
Di tengah perjalanan, Akhtar menghubungi Evan dan mengatakan keadaan Aqilla saat itu serta untuk mempersiapkan pertolongan.
" Hallo Van, kamu tunggu disana. Ini sudah dalam perjalanan." sambungan telfon terputus.
Fokus mengendarai mobil, Akhtar ingin segera sampai dirumah sakit. Melewati beberapa kendaraan dan mendapatkan umpatan serta makian dari pengendara yang lain, Akhtar tidak perduli. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Terlihat Evan sudah menunggu, dan bersiap.
Setelah mobil berhenti, Akhtar segera membuka pintu mobilnya dan berlari menuju pintu bagian lainnya dimana Aqilla berada. Evan dengan cepat mengikuti langkah Akhtar, lalu mereka meletakkan Aqilla pada bed rumah sakit. Evan mendorong bed tersebut dengan cepat menuju ruang tindakan, beberapa perawat menahan Akhtar untuk tidak ikut masuk.
" Akh!! Apa yang sudah kau lakukan Joana, jika terjadi sesuatu pada Aqilla. Takkan kubiarkan kau bisa bernafas dengan tenang!!." Menghempaskan tubuhnya untuk duduk pada kursi di ruang tunggu, membuat Akhtar diliputi rasa cemas yang teramat sangat besar.
Tak berapa lama kemudian, tiga serangkai datang dengan nafas memburu.
" Hosh hosh, ba bagai bagaimana nona bos?" tanya Leo dengan nafas yang sepotong-sepotong.
Adam dan Jason menyaksikan saja dan menunggu jawaban dari bosnya, melihat wajah Akhtar yang tanpa ekpresi. Membuat mereka memilih diam merupakan jalan yang terbaik.
" Bos!!!." Leo dengan tengilnya.
Tanpa berpikir panjang, Jason dan Adam langsung menutup mulut Leo dengan telapak tangan dan membawanya untuk sedikit menjauh dari bosnya.
Pllaakkk!!!
Tttaaaakk!!!
Jason dan Adam dengan sangat senang mendeplak dan menjitak kepala Leo, hingga membuat orangnya meringgis kesakitan.
" Aaauuwww, sakit woi!! Kenapa kalian ini, enak saja main pukul dan deplak kepala gua. " Leo memprotes perlakuan dari Jason dan Adam kepadanya.
__ADS_1
" Mulut lu ya, nggak pernah berubah! " Jason merasa sangat geram pada Leo.
" Apaan sih! Emangnya kenapa mulut gue? Ada yang salah??." Leo menatap wajah Jason dan Adam satu persatu.
" Ada !!!." Jawab Jason dan Adam bersamaan.
" Widiw!!! Kompak bener jawabnya." Mulut Leo masih dengan lemesnya.
" Lama-lama, gue iris juga mulut lu. Bisa paham dengan sikon nggak si lu? Bos lagi pusing dan khawatir, lu asal nyeblak aja ngomong. Biarin bos tenang dulu, dan tahan pertanyaan bodoh lu itu." Jason melotot dengan mata yang kecil.
" Iya, iya maaf. Gue kan cuma nanya, biasa aja kali." Leo masih membela diri.
" Aaiiiss Kau ini !!!." Jason sudah mengayunkan tangannya untuk mendaratkan di kepala Leo.
" Sudah-sudah. Nggak kasian apa lu pada sama bos, ribut aja kayak anak kecil rebutan permen. Lebih baik nemenin bos daripada ribut nggak jelas, ayo!!!." Adam menetralkan keadaan.
Tap
Tap
Tap
Alfa datang dengan berlarian kecil, melihat Akhtar dan teman-temannya berada di ruang tunggu.
" Bagaimana??" Tanya Alfa pada mereka.
" Dokternya belum keluar?" Jawab Leo seadanya.
__ADS_1
Alfa semakin dibuat khawatir, tatkala dokter yang memeriksa Aqilla belum memberikan penjelasan. Hingga Robert datang menghampiri!.
" Tuan."
" Hem, bagaimana Haykal?." Tanya Alfa pada Robert.
" Tuan muda saat ini sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, tidak ada luka serius padanya." jawab Robert.
" Baiklah, jangan lupa kau pantau terus si ceroboh itu. Sungguh membuatku ingin melenyapkannya saja, biarkan di tetap disana. Dan jangan biarkan dia membuat ulah lagi! " Tegas Alfa pada Robert.
Alfa sangat marah pada Steiven, akibat dari kecerobohannya dalam mengabaikan perintah darinya. Hingga membuat orang lain menjadi korbannya, menempatkan penggawal baru yang tidak tau asal usulnya untuk menjaga keamanan inti mansion. Tanpa bertanya dan menggambil keputusan sendiri, yang akhirnya orang tersebut adalah penyusup yang dikirimkan oleh Kenzi untuk mempermudahkan mereka memasuki mansion Alfa.
Klek!!!
Pintu ruangan tindakan terbuka, dua orang dokter keluar dari sana dan berjalan menghampiri keberadaan dari mereka.
" Van, gimana keadaan Aqilla?" Akhtar yang sudah tidak sabar untuk mendengar kondisi dari orang yang ia cintai.
Evan hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala, dan akhirnya dokter satunya membantu menjelaskan.
" Pasien bernama Aqilla, saat ini dalam kondisi yang sangat kritis. Untuk fisik, semuanya aman terkendali, tidak ada luka yang serius. Namun, ini menyangkut kondisi organ vital dalam tubuhnya. Setelah kami periksa, terdapat cairan toksin atau racun yang bersifat keras dan mematikan didalam aliran darahnya. Sepertinya ada yang menyuntikan sesuatu. Untuk itu kita semua harus segera mendapatkan penawar dari racun tersebut, Jika tidak, nyawa pasien sangat dalam bahaya. "
Penjelasan dari dokter tersebut, sontak saja membuat mereka yang berada disana menjadi shock. Bahkan Akhtar sudah terhempas jatuh, mendarat pada lantai.
Dengan sangat mengejutkan, Alfa tiba-tiba merasakan sakit pada dadanya. Nafasnya yang memburu, membuatnya jatuh dan tidak sadarkan diri.
......................
__ADS_1