jika kau tau, hal inilah yang membuat Ayahmu pergi meninggalkan kakek. Dia tidak mau terseret dalam kegelapan yang kakek buat, memilih untuk hidup dengan jalannya sendiri. Hingga akhirnya, kecelakan itu terjadi, maaf kakek nak!." suara Alfa kembali menjadi serak.


Tak ingin membuat kondisi sang kakek semakin memburuk, Aqilla memahami apa yang dirasakan oleh kakeknya itu. Memberikan senyuman yang terbaik, menggelus punggung tangannya dengan perlahan.


" Kakek, Qilla memang saat ini sangat kecewa sama kakek. Semua manusia, pasti mempunyai masa lalu ataupun sesuatu kejadian yang tidak mereka inginkan. Tapi, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk mereka menjadi lebih baik lagi kan! Kakek nggak perlu memikirkan tentang diri Qilla, Qilla tidak mau kehilangan keluarga lagi kek. Cukup kepergian Ayah dan bunda yang membuat hidup Qilla hancur, Qilla tidak ingin hal itu terjadi lagi. Biarkan waktu yang berjalan membawa rasa kecewa yang ada, semoga setelah ini. Kebahagian akan selalu menghampiri kita kek, Kakek jangan sakit lagi ya.!" Aqilla menangis dan Alfa pun ikut menitikkan air mata yang dengan cepat ia hapus dengan jari tangannya.


" Terima kasih nak!."

__ADS_1


Eza, Anakmu ini sangatlah mirip sekali denganmu dan istrimu. Kalian mendidiknya dan memberikan mereka pembelajaran hidup yang sangat baik nak, memiliki jiwa yang besar untuk menerima sesuatu pembelajaran hidup. Maafkan Ayahmu ini yang sudah membuatmu menjalani kehidupan keras diluar sana. Maafkan Ayah nak! Alfa.


......................


Perusahaan Akhtar...


Didalam suatu ruangan, terdapat seseorang yang sudah sangat uring-uringan dengan urusan berkas-berkas yang ada. Mengumpat keras kepada si pemilik dari gedung bertingkat itu, menggunakan mulutnya yang sudah sangat gatal.


" Dasar bos gila, nggak sadar apa kerjaan kantor sudah numpuk kayak TPA. Aakhh!!"


Orang tersebut adalah Jason, semenjak kejadian penculikan itu, membuat Akhtar melemparkan tanggung jawab perusahaan kepada Jason. Disaat kepalanya pusing menghadapi tumpukkan berkas dihadapannya, ada saja masalah baru yang datang.


Bbrraakk!!!


Pintu ruangan Jason terbuka dengan kasar dan menimbulkan suara yang mengejutkan.


" Hei pria kaku, aneh, sombong! Dimana bosmu itu hah? Dimana dia menyembunyikan Qilla?" Suara orang tersebut sangat khas dan membuat sakit telingga.


Mata Jason langsung melotot melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya!Terlihat Sang sekretarisnya berada dibelakang wanita itu dan menjelaskan, bahwa wanita itu memaksanya untuk menemui Jason.


......................


💐💐💐


Hayoo...

__ADS_1


Siapakah wanita itu???


Tungguin bab selanjutnya ya!!!


__ADS_2