
Melihat tubuh orang yang baru ia temukan, setelah beberapa tahun lamanya mereka tidak bertemu. Kini, tubuh itu sedang terbaring diatas tempat tidur dengan berbagai peralatan medis yang tersambung pada tubuhnya. Dalam keadaan yang belum sadarkan diri, membuat perasaan Aqilla menjadi sakit.
Aqilla yang saat itu masih ada keraguan untuk bertemu dengan Alfa, ia masih terbayang demgan kejadian dimana ia melihat Alfa sedang menghabisi nyawa seseorang. Membuat Aqilla sedikit menggalami depresi, ketakutan hingga tidak ingin berjumpa maupun bicara padanya.
Saat ini, ia baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya, membuat Aqilla menjadi semakin dilema. Mengetahui, orang-orang yang berada disekitarnya dan juga orang yang ia cintai. Merupakan seorang yang berkecimpung dalam gelapnya dunia bawah, bahkan menjadi pemimpin dalam kelompok tersebut.
Dengan penuh keberanian, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Untuk menerima kembali semuanya, baik dan buruknya. Memberikan kesempatan untuk mereka agar bisa bahagia bersama.
" Kakek, Ini Aqilla kek! " Aqilla memegang tangan Alfa dengan sangat perlahan.
" Kenapa kakek belum bangun juga, Aqilla rindu kek. Maafin Qilla, Qilla sudah membuat kakek sedih atas sikap Qilla yang nggak mau bicara dan bertemu kakek." Air mata sudah tak tertahankan lagi, menetes dengan banyaknya disudut mata.
Disaat itu juga, kehadiran Haykal dan Steiven menjadi tanda tanya bagi Aqilla.
" Haykal, Kak Steiv! Bagaimana keadaan kalian? " Aqilla mengalihkan pandangannya.
" Kakak! Haykal nggak apa-apa kok. Kakak gimana? " tanya Haykal dan berjalan menghampiri diri Aqilla, ia masih merasakan khawatir padanya.
" Kakak sudah sehat Kal, Kak Steiv? " Pandangan Aqilla beralih pada Steiven.
Baru saja hendak menghampiri Aqilla, tubuh Steiven sudah dihadang dengan lengan kekar milik Akhtar.
" Hei, menyingkirlah!!!." suara Steiven sedikit meninggi.
__ADS_1
" Mau apa kau, hah!." Balas Akhtar kepada Steiven.
" Kau yang mau apa, hah! Dia adikku, apa hakmu melarangnya!!."
" Dia ini wanitaku, calon istriku, calon Ibu dari anak-anakku. Masih mau menyangkal kau!!!."
Terjadilah perperangan mulut yang tak bisa dihindarkan, Robert melihat hal itu hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Sedangkan Haykal! Dia sudah sangat gatal untuk memukul kedua pria itu.
" Mas, kak Steiv. Ini rumah sakit, nggak baik berisik disini. Apalagi keadaan kakek sedang tidak baik, kenapa kalian jadinya bertengkar nggak jelas kayak gini si! Malu sama umur!!! " Aqilla melerai kedua pria tersebut.
Namun, kedua pria tersebut masih saling menatap dengan tatapan yang seakan-akan saling berbicara.
" Ya ampun, katanya pemimpin dunia bawah. Tapi sikapnya seperti anak TK yang sedang memperebutkan permen, nggak banget!." Aqilla menggeraskan suaranya, hingga mereka yang berada disana menjadi kaget, apalagi Steiven.
" Eiits!!! Bilang apa tadi? dunia bawah? darimana kamu bisa mengatakan hal itu?." Steiven sangat merasa heran, darimana Aqilla bisa mengatakan hal itu.
" Aakkhhh!!!." Teriak Steiven sembari menggelus kepalanya dan melotot kepada Akhtar.
Tangan Akhtar telah mendarat mulus, tepat mengenai puncak kepala dari Steiven. Hingga ia berteriak, merasakan sakit di kepalanya.
" Aqilla sudah tau bego', lu kemana aja! Dasar kakak tidak perhatian, apa pantas disebut kakak, hah!!!." Seringai Akhtar.
Steiven sangat kaget dan terkejut dengan penjelasan dari Akhtar, ia pun menyakinkan lagi kepada Aqilla.
__ADS_1
" Apa, apa itu benar Qilla? Darimana kamu tau hal itu? ". Steiven sudah berlutut dihadapan Aqilla dan menatapnya penuh dengan tanya.
" Hem, iya kak! Qilla sudah tau akan hal itu, Kak Steiv, kakek maupun Akhtar. Kalian semua adalah seorang pemimpin dari sebuah kelompok tertentu di dunia bawah, Qilla nggak nyangka punya keluarga seperti ini, kayak di film-film action. Tapi ini versi nyatanya, buat perasaan dan jiwa Qilla naik turun kayak roller coaster." Jelas Aqilla dihadapan Steiven.
" Jadi, jadi kamu nggak papa dengan ini semua?". Raut wajah Steiven semakin cemas.
Aqilla tersenyum dan ia melirik ke arah Akhtar, ia pun mendapatkan senyuman balasan darinya. Lalu ia menggerakkan pandangannya untuk melihat Alfa, menatapnya dengan tatapan sendu dan perlahat sudut matanya meneteskan air mata. Hal itu terlihat oleh Akhtar dan Steiven, kedua pria itu segera menenangkan Aqilla. Akhtar memegang bahu dan mengelusnya perlahan dan untuk Steiven. Ia menepuk punggung tangan Aqilla dan menghapus air mata disudut mata dengan ibu jari tangannya.
" Awalnya, ini sangat berat untuk Qilla terima. Kalian adalah orang yang saat ini Qilla punya, tapi. Qilla tidak ingin egois, Qilla juamga sangat berterima kasih atas semuanya, benar kata mas Akhtar. Kalian pasti mempunyai alasan tersendiri untuk menjalani pekerjaan itu, Qilla berharap. Suatu saat, pekerjaan ini tidak lagi dijalankan. Qilla takut untuk kehilangan kalian!!!." Tanggis Aqilla menjadi semakin pecah, Akhtar segera merangkul pundaknya dari arah belakang.
" Sssttt, jangan menanggis!!!." Akhtar menenangkan Aqilla.
Suasana didalam ruangan tersebut menjadi hening, membuat jiwa Haykal dengan keusilannya bergejolak.
" Aaiisshh!!! Bakalan ada pesta janur kuning melengkung ini! Benar nggak paman Robert! " Haykal memicingkan matanya pada Robert, meminta dukungan.
Robert yang saat itu mengetahui maksud dari kode rahasia mata Haykal, ikut larut dalam keusilannya.
" Ya nggak tau, itukan menurutmu. Tidak menurut paman, bukan!." Jawab Robert menaikan satu alisnya ke atas.
" Iiiss paman, sungguh tidak mendukung." Protes Haykal yang kalah telak.
" HAYKAL !!!." teriakan Aqilla, Steiven dan Akhtar secara bersamaan.
__ADS_1
Haykal pun mendengus kesal, tidak ada satupun yang mendukungnya. Disaat itu pula, mata Haykal menangkap pergerakkan pada tangan sang kakek.
" Kakek !!!."