Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 125


__ADS_3

Merasakan kebahagian setelah bisa bertemu dengan keluarganya, Steiven sangat senang. Ia ingin memberikan satu kejutan untuk adik tersayangnya, menyiapkan hadiah-hadiah yang menurutnya Aqilla akan menyukainya.


" Ya ampun, ribet banget ini bawanya. Ternyata punya adik itu sangat menyenangkan, apalagi perempuan. Kalau si Haykal sama saja seperti kakek, menyebalkan! ". Steiven sedang membawa beberapa bingkisan kado, yang ia persiapkan untuk menyambut kepulangan Aqilla dari rumah sakit.


Berjalan secara perlahan-lahan, berulang kali ada kotak yang jatuh. Ia kembali mengambilnya, berjalan lagi dan akhirnya hadiah itu bisa ia susun dengan rapi. Seperti menyambut seorang kekasih saja, Steiven terlihat sangat antusias sekali.


" Apa yang kau lakukan, anak bodoh?!." Suara Alfa terdengar sangat jelas di telinga Steiven.


Melihat sang kakek sedang memperhatikannya, membuat Steiven menggaruk kepalanya.


" Kenapa, kutuan kau, hah? Menggaruk-garuk seperti hewan pemakan pisang saja. Ini apa?". Alfa mengarahkan tongkat berjalannya ke arah tumpukkan kotak-kotak hadiah yang sudah Steiven susun dengan sangat rapi.


" Selalu saja, pedes nampol perkataan kakek. Ini Steiv siapin buat menyambut Qilla pulang kek, dasar orang tua sperti nggak pernah muda saja." Steiven melirik sinis pada Alfa.


" Dia itu adikmu, bukan pacarmu! Sangat berlebihan sekali, kau mau memancing perseteruan dengan rivalmu!! Otakmu itu sangat pendek sekali untuk berpikir." Alfa mengetuk kepala Steiven dengan tongkatnya.


" Aakkhh!!! Sakit kek, selalu saja seperti ini! Apa salahnya menyambut kepulang adik sendiri dengan cara seperti ini, lagian juga Steiv baru ngerasain punya adik kek." Steiven mengeluhkan perasaannya.


" Haykal itu juga adikmu, tapi tidak pernah kakek melihatmu memanjakannya. Selalu saja Aqilla yang kau istimewakan, tidak bisa kau berbuat adil kepada mereka? Akan ada kecemburuan diantara mereka berdua". Alfa memberikan wejangan kepada Steiven yang tidak berfikir panjang atas perlakuannya.


" Iya juga ya, tapi Haykal itu sangat menyebalkan kek. Sama saja seperti kakek, yang selalu membuat Steiv emosi. Ups!!!." Steiven secepatnya menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Kau !!!." Alfa menyeringai dan melotot kepada Steiven.

__ADS_1


" Kan memang bener kek, untuk apa Steiv berbohong. Haykal selalu saja membuatku kesal, tidak seperti Aqilla. Dia selalu memahami Steiv, bagaimana pun juga." Steiven menghela nafasnya.


Alfa tersenyum dengan sikap Steiven, selama ikut bersamanya. Tidak pernah Steiven menunjukan sikap atau perasaannya kepada seorang wanita, tapi saat ini hal itu ia tampakkan kepada Aqilla. Yang notabennya adalah adik sepupu baginya.


Disaat Alfa dan Steiven masih berdebat, mobil yang membawa Aqilla sudah memasuki perkarangan dari mansion besar tersebut. Para maid sudah menyambut kedatangan Aqilla di pintu masuk, namun hal itu belum diketahui oleh Alfa maupun Steiven.


" Kakek, Kak Steiv!!." Suara Aqilla membuyarkan perdebatan diantara dua orang tersebut.


" Aqilla !!!."


" Cucuku !!!."


Mulut Alfa dan Steiven langsung membeo disaat melihat dan mendengar suara Aqilla, mereka berdua sontak terkejut dengan kedatangan Aqilla.


" Kak, rambut Qilla rusak!."


" Hah, masih saja memikirkan rambut! Sini, Kakak punya kejutan buat kamu, kamu duduk ya." Steiven segera berlari untuk mengambil hadiah yang akan ia berikan kepada Aqilla.


" Kakek!." Aqilla berdiri, dan mencium punggung tangannya.


" Iya nak, bagaimana keadaanmu?" Alfa membalas dengan mencium kening sang cucu. Mereka berduapun duduk bersama, dan Aqilla menceritakan semua yang ia rasakan.


" Aduh! Jatuh lagi."

__ADS_1


" Eh, kenapa jatuh terus sih!."


" Aaakkhh! Susah bener sih bawa ni kotak!"



Suara-suara Steiven yang sibuk sendiri dengan berbagai hadiah yang ia persiapkan, membawanya sendiri dan tidak mau orang lain menyentuhnya.


" Mau dibantuin?!!." Suara Akhtar terdengar.


" Heh, tidak usah! Nanti hadiah-hadiah ini terkena bakteri dari tangan kasarmu itu.!." Steive masih saja dengan keras kepalanya.


Akhtar nampak tertawa dan menyungingnkan bibirnya, rupa kekasih tercinta sangat membawa perubahan.


" Qilla!! kakak punya hadiah untukmu, Akkhh jatuh lagi. Sebentar ya, kenapa main jatoh segala.!" Steiven sibuk sendiri.


" Kak, sini Qilla bantu." Aqilla berjalan menghampiri Steiven, ia tidak tega melihatnya kesusahan dengan berang-berang ditangannya.


" Biarkan saja Qilla! Anak itu memang keras kepala." Alfa mencibirnya.


" Mas! Ayo bantuin, mulai resek! Kakek juga, seneng bener godain kak Steiv." Aqilla melototkan matanya pada Akhtar.


Dengan malas Akhtar akhirnya membantu Steiven untuk membawa kotak-kotak yang menyebalkan, dan Steiven mau tidak mau akhirnya menerima bantuan dari Akhtar. Sedangkan Aqilla dan Alfa! Mereka tersenyum sendiri melihat tingkah dari dua pria itu.

__ADS_1


__ADS_2