
Rumah sakit diramaikan dengan kedatangan keluarga Wijaya, Beni dan papanya segera mendapatkan tindakan dari medis.
Amirah dan Akhtar menunggu di luar ruangan tindakan, dengan tubuh yang bergetar, dan wajah yang sudah basah oleh air mata.
" Nak, ma maafkan kami. Jangan hukum kami dengan kebencianmu, papamu tidak bersalah nak. Maafkan kami." Suara Amirah terdengar lirih.
Pandangan kosong, entah apa yang ada dipikiran Akhtar saat itu. Ia tidak menanggapi apa yang dikatakan Amirah, hanya lamunan kosong yang ia rasakan.
Tiba-tiba, Amirah bertekuk lutut di hadapan Akhtar.
" Maafkan papa dan mama nak, kami tidak ingin ini semuanya terjadi. Rasa takut papamu sangat besar, ia tidak ingin kehilanganmu. Jangan membencinya nak." Amirah menggenggam tangan Akhtar dengan sangat erat.
" Sudahlah ma, jangan seperti ini." Akhtar sangat terkejut melihat mamanya seperti itu, lalu ia memapah Amirah untuk duduk kembali disampingnya.
" Ma, sekeji apapun yang papa berikan sama Akhtar. Seburuk apapun papa, tidak akan membuat Akhtar membenci ataupun menghakiminya, berikan Akhtar waktu ma." Akhtar membalas genggaman tangan Amirah.
" Terima kasih, sayang." Menatap wajah anak yang selama ini mendapatkan kebencian dari suaminya dengan penuh haru.
Tak lama kemudian, datanglah Cila dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
" Ma!". Sapa Cila.
__ADS_1
Amirah segera memeluk Cila dengan erat, dan Cila pun membalas pelukannya. Cila menatap Akhtar dengan tatapan meminta penjelasan, namun Akhtar membalasnya dengan isyarat untuk menenangkan mamanya dulu.
Klek!
Pintu ruangan tindakan terbuka, seorang dokter keluar dari sana dan segera menghampiri mereka.
" Bagaimana keadaan papa, dok?" Tanya Akhtar dengan wajah yang khawatir.
Dokter tersebut menatap wajah semua yang berada disana, tatapan itu membuat pihak keluarga menjadi cemas. Lalu ia membuka masker penutup wajahnya, dan menghembuskan nafasnya secara cepat.
" Maafkan kami! Tuan Wijaya, sudah tidak bisa terselamatkan. Beliau terkena serangan jantung!!." Dokter tersebut menjelaskan penyebabnya.
" TIDAK!! Tidak mungkin, suamiku masih hidup. Dia masih hidup, Cila. Papa masih hidup kan nak, benarkan kata mama. " Amirah menatap mata Cila, seakan meminta dukungan.
" Akhtar, jawab mama nak. Papa masih hidup kan, JAWAB!!!."
Akhtar menatap wajah Amirah dengan tatapan tajam, tidak bisa dipungkiri. Akhtar pun merasakan keterkejutan yang sama dengan mamanya, lalu ia memeluk tubuh Amirah dengan perlahan.
" Ma, ikhlaskan papa.!."
" Tidak, tidak nak. Papamu masih hidup, papa masih hidup. " Tanggisan Amirah semakin pecah dan ia berusaha memberontak dari pelukkan Akhtar.
__ADS_1
Cila yang melihat tubuh Amirah yang akan jatuh, dengan cepat menyambutnya, Amirah jatuh pingsan!
" Bawa mama ke dalam." Cila berkata pada Akhtar. Dengan segera, Akhtar menggendong tubuh Amirah untuk segera mendapatkan pertolongan.
......................
Mansion Alfa...
" Mey, aku takut terjadi apa-apa pada Akhtar. Kenapa Kakek bersikap seperti itu?". Aqilla merasa khawatir.
" Tenang Qilla, jangan berpikiran yang tidak-tidak. "
Aqilla merasa cemas dengan Akhtar, ia mencoba menghubunginya melalui ponsel. Tapi tidak ada satupun yang mendapat tanggapan dari Akhtar, hal itu semakin membuatnya menjadi khawatir.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sikap kakek berubah setelah melihat Akhtar?" Aqilla bergelayut dalam pemikirannya sendiri.
Meyra melihat sahabatnya itu seperti sedang gundah, ingin rasanya ia membantu meringankan hal itu. Setelah Aqilla merasa baikan, Meyra lalu berpamitan untuk pulang.
" Qilla, aku pulang dulu ya. Besok-besok, nanti aku main kesini lagi. Jangan terlalu dipikirin, jika kondisi dan situasi kakekmu membaik. Cobalah untuk menanyakannya ."
Aqilla hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk sahabatnya itu, setelah kepulangan Meyra. Aqillaa masih terus mencoba menghubungi Akhtar, namun hasilnya sama saja.
__ADS_1
Kemana kamu mas, Ada apa ini? Apa yang telah kakek bicaraka padamu? Aqilla.