Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 119


__ADS_3

Dilain tempat, bangunan yang sama dimana Joana meregang nyawa. Tubuh Kenzi sudah babak belur karena siksaan dari bawahan Alfa.


" Hei kalian! Lepaskan, apa telinga kalian tuli, hah!" teriak Kenzi dengan sangat kuat.


Para bawahan Alfa yang berada disana, hanya diam dan tidak menanggapi satu katapun pada Kenzi. Bagi mereka, teriakan itu sudah menjadi hal biasa yang mereka dengar.


Disaat bersamaan, kehadiran Steiven disana mengejutkan semua para penggawal. Mereka langsung berdiri semua dan memberi hormat untuknya, lalu ia berjalan memasuki ruang dimana Kenzi berada.


Diantara para penggawal tersebut, ada salah satu dari mereka melaporkan kehadiran dari Steiven disana kepada Robert.


" Tuan muda Steiven berada disini! Bos." Lapor penggawal tersebut.


" Awasi saja, jika terlihat tidak kondusif. Habiskan saja langsung." Titah Robert kepada penggawal.


" Baik tuan." jawab dari penggawal tersebut, lalu ia kembali mengawasi keberadaan Steiven.


Steiven berjalan mendekati Kenzi, dengan tatapan tajamnya.


" Tidak kakak, tidak adik. Kalian sama-sama breng***ek! Salah apa adikku, hingga kalian hampir membunuhnya, hah!!!". Steiven sudah sangat diliputi dengan amarah dan dendam.


Tangan Steiven mencengkram leher Kenzi dengan sangat kuat, hingga terlihat perubahan pada wajahnya yang seperti kehabisan oksigen.

__ADS_1


" Akh!!" teriak Kenzi atas perlakuan Steiven padanya. Ia tidak bisa memberikan perlawanan, dalam keadaan kaki dan tangan yang terikat.


" Kau ini lebih pantas untuk dilenyapkan!!. Mengandalkan keahlian dalam menembak saja, tidak akan bisa bertahan lama bro. Jika keahlianmu dalam menembak bisa melenyapkan nyawa orang lain. Maka, cara itu yang akan menghantarkanmu menuju peristirahatan terakhir." Tanpa menunggu waktu lagi, Steiven menggambil senjata yang dimiliki oleh para penggawalnya disana.


Dor...


" Ini untuk kesalahan kakakmu, yang hampir membuat nyawa adikku dalam bahaya." tembakan pertama tepat mengenai dada sebelah kiri Kenzi.


Dor...


" Ini untuk kerjasamamu dengan wanita gila itu. Sama-sama breng***ek kalian!!!" Tembakan kedua, mengenai dada sebelah kanan Kenzi.


Dor...


Dan saat itu juga, Kenzi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Para penggawal tidak mencegah perbuatan yang dilakukan Steiven, mereka juga memberikan siaran langsung kepada Robert atas perbuatan Kenzi.


Setelah melenyapkan Kenzi, Steiven menyeringai kepada tubuh kenzi yang sudah tidak bernyawa itu.


" Dasar tikus kecil, kembalilah ke habitat kalian yang sesungguhnya. Kalian, bereskan tubuh manusia breng***ek ini." Steiven pun berlalu meninggalkan bangunan tersebut, dan menyerahkan kepada semua bawahannya disana untuk membereskan kekacaun itu.


......................

__ADS_1


Untuk memenuhi keinginan Aqilla, Akhtar kini membawanya untuk menemui Alfa. Dimana sebelumnya, Robert menyampaikan tentang kondisi yang saat ini Alfa alami.


Melihat wajah sendu dari wanita yang sangat ia cintai, Akhtar perlahan mencoba memberikan pemahaman kepada Aqilla.


" Sayang, tidak ada satupun orang orangtua di dunia ini menginginkan anak atau keluarganya dalam bahaya. Mereka akan melakukan apapun untuk memberikan keamanan, demi keselamatannya. Bahkan, nyawanya sendiri dengan sukarela mereka berikan." Akhtar menepuk perlahan bahu Aqilla yang sedang duduk di kursi roda.


Memahami satu persatu kalimat yang Akhtar ucapkan, membuat Aqilla cukup untuk merenung.


" Sudah siap, Sayang! Kita jalan sekarang ya." Akhtar mulai mendorong kursi roda yang akan membawa Aqilla untuk bertemu sang kakek.


Selama diperjalan menuju ruang perawatan Alfa, Akhtar terus berusaha menyakinkan Aqilla. Dan kini, mereka sudah berada didepan pintu masuk. Lalu Akhtar berjongkok, menggenggam tangan Aqilla perlahan.


" Katakanlah apa yang ada dalam hatimu, jujur itu menyakitkan tapi setelahnya kebahagian yang akan menghampiri." Akhtar melepaskan tangannya, melanjutkan mendorong kursi roda tersebut memasuki ruangan.


Saat hendak meninggalkan Aqilla sendiri, dengan maksud agar bisa berbicara dari hati ke hati bersama Alfa. Namun tangannya kembali di genggam dengan sangat erat oleh Aqilla, Akhtar pun menoleh untuk menatapnya.


" Mas, temanin ya.!." Raut wajah Aqilla dengan penuh harapan.


Melihat hal itu, Akhtar pun mengiyakan permintaan Aqilla untuk menemaninya. Mendekatkan Aqilla untuk berada disamping Alfa, memberikan sedikit ruang kepada mereka untuk berbicara.


" Mas tunggu disana, bicaralah!." Akhtar mengarahkan jarinya ke tempat duduk yang ada disana. Aqilla pun menganggukan kepalanya.

__ADS_1


......................


__ADS_2