
Aqilla kini sudah berada diruangan perawatan terbaik yang diberikan oleh sang kekasih, untuk yang menjaganya. Selalu saja terjadi keributan, apalagi Akhtar yang tidak mau menggalah sedikit pun.
" Kalian tidak usah menggatur dan ribut, saya yang akan menjaganya. " Dengan santainya ia menggeluarkan perintah.
" Enak saja, saya juga mau menjaganya tuan. Jangan egois jadi orang." Meyra tidak mau kalah.
" Kalian orang dewasa, selalu saja membuat kegaduhan. Kalau kalian terus seperti ini, lebih baik kak Qilla aku bawa pulang saja. " Haykal geram.
" JANGAN!!!." selalu saja mereka bersamaan menjawab dalam menghentikan suatu.
" Gue bunuh lu Kal, cukup satu kali gue babak belur oleh kakak ipar lu. Kali ini, tidak akan terjadi untuk kedua kalinya." Evan menunjukkan kepalan tangannya kepada Haykal.
" Kakak ipar? Siapa??" Haykal dengan kepolosan yang disengaja.
Merasakan ketegangan didalam ruangan itu, Jason, Leo maupun Adam hanya menyaksikannya dalam diam.
" Leo, Adam, keluar!!" Mereka hanya menurut ajakan Jason.
" Aih, tak kusangka si bos bisa kayak gitu ya. Biasanya wajah angkuhnya yang tingat dewa itu akan nampak, tapi kali ini. Seperti ABG yang labil." Leo bercerita.
" Jatuh cinta, berjuta rasanya. Seisi dunia terasa milik berdua dan e*ek kucing aja bisa jadi cokelat rasanya, sungguh dunia sudah terbalik ini." Adam tak kalah kocaknya.
" Tau aja lu Dam, rasa e*ek kucing itu kayak cokelat. Udah pernah nyoba ya lu, wah wah wah. War bia za lu Dam !!!." Leo sangat senang melihat ekpresi wajah Adam yang memerah.
__ADS_1
" Sialan lu, gue kepret. Mampus lu!!!." Adam melotot.
" Sudah-sudah. Kalian ini, asal nyeplos saja. Mau jadi dendeng kalian, Hah?" Jason menatap tajam ke arah mereka berdua.
" Ce ile, ni pembokat si bos. Sok-sok an lu belain bos, tapi berikutnya lu juga yang membuat berita up to date. Dasar penyebar gosip lu!" Leo kembali menyerang Jason.
Ketiga pria itu saling melempar guyonan satu sama lain, mereka lebih baik berada di luar. Dari pada di dalam sana, menjadi penonton dari orang-orang yang tidak mau menggalah. Terlebih lagi bos mereka, lagi di mabuk asmara. Kena senggol sedikit, di hajar habis-habisan.
" Qilla... Bagun dong, nggak kasian apa sama aku. Berada di antara pria-pria yang sangat menyebalkan, hayo bangunlah." Meyra menyapu pipi Qilla dengan lembut.
" Kamu bisa jauhan dikit nggak dari sana? " teriak Akhtar.
" Memangnya kenapa? Qilla aja nggak marah, tuan malah sewot. Weeekkk!!" Mey menjulurkan lidahnya, mengejek Akhtar.
" Huh, dasar wanita aneh. Kenapa juga lu di ciptain sih!" Akhtar ngedumel.
" Benar juga, kasihan sayang gue harus berteman dengannya." Akhtar juga tak mau kalah dengan Haykal.
" Kalian berdua, ngeselin banget tau nggak. Gue bejek-bejek jadi perkedel, baru tau rasa kalian." Meyra menggeraskan suaranya karen merasa jengkel dengan ulah Akhtar dan Haykal.
Sedangkan kedua pria itu hanya tertawa dengan ekpresi Meyra.
" Ka kalian berisik sekali!." Terdengar suara berat dari atas tempat tidur.
__ADS_1
" Sayang!!!"
" Qilla!!!."
" Kakak!!!."
Mereka sangat senang sekali, melihat Aqilla sudah sadar.
" Sayang, kamu sudah sadar. Apa adanyang sakit? Mau apa? minum, makan atau apa sayang?." Akhtar bertanya dengan sangat antusias sekali.
" Iya Qilla, duh senangnya diriku Qill." Meyra menggelus pundak tangann Aqilla.
" Kak, kakak masih ingat kan dengan adik kakak yang ganteng serta tampan ini?." Haykal menyosor dengan pertanyaan yang sungguh luar biasa.
" Kau ini, pertanyaan macam apa itu? Adik tidak tau diri kau!." Meyra mencibir Haykal.
" Ye, mulut mulut Haykal. Kenapa kakak yang sewot sih." Haykal membela diri.
Terjadi perdebatan diantara Meyra dan Haykal, kira-kira. Siapakah yang akan memenangkan adu debat itu? Hanya Author yang tau, hehehe.
" Abaikan saja mereka, sayang. Apa ada yang sakit?" Akhtar memandangi wajah Aqilla.
" Hem." Aqilla menjawabnya dengan suara seperti itu, memang nyatanya rasa sakit masih memenuhi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
" Istirahat lagi aja ya, Evan nanti saja periksanya." Aqilla pun menuruti perkataan Akhtar, dan ia pun tertidur lagi.
Terima kasih Ya Allah, Engkau mendengkarkan doa kami. Batin Akhtar.